Review Buku Silsilah Marga Manik Pakpak Dairi
Ditulis oleh sevilla99 di/pada November 21, 2008
Kali ini saya coba membuat resensi buku sejarah silsilah marga Manik yang berasal dari Pakpak Dairi,buku ini ditulis oleh Bp.Mansehat Manik,S.Pd salah seorang keturunan marga Manik dari Pakpak yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pakpak Bharat juga anggota Majelis Pusat Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).
Selama ini pihak keturunan Raja Borbor ataupun yang lebih kecilnya lagi keturunan Silau Raja dari Toba selalu mengklaim bahawa semua marga yang berbunyi Manik entah dari Toba,Damanik di Simalungun,Karo-Karo Manik di Karo dan Manik di Pakpak Dairi seakan-akan membuat sebutan “manik” adalah Hak Ekslusif dari pihak Toba semata.
Mari kita perdalam buku ini…
Diceritakan dalam Sejarah Pihak Pakpak maka asal mereka adalah dari India Selatan yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Barus lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak.Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya.
Tidak semua Orang Pakpak berdiam di atas Tanah Dairi namun mereka juga berdiaspora,meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru.
- Sebagian tinggal di Tanah Pakpak dan menajadi Suku Pakpak “Situkak Rube:,”Sipungkah Kuta” dan “Sukut Ni Talun” di Tanah Pakpak.
- Sebagian ada pergi merantau ke daerah lain,membentuk komunitas baru.Dia tahu asalnya dari Pakpak dan diakui bahwa Pakpak adalah sukunya namun sudah menjadi marga di suku lain.
- Ada juga yang merantau lalu mengganti Nama dan Marga dengan kata lain telah mengganti identitasnya.
Diceritakan bahwa Nenek Moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona yang pergi meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Barus dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi,dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama HYANG.Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Pakpak.
Hyang pun besar dan kemudian menikah dengan Putri Raja Barus dan mempunyai 7 orang Putra dan 1 orang Putri yaitu :
- Mahaji
- Perbaju Bigo
- Ranggar Jodi
- Mpu Bada
- Raja Pako
- Bata
- Sanggar
- Suari (Putri)
Pada urutan ke 4 terdapat nama Mpu Bada,Mpu Bada adalah yang terbesar dari pada saudara-saudaranya semua,bahkan dari pihak Toba pun kadangkala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah Keturunan dari Parna dari marga Sigalingging,gimana bisa?sedangkan pada sejarah sudah jelas-jelas bahwa Mpu Bada adalah anak ke 4 dari Hyang..makanya perlu hati-hati jika memperhatikan pembalikan fakta sejarah yang sering dilakukan oleh Pihak Toba dewasa ini.
Anak Sulung,Mahaji mempunyai Kerajaan di Banua Harhar yang mana saat ini dikenal dengan nama Hulu Lae Kombih,Kecamatan Siempat Rube.
Parbaju Bigo pergi ke arah Timur dan membentuk Kerajaan Simbllo di Silaan,saat ini dikenal dengan Kecamatan STTU Julu.
Ranggar Jodi pergi ke arah Utara dan membentuk Kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama Kerajaan Jodi Buah Leuh dan Nangan Nantampuk Emas,saat ini masuk Kecamatan STTU Jehe.
Mpu Bada pergi ke arah Barat melintasi Lae Cinendang lalu tinggal di Mpung Si Mbentar Baju.
Raja Pako pergi ke arah Timur Laut membentuk Kerajaan Si Raja Pako dan bermukim di Sicike-cike.
Bata pergi ke arah Selatan dan menikah kemudian hanya mempunyai seorang Putri yang menikah dengan Putra Keturunan Tuan Nahkoda Raja.Dari sini menurunkan marga Tinambunen,Tumangger,Maharaja,Turuten,Pinanyungen dan Anak Ampun.
Sanggir pergi ke arah Selatan tp lebih jauh daripada Bata dan mmbentuk Kerajaan di sana,dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka,Mungkur dan Kelasen.
Suari Menikah dengan Putra Raja Barus dan memdiam di Lebbuh Ntua.
Marga Manik diturunkan oleh Mpu Bada yang mempunyai 4 orang anak yaitu :
- Tndang
- Rea sekarang menjadi Banurea
- Manik
- Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boang Menalu dan Bancin.
