Sevilla99 – www.sevilla99.wordpress.com

Tentang Papa,Mama dan Vincenzo Girsano Wong Tomarere Serta Semua Yang Terjadi Di Sekitar Kami

Arsip untuk ‘Simalungun’ Kategori

Kategori ini khusus untuk yang berkaitan dengan SIMALUNGUN

Informasi Yang Keliru Tentang Saragih Permata

Ditulis oleh sevilla99 di/pada September 8, 2009

Pada edisi 2-3bln lalu di Majalah Budaya Simalungun “SAUHUR” ada informasi yg menurut sy adalah aneh,yaitu mengenai sejarah Morga Saragih Permata.

Pada postingan lawei Muhar Omtatok Saragih di milis barita-simalungun@yahoogroups.com diceritakan bhw morga Saragih Permata adalah marga keturunan dari Saragih Garingging sama hal-nya juga dgn Morga Saragih Jawak & Saragih Dasalak yg merupakan keturunan dari Saragih Garingging.

Pada topik Sejarah Morga Saragih Permata yang dimuat dalam Majalah Sauhur itu dikatakan bahwa Saragih Permata adalah keturunan dari perantau asal Samosir yang berpindah ke Raya dan kemudian menggunakan marga Saragih dengan cabang Permata karena berasal dari marga Simarmata sebelumnya di Samosir.

Ini jelas suatu kerancuan sejarah,karena jika mmg dia adalah Simarmata sebelumnya maka sama halnya dengan yang lain maka akan menjadi cabang dari Saragih Simarmata dan tidak membentuk cabang baru karena aslinya Saragih Permata adalah cabang dari Saragih Garingging penguasa di Raya,Simalungun.

Postingan yang kontroversi ini jelas membuat kegaduhan yang kemudian terlihat pada edisi berikutnya Redaksi Majalah Sauhur mendapat kritik dari pembacanya bahwa Sejarah Saragih Permata yang dimuat pada Majalah Sauhur tersebut adalah ngawur dan tidak berdasar.

Untunglah pihak redaksi SAUHUR melalui redaktur Lawei Muhar Omtatok Saragih segera melakukan klarifikasi pada edisi berikutnya sehingga artikel yang ngawur ini bisa segera dibantahkan,lolosnya artikel ini tidak lepas dari berangkatnya redaktur Majalah Sauhur tsb ke Jakarta sedangkan Majalah Sauhur masih kekurangan SDM dalam memeriksa artikel yang masuk selain itu juga krn kekurangan artikel yang mau disumbangkan secara sukarela pada Majalah Budaya Simalungun ini demi perkembangan bersama halak Simalungun di mana pun terutama di perantauan.

Informasi tentang Simalungun sangat banyak saat ini di berbagai website namun belum tentu benar,jadi wajib kita untuk sedikit  selektif dalam membaca beberapa artikel Sejarah dan Budaya Simalungun.Perhatikan juga apakah dari artikel tsb mempunyai “hidden agenda” atau tidak.

Beberapa artikel yang diposting oleh seseorang wartawan (entah masih sebagai karyawan Gatra atau tidak saat ini) dengan nama Julkifli Marbun atau kadangkala menggunakan nama “@Simalungun” pada beberapa blog yang ia buat (sekitar 15 blog lebih) lebih banyak berisikan informasi kabur dan karangan beliau,jadi kita wajib untuk lebih hati-hati dalam membaca postingan-postingan beliau terutama yang berkaitan dengan Sejarah dan Budaya Simalungun

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , | Leave a Comment »

Merekonstruksi Simalungun

Ditulis oleh sevilla99 di/pada September 1, 2009

Prakata :

Ternyata banyak juga saudara-saudara saya Halak Simalungun yang sering membaca artikel tentang Simalungun yang saya tulis blog ini.Sejarah dan Budaya adalah sesuatu yang dapat dipelajari melalui lisan dan tulisan jadi bukanlah bawaan fisik,jadi walaupun dia seorang bermarga Simalungun blm tentu pengetahuan ttg budaya dan sejarah Simalungunnya lebih baik ketimbang dari non Simalungun apabila ia tidak mau belajar atau tidak mau tahu tentang budaya dan sejarah sukunya tersebut.

Suatu hari Indah chatting dengan seseorang oppungnya (Indah menggunakan tutur Oppung) yang bekerja di Kantor PBB di Amerika Serikat yaitu Oppung Tamsir Girsang (kerenzzz  banget ada par-saribudolok di kantor PBB),Oppung tsb kaget ternyata tulisan-tulisan saya tentang Simalungun yang sering ia baca di blog ini adalah tulisan dari suami dari pahoppunya.Juga ada beberapa laporan lainnya.

