Sevilla99 – www.sevilla99.wordpress.com

Tentang Papa,Mama dan Vincenzo Girsano Wong Tomarere Serta Semua Yang Terjadi Di Sekitar Kami

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘GKPS’

Keanekaragaman Keyakinan di Simalungun

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Januari 6, 2009

Jauh sebelum saya masuk menjadi bagian dari Simalungun dan bahkan kemudian mempunyai marga Simalungun maka saya hanya tahu bahwa Simalungun adalah Batak juga hehehe…dan karena masuk bagian dari Batak maka Simalungun adalah Kristen karena Batak (dalam hal ini Toba) adalah identik dengan Kristen.

Namun seiring waktu dan semakin banyak mengenal tiap personal orang Simalungun maka makin banyak juga saya temukan bahwa Orang Simalungun bukan hanya Kristen Protestan yang dlm hal ini berafiliasi ke GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) yang dalam hal ini sebagai Gereja Suku dari Suku Simalungun.

Saya juga akhirnya tahu bahwa ternyata di Simalungun ada komunitas umat Katholik di sekitaran Haranggaol-Hinalang dan mungkin pada beberapa tempat di Simalungun jd ternyata tidak semua adalah jemaat GKPS rupanya.

Saya juga tahu setelah berbagai hunting informasi tentang Simalungun bahwa ada komunitas Islam yang besar di Simalungun terutama di daerah yang bersentuhan dengan suku Melayu bahkan bisa dikatakan Kerajaan Islam di Simalungun semenjak Raja Damanik berpindah dari agama Pagan ke Islam.

Perkenalan saya dengan Muhar Omtatok Saragih makin mengenalkan saya bahwa Simalungun bukanlah sama dengan GKPS namun Simalungun adalah suatu Suku di Sumatra Timur dengan keyakinan yang berbeda dan saling menghormati diantara mereka.

Saya tidak pernah bertemu langsung atau sekedar smsan pun ga pernah karena tidak tahu no.hpnya bahkan email saya pun ga dibalas (hahaha ga mantap lawei kita ini) namun dari beberapa artikel yang beliau tulis pada blog beliau pada alamat http://halibitonganomtatok.wordpress.com/ dan juga aktif pada forum Spiritual Batak (Simalungun) di Forum Kaskus juga sebagai Redaksi pada Majalah Budaya Simalungun “Sauhur” lalu begitu aktifnya beliau dalam berbagai kegiatan Simalungun lalu membuat saya menjadi merubah pandangan saya sebelumnya bahwa Simalungun yang Muslim selalu menghindari dan kemudian melupakan adat dan budaya Simalungun bahkan kadangkala tidak mau memakai marga mereka namun perkenalan lewat Internet dengan Lawei Muhar Omtatok Saragih ini setidaknya merubah banyak pandangan tersebut.

Lalu saya ceritakan pada Indah tentang “sepak terjang” Lawei Muhar Omtatok Saragih ini bahwa ia sangat aktif dalam kesenian dan aktivitas budaya Simalungun.Indah pun berkomentar bahwa sesungguhnya Orang Simalungun Muslim malah lebih rajin bekerja tanpa banyak bicara atau pun sekedar berteori,mereka hanya bekerja dan bekerja namun kadang kala tidak hiraukan atau diajak oleh saudara-saudara mereka yang Kristen untuk berpartisipasi namun aslinya asal diajak pasti mereka mau dan bekerja.

Indah lalu mengambil contoh dengan kejadian yang baru terjadi dalam keluarga besar saya Ratumanan di mana ternyata di dalam keluarga besar kami adalah 5 keluarga yang Muslim namun ternyata perbedaan keyakinan bukanlah masalah bagi mereka yang muslim dan mereka pun mengundang agar arisan perdana Keluarga Besar Ratumanan di Sorong untuk dilaksanakan di rumah Bpk.Joko sebagai suami dari sepupu saya Ida Koraag yang muslim sebagai bukti keseriusan mereka untuk bisa bergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Ratumanan yang memang umumnya Kristen.