Demikian ringkasan buku ini saya buat..mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan Sejarah Pakpak dan beserta Marga-Marga yang diturunkan.Tujuan penulisan resensi ini hanya untuk lebih memperkenalkan buku yang ditulis oleh Bp.Mansehat Manik,S.Pd
Jika ada yang berminat untuk memesan maka bisa memesannya pada website resmi Pakpak Dairi melalui Bp.Heddi Manik




Robert HG berkata
blognya bagus..silahkan berkunjung di blog saya http://www.rhgmsi.blogspot.com
Julius Silalahi berkata
Tabek Laeku,
Bicara tentang Batak Toba (disebut toba awalnya yang bermukim di pinggiran danau toba) maka perlu referensi yang lebih netral tapi sahih.
Coba Lae buka-buka buku A Malay Frontier, Perjalanan Marco Polo.
Kisah populasi Batak (toba) baru terbuka setelah penemuan champor (kapur barus) yang di Sumatera hanya terdapat di pedalaman dataran tinggi toba (sekarang kabupaten Humbahas, dan ada juga dari sekitar Silindung – Taput sekarang).
Menyebutkan salah satu manuskrip di Arab (catatan referensi dari Perjalanan Marco Polo) yang dibuat di abad 9 M mengatakan ada komunitas battas (battaks) di hinterland Sumatera (dekat Barus) dengan sifat/karakter tertentu (tidak perlu saya sebut, tapi gak enaklah dibaca apalagi membayangkan). Lalu Jhunghun pun perlu menuliskan komunitas batak ini dengan karakter sifat yang sama. Demikian juga Pdt. Ward sesaat sebelum perjalanannya menuju isolated land (tanah batak).
Buku A Malay Frontier (Jane Drakard) yang bersumberkan buku Asal Turunan Barus (dibuat awal abad 19 M) menuliskan sejarah kerajaan Barus dimulai dari Lobu Tua (kota lama) lalu Fansur yang berubah jadi Barus. Dalam buku A Malay Frontier disebutkan ada dualisme kerajaan: Barus Hulu (dinasti Pardosi) dan Barus Hilir (dinasti Pasaribu). Dinasti Pardosi diyakini muncul sebelum abad ke 10 M, . Ini seiring dengan pembukaan kota Lobu Tua diperkirakan pada abad ke 7 M (baca juga buku Barus – Seribu Tahun Lalu). Dinasti Pasaribu (Ibrahimsyah) sendiri muncul di abad 13 M.
Dinasti Pardosi merupakan turunan dari wilayah tobah sila-silahi (lihat artinya dalam bhs. turkey).
Kedua dinasti ini lalu membuat manuskrip (kemudian disebut Kronik) masing-masing. Keduanya pun mempunyai kemiripan sejarah, pelaku dan waktu kejadian) serta bertemu dalam peristiwa interaksi keduanya.
Di Kronik Hilir (dinasti Pasaribu) juga ada disebut Batak Dairi.
Manuskrip kuno dari berbagai negara telah membuktikan bahwa sebelum abad ke 7 M Lobu Tua/Barus telah dibuka, baik oleh komunitas pendatang/pedagang (India, Arab, Turki, Cina, Jawa, Minangkabau, sampai Bugis) dan lokal. Lalu siapakah lokal ini?
Komunitas lokal besar peranannya dalam mengambil/mengeluarkan/membawa camphor (kapur barus) dari pedalaman toba hingga ke pesisir (pantai-Barus), lalu menjualnya. Juga ada beberapa komoditi istimewa yang banyak terdapat di daerah ini.
Tanpa adanya camphor ini, niscaya ada berita mengenai Barus dan daerah di sekitarnya. Komoditi ini yang membuatnya terkenal dan membuat pedagang sedunia berbondong-bondong berusaha mencapai daerah Barus.
Ada indikasi mengatakan bahwa salah satu wangi-wangian yang dibawa oleh Majus sesaat kelahiran Yesus adalah camphor. Bukankah kelahiran Yesus dijadikan awalan Tahun 1 (awal abad 1 M). Kalau ini benar maka kita mundur lagi ke abad ini (atau sebelumnya) bahwa komunitas batak sudah ada di pedalaman dataran tinggi toba.
Para ahli antropologi baik dari Indonesia menyebutkan, suku batak di Sumatera punya pertalian dengan suku Karen di Myanmar, suku Batac di Ilocos Philipine, dan Toraja di Sulawesi. Detil pertalian ini tidak perlu saya jelaskan. Salah satu karakter utama adalah hidup di pedalaman dataran tinggi. Tidak ada tempat yang nyaman selain tipe lokasi seperti itu. Sesuai benar dengan daerah asal mereka.