Melalui kesempatan ini,saya ingin mengucapkan Terima Kasih/Diatei Tupa atas dukungannya sesama Halak Simalungun kepada kehadiran blog ini agar kita bisa sama-sama belajar tentang budaya dan sejarah Simalungun..Yup sama-sama kita Merekonstruksi Simalungun

———————————————————————————————————————————————–

Simalungun adalah suku besar yang selepas kemerdekaan Indonesia malah makin tertinggal dari saudara-saudara tetangga di sekitarnya seperti Toba,Karo dan Melayu.

Kebesaran Simalungun terbukti dengan bahwa Kerajaan Nagur dan Batanghiou masuk dalam target penaklukan oleh Kerajaan Singasari dari Malang pada tahun 1200an melalui EKSPEDISI PAMALAYU seperti yang ditulis dalam Kitab Negarakertagama namun Ekspedisi yang gagal ini kemudian menambah jumlah Halak Simalungun karena sejumlah pasukan dari Singasari bukannya pulang kembali ke Jawa malah menetap dan menikah dengan boru Simalungun yang kemudian membentuk TANOH JAWA dan banyak yang berafiliasi ke marga Sinaga Simalungun.

Dengan eksisnya Kerajaan Nagur yang diperintah oleh Raja Damanik dan Kerajaan Batanghiou yang diperintah oleh Raja Saragih setidaknya membuktikan bahwa orang bermarga sudah ada sejak tahun 1200-an di Tanah Simalungun sedangkan permargaan pada suku-suku di tetangga Simalungun baru dimulai pada tahun 1500-an jadi siapa yang tua dan siapa yang anggi pada kenyataan sejarah ini?

Bukti sejarah ini setidaknya membuktikan pernyataan sejarah yang diungkapkan oleh pakar sejarah dan budayawan Simalungun Alm.Taralamsyah Saragih bahwa marga-marga Simalungun seperti Sinaga,Saragih,Damanik dan Purba adalah keturunan marga yang berasal dari India dan bukanlah hasil diaspora dari suku tetangga yang berpindah ke tanah kosong yang sepi yg kemudian dinamakan Simalungun tersebut.Amat sangat tidak mungkin jika pada tahun 1200an sudah ada marga Damanik dan Saragih di Simalungun sedangkan kemudian diklaim bahwa Damanik adalah keturunan dari Silau Raja dari Toba demikian juga dengan marga Saragih adalah keturunan dari marga Saragi Tua yang kemudian berasal dari Raja Nai Ambaton?karena Silau Raja dan Raja Nai Ambaton belumlah ada ketika Raja Damanik dan Raja Saragih mulai memerintah di kerajaan mereka masing-masing di Tanah Simalungun.

Sistem feodalisme yang telah lama terbentuk di dalam tatanan masyarakat Simalungun yaitu antara Tu[h]an yaitu Sang Raja dengan Rakyatnya membuat rakyat Simalungun sangat tunduk pada raja mereka,entah tunduk dengan kerendahan hati ataupun dengan dongkol yang jelas rakyat Simalungun tunduk dan hormat pada Tu[h]an mereka yang berkuasa atas mereka.

Kemerdekaan Indonesia yang di mana Simalungun adalah bagian di dalamnya membuat sesuatu hal yang buruk bagi tatanan feodalisme di Tanah Simalungun yang kala itu sudah terpecah dalam 7 kerajaan.Pemberontakan rakyat terhadap sistem feodalisme di Simalungun yang dipimpin oleh Saragih Ras bukan saja membunuh para intelektual Simalungun kala itu yang memang para keturunan Raja dan Bangsawan namun juga meluluhlantakkan seluruh catatan sejarah dan budaya Simalungun yang begitu tinggi nilainya karena ikut terbakar bersama dengan hangusnya kerajaan.

Bubarnya sistem feodalisme di Simalungun membuat rakyat Simalungun menjadi merdeka dari ikatan feodal yang selama ini membelenggu mereka,dengan bubarnya ketujuh kerajaan di Simalungun juga membuat arus masuk suku sekitar Simalungun juga makin kencang dan ini perlahan-lahan mempengaruhi dan merubah kebiasaan dan budaya asli yang dimiliki oleh masyarakat Simalungun sebelumnya.

