Niat awal dari pihak Dji Sam Soe untuk menjadi sponsor Copa Indonesia tentulah ingin makin memperkenalkan produk mereka agar lebih dikenal lagi kepada semua khalayak ramai di Indonesia,namun apa yang terjadi jika kini malah kerugian yang akan didapatkan oleh pihak Dji Sam Soe karena rokok Dji Sam Soe diancam tidak boleh beredar di Papua dan mungkin juga Papua Barat sebagai efek dari skandal Grand Final Copa Dji Sam Soe?
Wasit Purwanto menutup karirnya dengan skandal yang sangat memalukan dan telah tercatat dalam sejarah sepakbola nasional sebagai pelaku kekacauan dalam Grand Final Copa Dji Sam Soe 2009 di Stadion Jaka Baring,Palembang yang mana mempertemukan antara Sriwijaya F.C sebagai Juara Bertahan juga sekaligus Tuan Rumah melawan Persipura Jayapura sebagai penantang.
PSSI melalui BLI-nya memang sudah tidak beres dari awal mungkin keberatan apabila Persipura menjadi juara ganda pada 2 ajang mereka sehingga menugaskan Purwanto untuk berat sebelah agar bermain condong pada pihak tuan rumah.
Selain itu juga tidaklah masuk akal menggelar suatu laga Grand Final di kandang salah satu finalis walaupun memang sudah ditentukan sejak semifinal bahwa Final akan digelar di Stadion Jaka Baring,Palembang.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang apakah stadion di Indonesia ini sudah habis sehingga tidak ada tempat lain yang layak untuk menggelar laga Grand Final selain di Palembang?apakah stadion Si Jalak Harupat di Kab.Bandung atau stadion Palaran,Segiri atau juga Sempaja yang ketiganya di Samarinda atau Kanjuruhan di Malang tidak layak untuk menggelar laga Final?gimana kalo di stadion Manahan Solo juga tidak layak?di mana saja bisa asal memang ada niat jujur dari pihak PSSI dan BLI yang dipimpin oleh Nurdin M.Halid ini.
Komdis PSSI yang digawangi oleh duet Pandjaitan-Limbong tidak lebih dari duet pencekak leher tiap klub yang selalu siap mendenda klub dan para pesepakbola Indonesia dengan denda yang besar dan nyaris tidak wajar sehingga benar-benar memeras kantong klub dan pesepakbola yang sedang sakit keuangan.Hal ini juga pernah dirasakan oleh PSIS Semarang yang mana sudah kempis kantongnya malah dihukum lagi dengan denda uang yang begitu “wah” seakan-akan uang itu gampang didapatkan demikian juga dengan PSIR Rembang yang juga kena imbas hukuman berat tapi tidak wajar serta masuk akal dari duet Komdis PSSI Pandjaitan-Limbong ini,pertanyaan saya : apakah gak ada lagi orang lain yang bisa dipercaya untuk menjadi bagian Komisi Disiplin PSSI selain dua orang ini?
Untungnya Liga Super Indonesia kali ini tidak ada lagi partai Final sehingga setidaknya pihak Djarum tidak mendapatkan kerugian yang besar akibat memsponsori ajang yang digelar oleh antek-anteknya Nurdin Halid ini berbeda dengan pihak Dji Sam Soe yang saya yakin mereka sangat dirugikan dengan kepentingan PSSI untuk menginginkan agar Persipura agar jangan sampai menjadi juara ganda.
Ancaman agar rokok Dji Sam Soe dilarang beredar di Papua (mungkin juga Papua Barat) masihlah belum dicabut jadi kapan saja bisa-bisa rokok Dji Sam Soe menjadi barang yang illegal di Papua dan ini tentu sangat merugikan pihak sponsor yang menjadi buruk citranya di Papua akibat kinerja buruk PSSI,Komdis dan BLI.




Saya adalah salah satu fans berat Liga Indonesia yang walaupun dibilang liga kampungan namun saya suka sekali menyaksikan tayangan langsung Liga Indonesia sejak dari Liga Bank Mandiri,Liga Djarum hingga saat ini bernama Indonesian Super League.