Prakata :
Ternyata banyak juga saudara-saudara saya Halak Simalungun yang sering membaca artikel tentang Simalungun yang saya tulis blog ini.Sejarah dan Budaya adalah sesuatu yang dapat dipelajari melalui lisan dan tulisan jadi bukanlah bawaan fisik,jadi walaupun dia seorang bermarga Simalungun blm tentu pengetahuan ttg budaya dan sejarah Simalungunnya lebih baik ketimbang dari non Simalungun apabila ia tidak mau belajar atau tidak mau tahu tentang budaya dan sejarah sukunya tersebut.
Suatu hari Indah chatting dengan seseorang oppungnya (Indah menggunakan tutur Oppung) yang bekerja di Kantor PBB di Amerika Serikat yaitu Oppung Tamsir Girsang (kerenzzz banget ada par-saribudolok di kantor PBB),Oppung tsb kaget ternyata tulisan-tulisan saya tentang Simalungun yang sering ia baca di blog ini adalah tulisan dari suami dari pahoppunya.Juga ada beberapa laporan lainnya.
Melalui kesempatan ini,saya ingin mengucapkan Terima Kasih/Diatei Tupa atas dukungannya sesama Halak Simalungun kepada kehadiran blog ini agar kita bisa sama-sama belajar tentang budaya dan sejarah Simalungun..Yup sama-sama kita Merekonstruksi Simalungun…
———————————————————————————————————————————————–
Simalungun adalah suku besar yang selepas kemerdekaan Indonesia malah makin tertinggal dari saudara-saudara tetangga di sekitarnya seperti Toba,Karo dan Melayu.
Kebesaran Simalungun terbukti dengan bahwa Kerajaan Nagur dan Batanghiou masuk dalam target penaklukan oleh Kerajaan Singasari dari Malang pada tahun 1200an melalui EKSPEDISI PAMALAYU seperti yang ditulis dalam Kitab Negarakertagama namun Ekspedisi yang gagal ini kemudian menambah jumlah Halak Simalungun karena sejumlah pasukan dari Singasari bukannya pulang kembali ke Jawa malah menetap dan menikah dengan boru Simalungun yang kemudian membentuk TANOH JAWA dan banyak yang berafiliasi ke marga Sinaga Simalungun.
Dengan eksisnya Kerajaan Nagur yang diperintah oleh Raja Damanik dan Kerajaan Batanghiou yang diperintah oleh Raja Saragih setidaknya membuktikan bahwa orang bermarga sudah ada sejak tahun 1200-an di Tanah Simalungun sedangkan permargaan pada suku-suku di tetangga Simalungun baru dimulai pada tahun 1500-an jadi siapa yang tua dan siapa yang anggi pada kenyataan sejarah ini?
Bukti sejarah ini setidaknya membuktikan pernyataan sejarah yang diungkapkan oleh pakar sejarah dan budayawan Simalungun Alm.Taralamsyah Saragih bahwa marga-marga Simalungun seperti Sinaga,Saragih,Damanik dan Purba adalah keturunan marga yang berasal dari India dan bukanlah hasil diaspora dari suku tetangga yang berpindah ke tanah kosong yang sepi yg kemudian dinamakan Simalungun tersebut.Amat sangat tidak mungkin jika pada tahun 1200an sudah ada marga Damanik dan Saragih di Simalungun sedangkan kemudian diklaim bahwa Damanik adalah keturunan dari Silau Raja dari Toba demikian juga dengan marga Saragih adalah keturunan dari marga Saragi Tua yang kemudian berasal dari Raja Nai Ambaton?karena Silau Raja dan Raja Nai Ambaton belumlah ada ketika Raja Damanik dan Raja Saragih mulai memerintah di kerajaan mereka masing-masing di Tanah Simalungun.
Sistem feodalisme yang telah lama terbentuk di dalam tatanan masyarakat Simalungun yaitu antara Tu[h]an yaitu Sang Raja dengan Rakyatnya membuat rakyat Simalungun sangat tunduk pada raja mereka,entah tunduk dengan kerendahan hati ataupun dengan dongkol yang jelas rakyat Simalungun tunduk dan hormat pada Tu[h]an mereka yang berkuasa atas mereka.
Kemerdekaan Indonesia yang di mana Simalungun adalah bagian di dalamnya membuat sesuatu hal yang buruk bagi tatanan feodalisme di Tanah Simalungun yang kala itu sudah terpecah dalam 7 kerajaan.Pemberontakan rakyat terhadap sistem feodalisme di Simalungun yang dipimpin oleh Saragih Ras bukan saja membunuh para intelektual Simalungun kala itu yang memang para keturunan Raja dan Bangsawan namun juga meluluhlantakkan seluruh catatan sejarah dan budaya Simalungun yang begitu tinggi nilainya karena ikut terbakar bersama dengan hangusnya kerajaan.
Bubarnya sistem feodalisme di Simalungun membuat rakyat Simalungun menjadi merdeka dari ikatan feodal yang selama ini membelenggu mereka,dengan bubarnya ketujuh kerajaan di Simalungun juga membuat arus masuk suku sekitar Simalungun juga makin kencang dan ini perlahan-lahan mempengaruhi dan merubah kebiasaan dan budaya asli yang dimiliki oleh masyarakat Simalungun sebelumnya.