Gesitnya para pendatang yang masuk ke Simalungun mengubah bukan hanya cara pandang masyarakat Simalungun pada kehidupan sehari-hari mereka namun juga merangsek hingga ke budaya dan bahasa sehari-hari.Sifat orang Simalungun yang penurut membuat mereka sangat mudah untuk dipengaruhi baik dalam bahasa,budaya dan kebiasaan.Akhirnya justru lebih bangga berbahasa dan berbudaya dari tetangganya ketimbang bahasa dan  budayanya sendiri.

Suatu kesalahan yang dilegalkan dan dibiasakan secara turun menurun maka akan jadi menjadi kebiasaan yang benar.

Sejarah telah terbentuk,dahulu cabang marga Saragih hanya ada Saragih Sumbayak,Garingging,Jawak dan Dasalak kini telah ada Saragih Simarmata,Saragih Manihuruk,Saragih Sitanggang dll yang memperkaya marga tersebut di Tanah Simalungun,ini suatu yang baik karena mereka masuk dari Toba/Samosir  ke Simalungun dan dengan senang hati bergabung dan merasa bahwa mereka bersaudara dengan marga Saragih di Simalungun,ini semua tentunya rencana yang indah dari Tuhan untuk seluruh rakyat Simalungun.

Kini malah tidak jarang ditemukan bahwa marga Saragih hasil afiliasi dari PARNA dari Samosir lebih kelihatan Ahap Simalungunnya ketimbang yang bermarga Saragih Sumbayak,Garingging,Jawak ataupun Dasalak.

Saya pernah membaca pada postingan di salah satu milis Simalungun tentang betapa marahnya seorang bapa bermarga Saragih Manihuruk yang dalam acara adat Toba (mungkin acara ada marga-marga PARNA) dan ia disebut dengan Bapa Manihuruk saja tanpa memakai Saragih di depannya,ia pun langsung klaim pada pembawa acara,pembawa acara mengatakan bahwa di adat Toba tidak ada yang namanya Saragih Manihuruk yang ada adalah Manihuruk saja,bapa tersebut dengan lantangnya menjawabnya : Di Simalungun itu ada Saragih Manihuruk,saya ini salah satunya,jadi panggil saya Bapa Saragih atau kalo mau lengkapnya sebut Bapa Saragih Manihuruk.Demikian sedikit contoh..

Hasil dari perubahan dari masuknya budaya,kebiasaan dan bahasa dari tetangga kini baru dirasakan pada tahun-tahun belakangan ini di mana sebenarnya Simalungun juga mempunyai budaya,sejarah dan bahasa yang khusus dan tidak kalah bernilai dibanding suku-suku di sekitarnya.

Kini makin banyak Harungguan-Harungguan terbentuk yang mana membawa ahap Simalungun di dalamnya,saya melihat betapa bersemangatnya Alm.Kela Josuaman Sinaga ketika mempelopori terbentuknya Harungguan Sinaga,boru pakon panogolan untuk wilayah Jabotabek bahkan hingga ia buatkan Facebook dari Harungguan Sinaganya tersebut,namun sayang Kela Josuaman dipanggil Tuhan terlalu cepat sehingga seluruh rencana dan pengabdiannya pada Harungguan Sinaga tsb belum tuntas kini sudah harus dilanjutkan oleh generasi di bawahnya.

Saya juga mendengar bahwa di Jakarta juga ada Harungguan Sipayung yang ber-ahap Simalungun berbeda dengan Punguan Sipayung,demikian juga dengan Harungguan Saragih Munthe,Harungguan Saragih Simarmata,Harungguan Girsang,Harungguan Purba Tanjung dan lain-lain.Ini semua bagian dari merekonstruksi Simalungun.

Di Facebook dan milis saya lihat betapa bersemangatnya seluruh masyarakat Simalungun mengumpulkan uang dalam thema “Haroan Bolon Simalungun” dalam menerbitkan buku berjudul Simalungun yang ditulis oleh J.Tideman selama ia bertugas di Simalungun,juga betapa bersemangatnya para garama dan anakboru Simalungun dalam mendownload atau memposting lagu-lagu juga video musik Simalungun,ini semua bagian dari merekonstuksi Simalungun.

Kehadiran Majalah Sauhur juga ikut mewarnai kegiatan Merekonstruksi Simalungun,dengan perbanyak menggali budaya,sejarah dan kebiasaan asli yang berlaku di Simalungun untuk kemudian dimuat pada majalah ini sehingga para target pembaca mereka yaitu para perantau asal Simalungun bisa selalu ingat dan dekat dengan hasusuran mereka walaupun mereka jauh di perantauan.