Komunitas ini secara maniak dan mutlak akan terus tinggal dan berkembang di lingkup tanah berkarakter khusus ini. Lalu tanah yang terbatas ini tidak bisa lagi menampung pertumbuhan penduduk hingga sebagian mulai mencari lahan baru. Pengecualian di suku Batac Ilocos yang tetap mempertahankan tinggal di dataran tinggi (secara populasi juga tidak menunjukkan perkembangan yang cepat), atau sebagian komunitas Karen yang dipaksa keluar hingga dataran rendah. Migrasi ini juga didukung mulai munculnya pendatang (pedagang) yang menggerakkan kaki penduduk lokal (toba) bergerak semakin ke pesisir.
Terjadilah migrasi ke semua wilayah khususnya Sumatera Utara. Lalu muncullah salah satunya kerajaan Barus itu, kemudian ada kesultanan Asahan (klan Marpaung), kesultanan Kotapinang, lalu menyebutkan Guru Patimpus (keturunan Sisingamangaraja I) sebagai pendiri kota Medan.
Begitulah Laeku.
sevilla99 berkata
Wah senang sekali bisa share pengetahuan antropologi dengan lawei julianus….
Tiap sumber sejarah mempunyai pendapat yang berbeda-beda namun apapun itu kita harus menghargai dan mengambil apa yang kita rasa cocok dan dapat kita percayai..bukan demikian lawei?
Ada sumber yang mengatakan Batak sama dengan suku Khmer di Kamboja namun juga ada bilang dengan Karen di Myanmar…
Sajian ayam kampung jantan khas Simalungun “Dayok Binatur” konon juga ditemukan di negara-negara Indochina sana…
Apapun pendapat kita berdua lawei namun saya sangat senang mempunyai lawei seperti lawei julianus yang bisa share pengetahun sejarah bersama saya dengan saling menghormati pendapat masing-masing.
Diatei Tupa Lawei Silalahi
Nb: Lawei silalahi apa ya?
Julius Silalahi berkata
Tabek Laeku,
Membicarakan antropologi (berikut etnographi dan etimologi-nya) suku-suku di Indonesia memang harus dilihat secara komprehensif. Keterkaitan dengan jazirah Asia (Asia mainland) hingga ke pulau-pulau di Pacific menyajikan fakta bahwa tidak ada satu etnis pun di Indonesia ini yang tiba-tiba turun dari langit dan membentuk komunitas, budaya dan bahasa sendiri.
Secara garis besar, ada dua migrasi massal yang terjadi sebelum Era Masehi yang memasuki kepulauan di Indonesia.
Gelombang pertama Melanesia dari pulau-pulau di Pacific menuju ke arah barat hingga mencapai Papua, Philipine, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Sumatera, Pulau-pulau Andaman, hingga daerah sepanjang Bay of Bengal (Myanmar, Bangladesh, India). Secara umum populasi ini berkarakter petani murni, berkelompok kecil, tertutup, dan menyukai hidup di dataran tinggi, dan daerah di kaki bukit. Kaki bukit adalah tempat untuk pemujaan / ritual kuno.
Di Sumatera, migrasi ini (kemudian disebut Melayu Tua) diyakini memasuki hingga pedalaman mencari daerah yang karakternya sesuai dengan daerah asal, hingga memasuki dataran tinggi toba dan sampai di kaki gunung Pusuk Buhit. Pusuk Buhit adalah gunung tunggal di wilayah Toba. Jika mempertimbangkan karakter awal group Melanesia, maka lokasi ini sempurna buat mereka.
Mempertimbangkan legenda Pusuk Buhit (disebut orang batak pertama tinggal di sini, letaknya arah barat danau toba) dan pengenalan dunia luar yang intens terjadi lewat pesisir barat sumatera utara, diyakini migrasi ini masuk via pantai barat sumatera utara. Perkembangan komunitas awal batak juga bergerak dari barat ke timur toba.
Gelombang kedua Austronesia (kemudian di Indonesia disebut Melayu Muda) sekitar 1000 tahun setelah masuknya Melanesia, bertolak dari semenanjung selatan Cina via Taiwan memasuki Indocina lalu ke semenanjung Malay, dan via Pulau-pulau di Philipine. Lalu masuk ke hampir seluruh kepulauan Indonesia. Inilah yang lebih sering disebut group Melayu Indonesia.
Populasi ini karakternya lebih variatif seperti bertani, berdagang, beternak, suka berkelompok dalam jumlah besar dan mengadakan interaksi dengan sekitarnya.
Populasi ini – sama dengan tempat asalnya, lebih menyukai dataran rendah hingga ke pesisir pantai.