Gesitnya para pendatang yang masuk ke Simalungun mengubah bukan hanya cara pandang masyarakat Simalungun pada kehidupan sehari-hari mereka namun juga merangsek hingga ke budaya dan bahasa sehari-hari.Sifat orang Simalungun yang penurut membuat mereka sangat mudah untuk dipengaruhi baik dalam bahasa,budaya dan kebiasaan.Akhirnya justru lebih bangga berbahasa dan berbudaya dari tetangganya ketimbang bahasa dan budayanya sendiri.
Suatu kesalahan yang dilegalkan dan dibiasakan secara turun menurun maka akan jadi menjadi kebiasaan yang benar.
Sejarah telah terbentuk,dahulu cabang marga Saragih hanya ada Saragih Sumbayak,Garingging,Jawak dan Dasalak kini telah ada Saragih Simarmata,Saragih Manihuruk,Saragih Sitanggang dll yang memperkaya marga tersebut di Tanah Simalungun,ini suatu yang baik karena mereka masuk dari Toba/Samosir ke Simalungun dan dengan senang hati bergabung dan merasa bahwa mereka bersaudara dengan marga Saragih di Simalungun,ini semua tentunya rencana yang indah dari Tuhan untuk seluruh rakyat Simalungun.
Kini malah tidak jarang ditemukan bahwa marga Saragih hasil afiliasi dari PARNA dari Samosir lebih kelihatan Ahap Simalungunnya ketimbang yang bermarga Saragih Sumbayak,Garingging,Jawak ataupun Dasalak.
Saya pernah membaca pada postingan di salah satu milis Simalungun tentang betapa marahnya seorang bapa bermarga Saragih Manihuruk yang dalam acara adat Toba (mungkin acara ada marga-marga PARNA) dan ia disebut dengan Bapa Manihuruk saja tanpa memakai Saragih di depannya,ia pun langsung klaim pada pembawa acara,pembawa acara mengatakan bahwa di adat Toba tidak ada yang namanya Saragih Manihuruk yang ada adalah Manihuruk saja,bapa tersebut dengan lantangnya menjawabnya : Di Simalungun itu ada Saragih Manihuruk,saya ini salah satunya,jadi panggil saya Bapa Saragih atau kalo mau lengkapnya sebut Bapa Saragih Manihuruk.Demikian sedikit contoh..
Hasil dari perubahan dari masuknya budaya,kebiasaan dan bahasa dari tetangga kini baru dirasakan pada tahun-tahun belakangan ini di mana sebenarnya Simalungun juga mempunyai budaya,sejarah dan bahasa yang khusus dan tidak kalah bernilai dibanding suku-suku di sekitarnya.
Kini makin banyak Harungguan-Harungguan terbentuk yang mana membawa ahap Simalungun di dalamnya,saya melihat betapa bersemangatnya Alm.Kela Josuaman Sinaga ketika mempelopori terbentuknya Harungguan Sinaga,boru pakon panogolan untuk wilayah Jabotabek bahkan hingga ia buatkan Facebook dari Harungguan Sinaganya tersebut,namun sayang Kela Josuaman dipanggil Tuhan terlalu cepat sehingga seluruh rencana dan pengabdiannya pada Harungguan Sinaga tsb belum tuntas kini sudah harus dilanjutkan oleh generasi di bawahnya.
Saya juga mendengar bahwa di Jakarta juga ada Harungguan Sipayung yang ber-ahap Simalungun berbeda dengan Punguan Sipayung,demikian juga dengan Harungguan Saragih Munthe,Harungguan Saragih Simarmata,Harungguan Girsang,Harungguan Purba Tanjung dan lain-lain.Ini semua bagian dari merekonstruksi Simalungun.
Di Facebook dan milis saya lihat betapa bersemangatnya seluruh masyarakat Simalungun mengumpulkan uang dalam thema “Haroan Bolon Simalungun” dalam menerbitkan buku berjudul Simalungun yang ditulis oleh J.Tideman selama ia bertugas di Simalungun,juga betapa bersemangatnya para garama dan anakboru Simalungun dalam mendownload atau memposting lagu-lagu juga video musik Simalungun,ini semua bagian dari merekonstuksi Simalungun.
Kehadiran Majalah Sauhur juga ikut mewarnai kegiatan Merekonstruksi Simalungun,dengan perbanyak menggali budaya,sejarah dan kebiasaan asli yang berlaku di Simalungun untuk kemudian dimuat pada majalah ini sehingga para target pembaca mereka yaitu para perantau asal Simalungun bisa selalu ingat dan dekat dengan hasusuran mereka walaupun mereka jauh di perantauan.
Indah termasuk yang terkena getahnya,dahulunya ia cuek dan tidak pusing dengan budaya,sejarah dan bahasa Simalungun karena menganggap sama aja dengan yang namanya Batak (Toba),namun kini ia juga ikut bersemangat mempromosikan tentang Simalungun yang merupakan tanah kelahiran dan kampung halamannya di dalam pergaulannya di sini maupun di dunia maya seperti di Facebook.
Simalungun milenium adalah Simalungun yang sudah tidak terikat dalam pakem “SISADAPUR + SIPAYUNG” saja namun semua marga yang mencintai budaya Simalungun dan ingin selalu menjaganya bersama-sama.
Mari kita Merekonstruksi Simalungun….