Indah termasuk yang terkena getahnya,dahulunya ia cuek dan tidak pusing dengan budaya,sejarah dan bahasa Simalungun karena menganggap sama aja dengan yang namanya Batak (Toba),namun kini ia juga ikut bersemangat mempromosikan tentang Simalungun yang merupakan tanah kelahiran dan kampung halamannya di dalam pergaulannya di sini maupun di dunia maya seperti di Facebook.

Simalungun milenium adalah Simalungun yang sudah tidak terikat dalam pakem “SISADAPUR + SIPAYUNG” saja namun semua marga yang mencintai budaya Simalungun dan ingin selalu menjaganya bersama-sama.

Mari kita Merekonstruksi Simalungun….

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , , | 14 Komentar »

Mengenang Tulang Mansen Purba,Budayawan Simalungun

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Juli 3, 2009

Tadi malam setelah menyaksikan debat Calon Presiden putaran terakhir,saya lalu menuju laptop saya dan mengecek perkembangan yang terjadi di sekitar Facebook saya yang memang rata-ratai berisi tukar pendapat debat capres yang td umumnya disaksikan oleh hampir semua rakyat Indonesia melalui layar RCTI.

Lagi asyik mengisi komen di wallpost milik Tulang Sarmedi Purba maka saya pun dikejutkan dengan berita wafatnya abang kandung Tulang Sarmedi yaitu Tulang Mansen Purba

Saya memang belum pernah bertemu muka dengannya dan bahkan bicara via telp pun belum pernah,kami hanya berkomunikasi via email itupun kadang email saya dijawab setelah waktu yg lama..hehehe..maklum almarhum Tulang ini punya jadwal yang lumayan padat.

Walaupun hanya beberapa kali kontak via email namun Tulang Mansen bagi saya adalah seorang yang ramah dan patut untuk saya hormati,beliau dengan mudahnya mengirimkan saya buku Rondahaim,Sebuah Kisah Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun yang beliau susun sekitar 25thn yang lalu,jangan salah mengira karena buku ini sudah tidak dicetak lagi oleh penerbitnya dan benar-benar merupakan buku langka yang menurut pengakuan beliau pun hanya sisa 2 buku aja yaitu 1 buku ia kirimkan pada saya dan 1 buat koleksi pribadinya…sungguh sangat mempesonakan bagi saya karena buku yang tentu bernilai tinggi ini jika dijual kepada para peneliti asing malah ia berikan sebagai hadiah kepada saya yang baru mulai mempelajari ttg Simalungun.

Rasa haus saya akan keinginan tahuan yang lebih tentang Simalungun membuat saya kembali tanpa malu menghubungi beliau via email kembali dan menanyakan ttg Buku Tarombo Silsilah Marga Saragih Garingging dan beliau dengan mudahnya mengirimkan buku cetakan aslinya yang masih terlihat diketik menggunakan mesin Tik dan dicopy di percetakan,sebuah buku yang dicetak pada tahun 1983,bukannya sombong karena bahkan banyak orang bermarga Saragih Garingging pun belum tentu mempunyai buku yang disusun oleh Tuan Taralamsyah Garingging tsb.

Mengapa saya menggunakan tutur Tulang pada beliau?awalnya saya menggunakan tutur “Bapa Tua/Godang” mengingat saya dimargakan ke Girsang yang hingga sekarang belum mencabut diri mereka dari Harungguan Purba Simalungun secara resmi jadi masih marsanina dengan Purba Sigumonrong,namun kemudian oleh Tulang Mansen ia koreksi karena ibunda Tulang Mansen adalah merupakan amboru dari atturang saya yang sama-sama boru Saragih Garingging bahkan masih dalam 1 pohon tarombo yang sejajar.

Berkut petikan email pertama beliau kepada saya :

Horas ma bamu, ham Michael Fransisco Girsang.

Saya menyambut gembira emailnya. Sayangnya agak terlambat saya membacanya karena sudah beberapa minggu tidak netting. Mohon maklum.

Sebagai orang yang sedang ‘menjadi’ Simalungun (yang oleh Eben disebut ‘marsimalungun‘), anda telah menggunakan panggilan (‘tutur’) Bapa Tua kepada saya. Saya menghargainya. Namun masih perlu diperjelas jalinan kekerabatannya (tutur padiha-dihaon) yang menjadi dasar panggilan Bapa Tua tadi. Sudah bisa anda jelaskan? (Sudah sejauh itukah ‘perjalanan’nya marsimalungun?).

Anda telah menerangkan bahwa Tulang anda adalah Sipayung yang beristerikan Saragih Garingging. Sementara Ibu kandung saya adalah Saragih Garingging. Bukankah lebih baik jika anda menggunakan panggilan (tutur) Tulang kepada saya? He he … Selamatmarsimalungun (=’proses menjadi Simalungun).

