Hari ini saya menerima buku “Orang Simalungun” yang kali ini dikirimi oleh Lawei Rosen Saragih Manihuruk alias Asenk Lee Saragih.Saya juga pernah mendapatkan buku ini dari Tulang Martin L. Sinaga,jd saat ini saya mempunyai 2 buku “Orang Simalungun”,rencananya buku ini mau saya hadiahkan pada abang saya Bp.M.Purba Siboro yang juga Ketua Partumpuan Simalungun di Sorong.
Selain itu juga Lawei Rosen mengirimkan 3 eksemplar majalah “Sauhur”,saya sangat berterima kasih atas perhatian dari lawei Rosen kepada saya yang selalu ingin mempelajari ttg budaya Simalungun.
Buku Orang Simalungun ini fokus kepada bagaimana Sikap dan Sikap Orang Simalungun dalam memandang hidup dan lingkungan di sekitarnya.
Setidaknya ada beberapa dampak yang menyebabkan terbentuknya karakter atau kepribadian orang Simalungun yaitu :
- Dampak Sampar : Saat Kerajaan Nagur dilanda wabah Sampar yang membuat warga banyak berpindah ke Pulau Samosir membuat Kerajaan Nagur menjadi kosong melompong,setidaknya 1 generasi hilang di Kerajaan Nagur karena perpindahan ke P.Samosir.Hal ini menyebabkan Orang Simalungun saat ini kebanyakan menjadi Lamban/Penakut.Maksudnya kurang berani mengambil resiko jd lebih banyak menghindar.Lebih senang berjuang diam-diam daripada bersaing terbuka.
- Dampak Desintegrasi Masyarakat Nagur : Pecahnya Kerajaan Nagur dan kehadiran para migran terutama dari Toba membuat masyarakat Simalungun sering mencurigai pihak lain dan kuat menyimpan rahasia.Di Simalungun terdapat ilmu beladiri yang khas yaitu Dihar.Menyimpan Rahasia pada orang Simalungun dikenal dengan istilah :marlapis do bajut” artinya jangan pernah transparan 100% kepada pihak lain,makanya Orang Simalungun lebih banyak yang pendiam.
- Dampak Kasta Masyarakat : Sistem pemerintahan Kerajaan Simalungun yang diwarisi dari India membuat masyarakat terbagi dalam 3 kasta yaitu : Partuanon,Paruma dan Jabolon,Hal ini membuat masyarakat Simalungun kurang menyatu karena berbeda tingkat ekonomi,pendidikan,kampung bahkan marga.
- Dampak Kedatangan Belanda dan Migran : Kedatangan Penjajah Belanda di Tanah Simalungun dan diikuti dengan tenaga kerja dari Jawa dan Toba benar-benar memporakporandakan tradisi,tatanan an eksisten orang Simalungun.Prestasi dan Budaya Simalungn menjadi tidak diakui bahkan sering diputar balikkan,misalnya dukungan Belanda bahwa Simalungun adalah dispora dari Batak dan asal orang Simalungun dari Pusuk Buhit.Tanah Simalungun diposisikan sebagai Tanah yang Kosong,ini membuat orang Simalungun tersingkir dan hilang jati diri.Orang Simalungun menjadi Apatis seperti tidak berdaya,sayangnya hingga saat ini malah generasi Simalungun lebih percaya adu domba Belanda yang menyatakan Simalungun adalah diaspora Toba ketimbang mempelajari sungguh sejarah asli Simalungun.
- Dampak Sistem Pemerintahan Kerajaan : Kerajaan-kerajaan Monarki yang telah lama berkuasa di Simalungun membuat rakyat Simalungun selalu membayar iuran kepada Raja dan mengabdi kepada Raja adalah suatu kebanggaan.Kedatangan imigran Toba oleh Belanda setidaknya mengubah tatanan ini,sikap orang Toba yang tidak bisa diatur karena mereka hidup bebas tanpa diatur dan tidak pernah hidup dalam tatanan kerajaan membuat mereka berontak demi mendapatkan Tanah di atas Tanah Simalungun yang tentunya ada sokongan Belanda.Model pemerintahan kerajaan ini membuat masyarakat Simalungun tertutup dari dunia luar,tidak tertantang untuk maju dan tidak mempunyai cita-cita tinggi.Lebih suka membuang-buang waktu seperti memancing seharian daripada bertanam di kebun sendiri.Hidup menjadi Pesimis dan Apatis.
- Dampak Perang Saudara Antar Kerajaan : Dalam buku “Barita ni Tuan Rondahaim,na goran ni halak Tuan Raya Namabajan” yang ditulis oleh Pdt.J.Wismar.Saragih diceritakan mengenai peperangan yang dilakukan oleh Tuan Rondahaim Saragih Garingging yang senang berperang dan dicarter oleh kerajaan lain untuk memerangi musuh mereka.Dampak dari perang saudara ini membuat orang simalungun kurang tertarik untuk saling mendukung,masa bodoh bahkan cenderung hanya memikirkan diri sendiri
Lebih lengkapnya saya mengajak rekan-rekan untuk membaca buku ini..
Diatei Tupa



