Sevilla99 – www.sevilla99.wordpress.com

Tentang Papa,Mama dan Vincenzo Girsano Wong Tomarere Serta Semua Yang Terjadi Di Sekitar Kami

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Girsang’

Memakai Marga Ibu

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Februari 14, 2009

Ada sedikit ketakutan dalam diri papa saya alias Kong (Opa) Vinz menjelang kelahiran anak kami Vincenzo yaitu kami pakaikan anak kami dengan marga dari mamanya Vinz alias Indah yang merupakan boru Sipayung,memang tidak disampaikan langsung namun kadang kala papa saya ini bawa dalam sindiran sambil becanda dengan anjing kesayangan di rumah yang sedang bunting dengan kalimat begini : Inces…kalo anakmu lahir itu juga harus fam (marga) Tomarere,tidak boleh Sipayung ya…..

Saya dan Indah hanya tersenyum melihat tingkah papa saya atau mertuanya Indah ini karena memang dalam adat Simalungun juga tidak diperbolehkan seperti itu yaitu si anak menggunakan marga dari mamanya karena akan merusak tatanan Tolu Sahundulan yang dipegang oleh adat Simalungun.

Jadi apabila saya pun tidak memberikan marga Wong dan Tomarere bagi anak kami tsb maka setidaknya ia harus memakai marga Girsang yang telah disematkan pada saya dahulu ketika saya masuk menjadi bagian dari Simalungun dan bukanlah Sipayung.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Mau Kemana Girsang?

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Januari 28, 2009

Walaupun secara resmi diakui bahwa Girsang berasal dari Lehu-Pakpak Dairi bahkan ada mempunyai Tugu Girsang di sana namun Girsang lebih dikenal sebagai bagian dari Simalungun dan Karo yaitu Purba Girsang di Simalungun dan Tarigan Gersang di Tanah Karo.

Seiring dengan makin banyaknya keturunan dari marga  Girsang ini maka makin banyak juga pemikiran dari keturunan Girsang saat ini yang menginginkan lepas atau menanggalkan marga di depan mereka yaitu Purba di Simalungun dan Tarigan di Karo.

Diceritakan bahwa Girsang bersaudara dengan Parultop yang kemudian berhasil mengalahkan Raja Purba saat itu yang bermarga Purba Dasuha lalu Parultop diangkat menjadi Raja Purba dan bahkan diberi marga Purba dan kemudian membentuk cabang marga Purba Pakpak yang masih eksis saat ini dengan jumlah keturunan yang cukup banyak.

Girsang yang merupakan adik dari Parultop kemudian menyusul abangnya ke Simalungun dan kemudian beranak pinak di Simalungun dan salah satu keturunannya menjadi menantu dari Raja Sinaga yang berkuasa di Silimakuta.Ketika dalam tekanan lawan dan hampir kalah maka muncullah si menantu bermarga Girsang ini berhasil membunuh hingga seribu orang musuh (asal nama “saribudolok”?) sehingga sesuai janji Raja Sinaga itu untuk menyerahkan kekuasaannya di Silimakuta kepada Girsang untuk menjadi Raja Silimakuta dan Raja Sinaga tersebut kembali ke Tanah Jawa.

Makanya tidak heran jika banyak ditemukan banyak orang bermarga Girsang di Silimakuta,termasuk Kela dari Indah juga bermarga Girsang sehingga saya pun dimargakan ke marga Girsang ini sebelum menikahi gadis boru Sipayung itu.

Ketika saya dimargakan di Saribudolok itu  mmg banyak dari saudara-saudara pemilik marga Girsang itu yang berkali-kali mengingatkan pada saya bahwa saya dimargakan ke Girsang bukan ke Purba Girsang alias sekali Girsang tetaplah Girsang bukan Purba Girsang.