Buku ‘Rondahaim’ yang saya (=’Bina Budaya Simalungun’) terbitkan memang sudah langka. Mungkin masih ada beberapa eksemplar tersimpan di rumah kita di Jl Karya 155 Medan 20117, nanti kucari. Kalau butuh, kirim alamat posnya biar saya kirim.

Sekian dulu untuk email perkenalan ini.

Diatei tupa.

Mansen Purba

Kepergian beliau salah satu Budayawan Simalungun yang saya kenal dan rendah hati merupakan kehilangan besar bagi saya yang sedang belajar ttg Simalungun namun riwayat hidup seseorang sudah diatur oleh Tuhan,Tuhan pun yang berkehendak untuk memanggil pulang Tulang Mansen Purba kepangkuan-Nya dan kita hanya bisa mempasrahkannya kepada Tuhan.

Semoga kepergian beliau dan menumbuhkan budayawan-budayawan Simalungun berikutnya yang bisa memberikan masukan pada perkembangan Simalungun sebagai etnis yang budaya dan adatnya makin terjepit oleh tekanan 3 suku besar di sekitarnya namun tanpa perlu banyak bicara….

Selamat Jalan Tulang Mansen, saya sangat berterima kasih atas perhatian yang telah Tulang berikan kepada saya selama ini walaupun kita belum bertemu muka maupun komunikasi via Telp..


Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , | 7 Komentar »

Kaos Bernuansa Simalungun….Ayo Dipilih-pilih….

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Juni 13, 2009

Salah seorang lawei saya bernama Franswell (Fabo) Sumbayak yang seorang penyanyi Hiphop Simalungun kini juga memproduksi beberapa kaos dengan motif Simalungun,di bawah ini ada beberapa motif yang mungkin cocok anda pesan dari lawei fabo untuk anda gunakan sebagai bukti kebanggaan Anda bagian dari Halak Simalungun.

Untuk  pemesanan melalui sms/telp ke 08161469668
uang di transfer dulu baru di proses…
transfer ke rekening :
LIPPO : 787 10 52192 5 (AN : FRANSWELL M SARAGIH)
BCA : 0372176006 (AN : AGUSTINUS ARDIANTO)

Ditulis dalam Simalungun | 2 Komentar »

Bertemu Dengan James M Purba Tanjung,Salah Satu Penggagas Haroan Bolon Simalungun

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Mei 2, 2009

indah_mike_jamesMalam minggu yang lalu saya terima sms dari Bang James yang menginfokan bahwa pada hari rabu nanti ia akan ke Sorong setelah dari Jayapura dan ingin untuk bisa bertemu muka karena kami sama-sama sering ngobrol di milis bar-sim@yahoogroups.com juga sering kontak di Facebook dalam membahas topik-topik mengenai Simalungun.

Pada malam selasa saya juga menerima sms kembali dari bang James yang mengingatkan bahwa bang James akan tiba di Sorong besok jadi semoga bisa bertemu pada rabu sorenya di rumah bapa angginya yang sudah masuk Papua sejak tahun 1964.

Ada semacam keraguan dalam diri saya untuk datang bertemu dgn bang James karena melihat posisi beliau yang lebih tua,lebih senior,pangkatnya yang termasuk petinggi di PT.Pos Indonesia dll sedangkan saya?apalah saya ini yg masih junior dan baru belajar soal simalungun…yang jelas gak levellah…..

Pada hari rabu petang kembali bang James mengajak bertemu saya dengan Indah di rumah bapa angginya di depan Lapangan Hockey Kampung Baru,kebetulan ada Lawei dan Besan saya berkunjung jadi saya gak bisa keluar jadi saya pun minta maaf dan berjanji akan mengunjunginya besok jam 10pagi karena katanya pada jam 1 Siang ia sudah akan Take Off menuju Jakarta.

Pada hari Kamis pagi maka saya dan Indah pun bergegas ke rumah bapa anggi bang James dengan membawa oleh-oleh buat 2 anak kami di Jakarta sana yaitu Kaos motif Papua,moga-moga aja mereka suka.

Begitu nyampe di rumah tempat bang James menginap eh ternyata beliau masih tidur karena semalaman keasyikan ngobrol dengan adik dan bapa angginya hingga jam 5 pagi,maklum dah lama tak bertemu.