Pertemuan kedua komunitas ini tentu tidak bisa dihindari ketika mendiami daerah yang berdekatan atau praktis terbuka secara frontral, termasuk perkawinan campuran. Oleh karena itu maka secara anatomi perkembangan populasi Melanesia mulai berbeda akibat adanya perkawinan campuran dan yang masih murni Melanesia. Di Sumatera yang telah bercampur akan berbeda dengan di Ilocos dan Papua yang masih asli. Demikian juga dengan Karen yang campur dengan ras Indocina.
Tetapi karakter dasar dan kebiasaan secara umum tetap dipertahankan ketika kembali menghuni wilayah komunitasnya.
Sayangnya, mungkin hanya populasi Melanesia di Indonesia yang bisa ikut mengecap perkembangan zaman, dan ikut berperanan di dalamnya. Tragis adalah suku Batac di Ilocos yang memang sama sekali sulit berbaur (atau memang sengaja dibatasi oleh ras mayoritas), dan suku Karen yang dianaktirikan/dipinggirkan dan dibatasi pergerakannya oleh komunitas Indocina yang dominan.
Maka Laeku, disinilah yang aku maksud benang merah antara suku batak di sumatera, toraja di sulawesi, batac di illocos, karen di myanmar (saya lupa apa nama etnik di Bangladesh dan India sana).
Laeku, tentu di atas adalah kutipan-kutipan dari literatur yang aku baca. Tetapi secara umum saya lebih menyukai telaahan dari buku-buku karangan warga negara asing dan tentu saja memperbandingkan dengan literatur lokal. Yang menarik – dari berbagai referensi asing itu, mereka saling terkait dan memiliki referensi (manuskrip) yang hampir sama (karna memang hanya itu yang ada).
Tetapi dari semua ini, kita (termasuk penulis-penulis dari abad milenium ini) adalah manusia yang punya keterbatasan yang sangat besar. Kita sedang membicarakan sejarah/populasi/kehidupan ribuan tahun yang lalu. Merekonstruksi itu sama sulitnya dengan menggayung air laut. Ketertarikan, rasa penasaran, dahaga kita pun hanya bisa terpuasi pada tingkat ereksi saja, belum sampai orgasme. Tak bisa detil dan akurat. Dengan kerendahan hati, yang bisa kita lakukan hanya memaparkan, belum meng-claim.
Orang lain lah yang menilai.
Oya, saya Silalahi Pintu Batu Lae.
sevilla99 berkata
Sebuah telaah sejarah yang bagus lawei silalahi….
Mungkin untuk wilayah Bangladesh itu suku di wilayah Nagaland yang lawei maksudkan?
Suku Karen dianak tirikan bukan karena budaya saya rasa,namun mereka dibedakan karena mayoritas dari mereka adalah kristen sedangkan penguasa di Myanmar adalah penganut Budha..proses Kristenisasi di kalangan suku Karen berlangsung sangat mudah dan damai karena dari dahulu kala mereka telah meyakini kedatangan seorang berambut pirang yang jelas berbeda etnis dengan mereka yg akan membawa kitab yang benar dan harus diikuti,jd begitu penginjil asal barat masuk ke wilayah Karen dengan membawa Alkitab maka mereka yakin ini adalah penggenapan dari cerita nenek moyang yang sudah mereka dengar sejak turun temurun maka dengan mudah dan senang hati mereka menerima ajaran kristen.Ini saya baca dari Buku Sejarah Kristen di Asia Vol.1
Kalo tidak salah masih ada suku ras negroid melanesia yang masih tertinggal di dalam pedalaman Serawak,Malaysia dan hidup terpisah dari suku dayak dan melayu di sana namun saya juga blm bisa pastikan itu namanya suku apa?
Apapun itu,kisa bertukar informasi sejarah di sini bukan untuklah berdebat yang tanpa hasil dan hanya membuang energi namun mencari jalan keluar dan memperkuat persaudaraan kita lawei….
Diatei Tupa Lawei Silalahi Pintu Batu
salam buat Besan dan anak-anak di rumah
Julius Silalahi berkata
Betul Laeku. Anutan agama Kristen di mayoritas etnis Karen memperparah kebencian dan ketidaksukaan pemerintah maupun mayoritas ras indocina di sana. Jadi ingat kisah si kembar Karen yang dijadikan icon di sana thn 90-an(lupa namanya, Robert ?).
Dan terakhir, kebencian ini dapat juga tersirat kita lihat dalam film Rambo terakhir itu.
Salam juga Lae buat keluarga di rumah.
Sebelumnya, Selamat Natal 25 Dec 08, dan Tahun Baru 1 Jan 09.
Jejak Hindu-Buddha dalam Sejarah Suku Pakpak « Paco Paco berkata
[...] http://sevilla99.wordpress.com/2008/11/21/review-buku-silsilah-marga-manik-pakpak-dairi/ [...]