Pada perkembangan saat ini semakin banyak yang “mengkhianati” hubungan persaudaraan dalam Harungguan Purba Simalungun yang telah tercipta berabad-abad antara Purba Girsang dan Purba Pakpak dengan Purba Siboro,Purba Sigumonrong,Purba Tambak,Purba Dasuha,Purba Tamsar dan masih banyak Purba Simalungun yang lain.Purba Girsang dan Purba Pakpak dianggap sebagai sanina dari Purba Simalungun lainnya dalam ikatan Harungguan Purba.

Lucunya jika Girsang kini menyangkali Ke-Purba-an mereka namun Purba Pakpak tetap setia pada Harungguan Purba Simalungun,sedangkan Girsang telah mengambil langkah terlalu jauh dengan menolak menjadi bagian dari Harungguan Purba Simalungun,lalu menolak bagian dari Toga Simamora (dalam hal ini saya juga setuju) dan kemudian menyatakan bahwa Girsang adalah bagian dari Toga Sihombing yang ber-sanina dengan marga Sihombing,Nababan,Silaban dan Hutasoit…

Dengan sikap menolak,penyangkalan dan seakan-akan membalas air susu dengan air tuba kepada Harungguan Purba Simalungun nantinya malah akan menjadi bumerang bagi keturunan marga Girsang nantinya karena tentunya ada yang terluka di dalam penyangkalan Girsang kepada Harungguan Purba ini.

Perlu rasanya para petinggi,senior atau yang dituakan dalam keluarga besar Girsang perlu duduk bersama dengan para petinggi Harungguan Purba Simalungun untuk membicarakan mau kemana Girsang sekarang ditempatkan..apakah masih mau bersama-sama dalam Harungguan Purba Simalungun atau mau keluar dari Harungguan Purba Simalungun.

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , | 33 Komentar »

Ketika Yang Bukan Saudara Lebih Peduli Ketimbang Yang Saudara

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Januari 27, 2009

Mungkin Anda berpikir saya sedang bermain kata-kata di sini…ini disimak pada kalimat di atas,namun sesungguhnya bukan demikian,ini hanya ungkapan dari yang kami rasakan ketika Indah melahirkan anak kami 1 minggu lalu…

Di Sorong,saya mempunyai keluarga yang lumayan besar yaitu Keluarga Ratumanan dan cabang-cabang marganya namun sangat memprihatinkan karena setelah 1 minggu yang datang mengunjungi kami hanya 3 orang yaitu Oma Sin yang merupakan buyut dari Vinz,Tua I Anna yang merupakan Oma dari Vinz dan juga Tante Sien yang merupakan Oma dari Vinz.

Lalu kemana yang lain?wah gelap..saya gak tahu kemana mereka semua…

Indah agak kecewa atas sikap Tua I yang merupakan sodara kandung dari mama saya,dia telah dianggap oleh Indah sebagai pengganti Mama Kandung saya sebagai Ibu Mertua Indah di sini,namun menggantungkan harapan terlalu tinggi ternyata hanya membawa kekecewaan..karena semenjak Indah masuk Rumah Sakit Sele Be Solu dan kemudian masuk lagi Rumah Sakit Mutiara maka tidak pernah sekalipun Tua I datang mengunjungi kami atau setidaknya mengunjungi cucunya yang baru lahir..Nanti ia baru datang ketika sepulang kami dari RS.Mutiara namun itupun tidaklah murni kunjungan karena ternyata datang minta tolong fotokopi sebuah surat di rumah kami..

Jika dibandingkan dengan “keluarga” dari pihak Indah maka amat sangat berbanding terbalik…

Sebenarnya Indah tidak mempunyai keluarga kandung di sini,semua marga Sipayung yang ada di sini hanyalah tarikan karena sama marga (ber-sanina) yaitu Sipayung namun kenalnya juga baru di sini dan tidak pernah kenal selama Indah masih di Simalungun sana…

Namun perhatian yang diberikan oleh Keluarga Besar Sipayung di sini pada Indah sebagai boru mereka dan Vinz anak kami sebagai Panagolan mereka sangat luar biasa,saya dan Indah sampai-sampai merasa banyak berhutang budi pada mereka.