Akhirnya saya dan Indah bertemu dengan bang James M. Purba Tanjung,seorang sosok yang saya segani dan kagumi juga salut karena beliau walaupun sudah termasuk pejabat tinggi PT.Pos Indonesia namun masih sempat meluangkan waktunya untuk mengurusi mengenai sejarah dan budaya Simalungun bahkan aktif dalam penerbitan buku tulisan seorang Belanda bernama J.Tideman yang diberi judul : Simaloengoen yang saat ini masih dalam pengerjaan.

Haroan Bolon Simalungun ia bentuk dengan sungguh tersusun rapih sehingga semua rencana dilaporkan dengan baik juga arus uang masuk keluar dari sumbangan halak simalungun yang terkumpulkan demi kelancaran penerjemahan hingga proses cetaknya nanti yang merupakan kerja gotong royong dalam Haroan Bolon Simalungun,suatu kerja berat yang dilakoni oleh Bang James M. Purba Tanjung bersama Bapa Godang Frans Purba.

Obrolan santai dan beberapa kali ia selalu menekan saya agar terus pelihara ahap simalungun yang sudah ada dalam diri saya dan selalu mau berbagi pengetahuan saya tentang budaya dan sejarah Simalungun agar semua Halak Simalungun yang asli Simalungun namun malu mengaku Simalungun bisa juga bangga pada dirinya bahwa ia adalah seorang Simalungun tanpa perlu menyembunyikan identitasnya.

Pertemuan kami berlangsung sekitar 45menit dengan penuh obrolan santai namun sangat bermutu,saya dan Indah harus segera pulang maklum jagoan kami Vinz kami tinggalkan di rumah dan sedang dijaga oleh Lina,Pekerja Rumah Tangga di rumah kami.

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , | 4 Komentar »

Dialog Dengan Penjual Minuman Di Pasar Sentral

Ditulis oleh sevilla99 di/pada April 27, 2009

Hari ini sejak jam 10 pagi saya dengan Indah keluar rumah dan menitip Vinz dalam pengawasan Lina Pekerja Rumah Tangga kami.

Kami berkeliling ari Supermarket Yohan,lalu ke Mega Mall dan Papua Supermarket untuk mencari barang yang kami cari.

Dan tujuan kami berakhir di Pasar Sentral Sorong.

Setelah tanya sana sini tentu melelahkan dan cuaca lagi panas-panasnya siang tadi.Saya pun meminta ijin pada Indah yang masih sibuk memilih-milih barang untuk mencari penjual minuman untuk membeli Mizone dan Air Mineral Botol untuk kami minum.

Saya pun langsung membeli pada sebuah lapak jualan yang pertama saya temukan alias gak milih-milih belanja.

Saya pun memesan 1 botol Mizone buat saya minum dan 1 botol Air Mineral “VIT” untuk Indah.Sambil menunggu kembalian ibu penjual bertanya pada saya :

“Mas Orang Batak ya?” tanya ibu penjual.

“Bukan” jawab saya pendek..

“Kalo bukan,jadi mas orang apa donk?” tanyanya lanjut.

“Saya Cina-Toraja bu…” jawab saya dengan masih jawaban pendek.

Matanya lalu seperti menyelidiki saya,kayaknya masih ragu dan berpegang pada pendapatnya yang semula.

“Kenapa bu?” tanya saya balik.

“Habisnya mas kelihatan kayak orang batak.” jawabnya.

“Gak bu,saya cina-toraja,istri saya yang batak.” lanjut saya.

“Kalo mas orang Toraja,mas toraja apa?” tanyanya lagi

“Katanya sih Toraja Sangalla bu..”

“Bisa bahasa Toraja donk mas?” tanyanya kembali.

“Ga bisa bu,saya udah lahir di sini.” jawab saya lagi.

“Ah..mas orang Batak khan?” katanya sambil tersenyum kemenangan.

“Gak koq bu..maaf bu,ini kembalian saya ya?makasih ya bu..” jawab saya sambil permisi untuk kembali ke tempat Indah berada.

Selama perjalanan saya berpikir,apa benar sekarang wajah saya sudah seperti wajah orang Batak?dalam hal ini wajah orang Simalungun?hahaha mungkin aja ya?karena yang menilai kita khan orang lain,bukan kita yang menilai diri kita sendiri.Tapi saya senang juga koq menjadi bagian dari Orang Simalungun.

