Apakah Toba dan Simalungun itu sama saja?
Jika kita tanyakan pada yg ga minat ama masalah budaya dan sejarah maka akan mengatakan “Ya..sama saja,cuma berbeda nama saja..namun sama-sama adalah BATAK”,namun jika hal ini kita lontarkan pada beberapa orang Simalungun yang peduli pada budaya mereka maka jawaban berbeda yang akan kita temui bahkan jika yang terkesan extrim akan menjawab bahwa Simalungun bukanlah Batak namun etnis yang mandiri dan berdiri sendiri karena mempunyai budaya,bahasa dan adat yang sendiri.
Sikap dan Sifat Dominan atas etnis lain yang di miliki oleh Suku Toba sehingga mereka kadang terkesan tidak mau tahu dengan budaya suku lain yang ada di sekitar mereka..Ada pengalaman saya ketika mengikuti arisan Toga Simamora,seorang inang bertanya pada saya bahwa apa marga saya?lalu saya menjawab bahwa saya dimargakan ke Girsang,lalu dia dengan kening yang mengkerut lalu bertanya lagi : Girsang?marga apa itu?orang batak kah itu? kini giliran saya yang bingung dengan pertanyaan inang Silaban ini,lalu saya menjawab bahwa Girsang cabang dari Purba Simalungun,ia lalu menjawab : wah saya blm pernah dengar marga itu baik di kampung sana maupun di sini (Sorong-Papua Barat)…lalu saya coba ambil kesimpulan bahwa ternyata marga-marga Simalungun semisalnya Girsang,Tondang,Siboro,Tanjung,Tambak,Dasuha,Sumbayak,Garingging,Djawak,Dasalak mungkin kurang dikenal oleh saudara-saudara kita yang dari Toba ini.
Saya bukan mencoba untuk selalu membedakan antara Simalungun dengan Toba,mmg jika kita berbeda mending lebih baik disamakan aja agar bisa mengurangi perbedaan,namun apa jadinya jika kita menyamakan namun pada tahap persamaan itu malah budaya Toba yang menjadi prioritas dan budaya Simalungun yang tersingkir?ini tentulah tidak benar dan lama-lama akan mengikis hilang budaya Simalungun yang luhur…Memang benar ada yang bilang jika kita ke kandang kambing maka mengembiklah kita dan jika kita ke kandang anjing maka menggonggonglah kita namun khan tidak serta merta menghilangkan identitas kita..
Semalam saya chat dengan kenalan di tangerang marga Sitompul,pada awalnya ia menyapa saya dengan baik yaitu : Horas Lae Girsang,saya suka karena ternyata lae Sitompul ini setidaknya sudah mendingan daripada inang Silaban yang saya temui di arisan Toga Simamora itu karena ia tahu bahwa Girsang dari Simalungun…lalu keasyikan chat tanpa sengaja saya menulis : “Lawei” untuk sebutan Lae..karena mmg biasanya chat ama sesama orang Simalungun khan saya menggunakan istilah Lawei bukan Lae jd kecoplosan,lalu saya minta maaf dengan mengatakan Mode Simalungun saya lagi : ON,ia lalu membalas dengan icon Smile sambil mengatakan bahwa Simalungun dengan Toba sama aja yaitu sama-sama batak..walaupun kurang sreg dengan jawaban itu namun saya coba buat hiraukan aja karena topik kita khan adalah masalah Parabola bukan Suku…
Diakhir chatting kami lalu ia menulis “Mauliate Lae..Met Malam” lalu saya pun menjawab ” Diatei Tupa Lawei” lalu saya menutup jendela chat YM tsb..kemudian muncul lagi pesan darinya yang bertanya “Apa pula itu lae?” saya pun hanya senyum menjawab “Itu Mauliatenya Simalungun Lawei…” lalu ia membalas “Ok-lah apa pun itu…”,
Dari sini saya temukan bahwa banyak orang Toba tidak mau tahu tentang bahasa suku lain yang di sekitar mereka,mereka selalu menekankan bahwa suku lain seperti simalungun,Karo,Pakpak,Angkola dan Mandailing adalah penyebaran dari mereka dengan dalil sejarah yang rendah bahkan kadang tidak dapat diperdebatkan.
Siapakah orang Simalungun?saya rasa yang bisa disebut dengan Orang Simalungun itu bukan hanya orang yang secara darah mengalir darah Simalungun di dalam tubuhnya namun juga menjangkau pada orang Toba,Karo bahkan Melayu yang telah lama berdiam di tanah Simalungun dan mencintai budaya Simalungun,saya ambil contoh pada keponakan saya marga Simanjorang,mmg Oppungnya berasal dari Tongging dan berpindah ke Raya,namun mereka kini telah 3 generasi di Raya dan cuma bisa berbahasa Simalungun dialek Raya bahkan mahir membuat Dayok Binatur,mereka selalu mengaku sebagai bagian Halak Simalungun,saya rasa ini wajib untuk dihormati ketimbang seorang Saragih Sumbayak misalnya namun tidak tahu budaya Simalungun sama sekali bahkan sekedar panggilan dan mengucapkan Terima Kasih dalam Bahasa Simalungun…gimana pendapat lawei?