Sejak Indah masuk rumah sakit,maka Besan Joshua dan Besan Monica langsung menyusul ke RS.Sele Be Solu untuk menengok Indah bahkan Besan Joshua membantu dalam persalinan Indah lalu kemudian datang satu per satu seperti besan Helen,Besan Ella,Besan Eben,Lawei Joshua,Lawei Rimbun,Lawei Anton,Lawei Sintong,Lawei Eben dan masih ada beberapa.

Bahkan Keluarga Ketua Arisan Parna di Sorong yaitu Lawei Sarton Saragih beserta botou saya juga tidak ketinggalan meluangkan waktunya untuk datang mengunjungi kami di Rumah Sakit Sele Be Solu dan kemudian datang lagi ketika kami telah di rumah,padahal kami bukan anggota Arisan Parna..ini lebih pada tarikan bahwa kami sama-sama anggota Partumpuan Simalungun di kota Sorong.

Juga ada abang Ando Tarigan Gersang dan abang Orin Purba Siboro yang pada malam Indah melahirkan langsung datang ke Rumah Sakit Sele Be Solu mengunjungi kami padahal hanya karena tarikan dari abang Ando Tarigan Gersang itu “sanina” saya di sini karena saya dimargakan ke Girsang dan dia juga Girsang walaupun sudah menjadi Tarigan di Karo dan bang Orin Purba Siboro yang merupakan Ketua Arisan Simalungun dan Arisan Toga Simamora di mana kami bergabung di dalamnya…

Bahkan yang membuat saya jd agak terharu ketika mendengar rencana kunjungan dari Arisan Silahisabungan pada sore sepulang kami dari RS.Mutiara dan benar aja pada jam 7.30 Malam berbondong-bondong banyak motor yang masuk dalam halaman rumah kontrakkan kami yaitu keluarga Silahisabungan Sorong datang meluangkan waktunya untuk mengunjungi kami yang baru saja pulang dari RS.Mutiara akibat Vinz terkena infeksi karena salah penanganan di RS.Sele Be Solu.

Ternyata solidaritas orang-orang dari Sumatra Utara jauh lebih baik daripada solidaritas saudara-saudara kandung saya di sini…

Ditulis dalam Saya dan Indah | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Apakah Toba dan Simalungun Sama Saja?

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Desember 14, 2008

Apakah Toba dan Simalungun itu sama saja?

Jika kita tanyakan pada yg ga minat ama masalah budaya dan sejarah maka akan mengatakan “Ya..sama saja,cuma berbeda nama saja..namun sama-sama adalah BATAK”,namun jika hal ini kita lontarkan pada beberapa orang Simalungun yang peduli pada budaya mereka maka jawaban berbeda yang akan kita temui bahkan jika yang terkesan extrim akan menjawab bahwa Simalungun bukanlah Batak namun etnis yang mandiri dan berdiri sendiri karena mempunyai budaya,bahasa dan adat yang sendiri.

Sikap dan Sifat Dominan atas etnis lain yang di miliki oleh Suku Toba sehingga mereka kadang terkesan tidak mau tahu dengan budaya suku lain yang ada di sekitar mereka..Ada pengalaman saya ketika mengikuti arisan Toga Simamora,seorang inang bertanya pada saya bahwa apa marga saya?lalu saya menjawab bahwa saya dimargakan ke Girsang,lalu dia dengan kening yang mengkerut lalu bertanya lagi : Girsang?marga apa itu?orang batak kah itu? kini giliran saya yang bingung dengan pertanyaan inang Silaban ini,lalu saya menjawab bahwa Girsang cabang dari Purba Simalungun,ia lalu menjawab : wah saya blm pernah dengar marga itu baik di kampung sana maupun di sini (Sorong-Papua Barat)…lalu saya coba ambil kesimpulan bahwa ternyata marga-marga Simalungun semisalnya Girsang,Tondang,Siboro,Tanjung,Tambak,Dasuha,Sumbayak,Garingging,Djawak,Dasalak mungkin kurang dikenal oleh saudara-saudara kita yang dari Toba ini.