Saya laporkan kejadian tadi pada Indah dan Indah cuma senyum-senyum saja…

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Beberapa Foto Masa Lampau Simalungun – Kiriman Sanina Dori Girsang di Bali

Ditulis oleh sevilla99 di/pada April 23, 2009

batak-poppen-op-de-siantarse-jaarmarkt batak-zingen-tijdens-het-openbaar-gehoor-te-pematangsiantar1 de-heer-sontang-voor-een-versierde-auto-te-pematangsiantardihar_simalungun

pasukanradja_simalungun_siantar1 radja-gamok-te-pamatangraja1radja-en-de-poeang-bolon radja-van-siantar

sepasang_oppungtoean-djorlang-katarantoean-sidamanik1

Tambahan Beberapa Foto-Foto Jaman Dulu Simalungun……

Beberapa bukti kebesaran Kerajaan-Kerajaan Simalungun di masa lampau….

Kalau mereka bisa besar dahulu lalu kenapa Halak Simalungun yang saat ini terkesan kalah pamor…

Ayo Maju Halak Simalungun

Ditulis dalam Simalungun | Leave a Comment »

Foto-Foto Simalungun Jaman Dulu – Kiriman Sanina Dori Girsang Di Bali

Ditulis oleh sevilla99 di/pada April 23, 2009

klv001048082

afdeling-simeloengoen-en-de-karolanden

klv001048090

poeang-bolon_van_pane_funeral

radja-gamok-te-pamatangraja

toenggal-panaloean-van-poerba

radjavansiantar

SEJARAH,BUDAYA DAN BAHASA BISA DIPELAJARI MELALUI BANYAK MEDIA,YANG PENTING MEMPUNYAI AHAP SIMALUNGUN,PERCUMA JIKA ANDA BERMARGA SIMALUNGUN ATAU BERHASUSURAN PADA SIMALUNGUN NAMUN ANDA TIDAK PUNYA AHAP DAN KECINTAAN PADA SIMALUNGUN SEBAGAI HASUSURAN,SEJARAH,BUDAYA DAN BAHASA ANDA SENDIRI….


Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , | 3 Komentar »

Tak Selalu Medan Identik Dengan “Horas”

Ditulis oleh sevilla99 di/pada April 16, 2009

Aslinya Medan adalah wilayah suku Melayu Deli yang memang bertempat di sekitar Medan bukanlah wilayah suku batak sehingga jika banyak orang berpikir bahwa Medan adalah kotanya Orang Batak tentulah sesuatu yang keliru.Karena suku Batak juga adalah pendatang di kota Medan.

Dahulu waktu kecil,ketika paman dan tante saya datang ke rumah maka saya dan adik-adik saya suka berlomba-lomba mengucapkan atau lebih tepat memekikkan uacapan : Horas pada paman saya tersebut karena tahunya kami dia adalah orang Batak titik…gak tahu bahwa ia dari puak apa?walaupun paman saya cuma kadang tersenyum saja ia pun seakan-akan malas untuk komplain padahal ia bukan menggunakan istilah Horas melainkan Mejuah-Juah karena ia adalah seorang Karo yang bermarga Barus.

Horas adalah salam khas  yang digunakan oleh suku yang jika dinamakan Batak maka digunakan oleh suku Toba,Simalungun dan Angkola-Mandailing sedangkan 2 suku “batak” lainnya yaitu Karo menggunakan salam Mejuah-juah dan Pakpak menggunakan salam Njuah-juah.

Walaupun sama-sama menggunakan Horas tp dalam rangkaian kata-katanya berbeda antara Horas versinya Toba,Simalungun dan Mandailing-Angkola,misalnya kalo Toba yang saya tahu biasanya menggunakan kalimat ini : Horas Di Hita Saluhut Na sedangkan Simalungun menggunakan kalimat ini : Horas Banta Haganupan sedangkan Mandailing-Angkola saya gak tahu hihihi namun yang jelas berbeda.

Sedangkan Karo biasanya tampil dengan slogan Mejuah-Juah Kita Kerina sedangkan Pakpak tampil dengan Njuah-Juah.

Namun pengaruh Toba yang sangat kuat hingga ke Medan membuat akhirnya muncul juga slogan : Horas Medan…yang membuat seakan-akan suku Toba yang aslinya pendatang di Medan menjadi Tuan Tanah di Medan.Saya gak tahu bagaimana perasaan orang Melayu Deli menyikapi hal ini.

Slogan Horas Medan yang selalu dan berulang-ulang membuat akhirnya Medan menjadi identik dengan suku Toba atau secara generalisir mencapai suku-suku lainnya seperti Simalungun,Mandailing,Angkola,Karo dan Pakpak yang selalu diklaim oleh pihak Toba merupakan bagian dari suku Batak dan suku Toba adalah yang tertua dari mereka berlima itu tanpa perlu persetujuan dari 5 suku tersebut.