Lalu sekitar 50 meter dari rumah saya terdapat keluarga tulang Indah yaitu Keluarga Saragih Garingging yang juga seorang Muslim,sayangnya tulang tsb sudah almarhum.Namun dari cerita yang saya dengar mengenai tulang Saragih itu semasa hidup ia adalah seorang yang mau bergaul dengan saudara-saudaranya sesama perantauan Simalungun di Sorong walaupun berbeda keyakinan karena umumnya perantauan Simalungun di Sorong adalah umat Kristen,sikap mau bergaul inilah yang membuat beliau disegani dikalangan perantauan Simalungun di Sorong hingga akhir hayatnya dan dikebumikan di Sorong dengan pelayat yang lumayan banyak dari umat Islam maupun Kristen.

Ternyata Keanekaragaman Keyakinan dikalangan Orang Simalungun bukanlah sesuatu yang jelek namun adalah sesuatu yang Indah dan Mendamaikan asalkan kita mau menerima perbedaan itu dengan lapang dada.

Ini adalah pendapat saya pribadi dan saya mohon maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung dengan postingan saya ini..Diatei Tupa Ma

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , , , , | 1 Komentar »

Mengapa Penginjilan di Simalungun Tidak Terlalu Sukses

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Agustus 30, 2008

Mengapa Penginjilan yang dilakukan oleh Para Zending dari Jerman dahulu di tanah Simalungun tidak seberhasil dengan kesuksesan yang diraih mereka di Tapanuli?

Penyebab utamanya karena para Zending tersebut dipengaruhi oleh tarombo Tapanuli yang selalu menaruh suku Simalungun,Karo,Pakpak,Mandailing,Angkola dan bahkan Nias sebagai hasil diaspora dari Tapanuli yang mana membuat Para Zending selalu menyebarkan injil di dalam masyarakat Simalungun bukan memakai bahasa Simalungun namun memakai bahasa Toba.

Masyarakat Simalungun merasa kecewa dengan Para Zending yang seakan-akan tidak menghargai budaya dan bahasa Simalungun sebagai salah satu budaya yang berdiri sendiri dan mandiri bebas dari pengaruh Toba.

Bagaimana masyarakat Simalungun bisa mengerti injil dan khotbah yang diucapkan oleh Para Zending menggunakan bahasa Toba?walaupun sekilas sama namun tetap ada beberapa kosa kata yang berbeda dan bahkan ada kosa kata yang sama namun artinya berbeda.Selain itu secara psikologis orang Simalungun merasa dilecehkan oleh Para Zending karena tidak mau mempelajari budaya,adat dan bahasa Simalungun namun selalu menyamakan orang Simalungun layaknya orang Toba.

Selain itu di Simalungun bawah proses penginjilan juga ditentang oleh Raja Siantar marga Damanik yang telah menjadi muslim dan ingin agar semua rakyatnya sama seperti dirinya yang merupakan seorang Muslim.Proses Islamisasi yang lebih dekat ke adat Simalungun karena menghargai adat dan budaya Simalungun membuat ketertarikan masyarakat Simalungun bawah lebih mudah masuk Islam ketimbang ajaran Kasih yang dibawa oleh para penginjil Jerman tsb.

Syukurlah Simalungun mempunyai seorang Pendeta yang berkharisma dan perhatian pada budaya asli mereka sendiri yaitu Pdt.J.Wismar.saragih Sumbayak.Pada saat ia masih hidup,ia sukses memisahkan GKPS dari HKBP dan menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Simalungun,hal ini disambut dengan positif masyarakat Simalungun dengan banyaknya yang berpindah dari agama suku ke Kristen sehingga membuat GKPS benar2 berfungsi sebagai lembaga penginjilan,pembinaan iman dan sekaligus pelindung bahasa Simalungun dari serangan Tobanisasi yang melanda Simalungun.

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , , , , | 3 Komentar »