Saya bukan mencoba untuk selalu membedakan antara Simalungun dengan Toba,mmg jika kita berbeda mending lebih baik disamakan aja agar bisa mengurangi perbedaan,namun apa jadinya jika kita menyamakan namun pada tahap persamaan itu malah budaya Toba yang menjadi prioritas dan budaya Simalungun yang tersingkir?ini tentulah tidak benar dan lama-lama akan mengikis hilang budaya Simalungun yang luhur…Memang benar ada yang bilang jika kita ke kandang kambing maka mengembiklah kita dan jika kita ke kandang anjing maka menggonggonglah kita namun khan tidak serta merta menghilangkan identitas kita..

Semalam saya chat dengan kenalan di tangerang marga Sitompul,pada awalnya ia menyapa saya dengan baik yaitu : Horas Lae Girsang,saya suka karena ternyata lae Sitompul ini setidaknya sudah mendingan daripada inang Silaban yang saya temui di arisan Toga Simamora itu karena ia tahu bahwa Girsang dari Simalungun…lalu keasyikan chat tanpa sengaja saya menulis : “Lawei” untuk sebutan Lae..karena mmg biasanya chat ama sesama orang Simalungun khan saya menggunakan istilah Lawei bukan Lae jd kecoplosan,lalu saya minta maaf dengan mengatakan Mode Simalungun saya lagi : ON,ia lalu membalas dengan icon Smile sambil mengatakan bahwa Simalungun dengan Toba sama aja yaitu sama-sama batak..walaupun kurang sreg dengan jawaban itu namun saya coba buat hiraukan aja karena topik kita khan adalah masalah Parabola bukan Suku…

Diakhir chatting kami lalu ia menulis “Mauliate Lae..Met Malam” lalu saya pun menjawab ” Diatei Tupa Lawei” lalu saya menutup jendela chat YM tsb..kemudian muncul lagi pesan darinya yang bertanya “Apa pula itu lae?” saya pun hanya senyum menjawab “Itu Mauliatenya Simalungun Lawei…” lalu ia membalas “Ok-lah apa pun itu…”,

Dari sini saya temukan bahwa banyak orang Toba tidak mau tahu tentang bahasa suku lain yang di sekitar mereka,mereka selalu menekankan bahwa suku lain seperti simalungun,Karo,Pakpak,Angkola dan Mandailing adalah penyebaran dari mereka dengan dalil sejarah yang rendah bahkan kadang tidak dapat diperdebatkan.

Siapakah orang Simalungun?saya rasa yang bisa disebut dengan Orang Simalungun itu bukan hanya orang yang secara darah mengalir darah Simalungun di dalam tubuhnya namun juga menjangkau pada orang Toba,Karo bahkan Melayu yang telah lama berdiam di tanah Simalungun dan mencintai budaya Simalungun,saya ambil contoh pada keponakan saya marga Simanjorang,mmg Oppungnya berasal dari Tongging dan berpindah ke Raya,namun mereka kini telah 3 generasi di Raya dan cuma bisa berbahasa Simalungun dialek Raya bahkan mahir membuat Dayok Binatur,mereka selalu mengaku sebagai bagian Halak Simalungun,saya rasa ini wajib untuk dihormati ketimbang seorang Saragih Sumbayak misalnya namun tidak tahu budaya Simalungun sama sekali bahkan sekedar panggilan dan mengucapkan Terima Kasih dalam Bahasa Simalungun…gimana pendapat lawei?

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , | 2 Komentar »