Memang tidak salah mengucapkan salam Horas kepada seorang Karo atau Pakpak namun lebih terhormatnya atau untuk menghormatinya apabila kita menyapa seorang Karo dengan salam Mejuah-juah dan kepada seorang Pakpak dengan salam Njuah-Juah sesuai dengan yang memang seharusnya sesuai dengan budaya mereka.

Jadi masih haruskah Horas Medan? atau yang sebenarnya adalah Horas Balige,Horas Tarutung,Horas Siantar,Horas Padangsidempuan…kemudian mengucapkan Mejuah-juah Brastagi,Mejuah-juah Kabanjahe lalu Njuah-juah Sidikalang.

Percaya atau tidak,ada kenalan saya yang istrinya bermarga Horas,dia bukan orang Toba,Simalungun,Angkola ataupun Mandailing namun ia adalah seorang Tionghoa yang bermarga asli Ho lalu karena diIndonesiakan waktu jaman Suharto membuat keluarga menambahkan kata “RAS” di belakang marga mereka jadilah marga HORAS….

Horas Banta Haganupan….

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Majalah Sauhur Edisi 9 (Februari-Maret 2009)

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Maret 26, 2009

sauhur9“Wah Simalungun punya majalah juga lawei?” Pertanyaan itu muncul dari lawei Juliaman Sipayung sambil membolak-balik halaman Majalah Sauhur Edisi 9 ini lalu selanjutnya ia kembali berbicara “Udah berkembang rupanya halak Simalungun sehingga bisa buat majalah..oh ya lawei,ini khan abangku Kenan Sipayung yang istrinya boru Nainggolan,koq ada di sini lawei…?”..jawab saya : Yah dibaca dulu aja lawei….

Laweiku ini lalu membaca dengan seksama Majalah Sauhur Edisi 9 ini dengan mata yang terus melotot,terlihat bahwa ia benar-benar antusias dengan Majalah Sauhur yang ada di tangannya itu,maklum merasa jauh dari hasusurannya di Tanoh Simalungun membuatnya merasa kangen..padahal Natal kemarin baru pulang mudik Natal.

Lalu ia membuka halaman 26-28 yang berisi topik “Selayang Pandang Simalungun” dan kemudian berkomentar : Sipayung aslinya bukan Simalungun khan lawei?..saya jawab aja bahwa masih didebatkan di milis Bar-Sim (Barita Simalungun) mengenai Sipayung ini apakah keturunan dari Panglima Goraha Kerajaan Dolog Silou atau Kerajaan Purba yang dijuluki sebagai Sipayung = Sang Pelindung Kerajaan atau Sipayung ini keturunan dari Sipayung Parbaba dari Samosir.

Edisi Sauhur kali ini diisi dengan beberapa topik yang menarik seperti laporan dari liputan Pesta Ronang Bintang yang semakin sepi dan terkesan tidak ditangani serius oleh Pemkab Simalungun,juga saya melihat ada tulisan dari Lawei saya Muhar Omtatok Saragih mengenai Pernebitan dan Penterjemahan Buku Simaloengoen yang telah lama digagas oleh Abang James Purba Tanjung dan Bapa Godang Frans Purba baik dibahas di milis Bar-Sim maupun di Facebook.Senang juga ternyata apa yang kami bahas di Bar-Sim tidak lepas dari teropong Majalah Sauhur…Memang sebaiknya demikian,kita sesama Halak Simalungun saling dukung mendukung.

Indah juga seakan-akan nostalgia melihat SMU Plus Raya Partuha Maujana Simalungun dimuat pada edisi kali ini,maklum Indah adalah angkatan kedua dan alumni ari SMU Plus Raya PMS yang terkenal dengan kedisiplinannya yang OK dan asrama yang tentu saja penuh kenangan bagi Indah.

Juga Iklan dari Halak Simalungun yang maju dalam Pemilu Legislatif kali ini yaitu Jonrai Porman Saragih yang mengincar DPRD I Sumut dan Sortaman Saragih yang mengincar kursi DPR RI dari partai yang sama yaitu Partai Demokrasi Pembaurannya Laksamana Sukardi..Dukung mereka ya…agar ada suara Simalungun di DPRD I Sumut dan DPR RI Pusat…

Selebihnya silahkan dapatkan Majalah Sauhur edisi 9 atau kontak lawei Rosenman Saragih Manihuruk pada Nomor Kontak  : 0812 747 7587 Email : (saragihrosen@yahoo.com) (rosenmanmanihuruk@gmail.com)

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , | 1 Komentar »