Toraja,Diaspora Dari Batak?
Ditulis oleh sevilla99 di/pada Nopember 6, 2008
Sudah berkali-kali saya mendengarkan cerita bahwa suku bangsa Toraja adalah diaspora langsung dari Batak,dalam hal ini adalah Batak Toba/Tapanuli.
Dikisahkan bahwa seorang marga Siahaan pergi ke Sultan Makassar dan meminta tanah di wilayahnya (sekitaran Sulawesi Selatan) lalu si Siahaan ini pun pergi ke arah utara dan membuka lahan baru dan mengatakan dirinya Toraja.
Cerita yang terkesan tidak masuk akal karena budaya dan sejarah Toraja sudah dimulai berabad-abad silam dan bukan dimulai dari jaman Kesultanan Makassar/Gowa ataupun Bone.
Pihak Batak Toba selalu ingin menunjukkan dominasi mereka atas suku bangsa lain,setelah membuat buku karangan Tarombo Marga akal-akalan dan kesannya terpaksa dengan memasukkan suku bangsa lain di sekitarnya seperti Simalungun,Karo,Pakpak,Angkola,Mandailing,Gayo Alas hingga Nias kedalam hasil diaspora mereka kini bagian suku bangsa jauh yang mereka lirik yaitu Toraja.
Saya kadang merasa lucu,lucu kenapa?karena hingga saat ini pun diantara sesama orang Batak Toba sendiri masih meributkan dari mana mereka berasal?ada yang bilang tiba-tiba si raja batak itu jatuh dari langit tepatnya di Pusuk Buhit di Pulau Samosir,ada yang bilang hasil diaspora dari salah satu suku bangsa Yahudi dan ada yang masuk akal seperti kedatangan Si Raja Batak dari Thailand turun ke semenanjung malaya dan masuk ke Sumatra Utara.
Jika sejarah anda sendiri masih rancu dan tidak jelas kenapa membawa-bawa Toraja juga yang nun jauh di Sulawesi Selatan? Sesama marga aja masih sering ribut seperti yang baru-baru diposting di blog saya ini tentang seorang Sihaloho yang ngamuk dan menolak klaim dari pihak Silalahi,ini khan lucu,sesama semarga,seleluhur yaitu keturunan Raja Silahisabungan tapi saling ribut klaim sejarahnya keluarga masing-masing…kalo gini gimana tarombonya bisa dipercaya?
Sudah tinggalkan Batak Toba dengan semua keributan diantara mereka.
Toraja sebuah suku highlander yang hidup tenang di pegunungan Sulawesi Selatan sendiri mempunyai budaya yang sudah cukup tua dan matang,ini dilihat dengan betapa pentingnya memakamkan orang tua atau keluarga kita yang meninggal sehingga acara pemakaman orang Toraja sungguh melelahkan dan memakan banyak biaya namun buaday tetap budaya yang tidak dapat ditinggalkan.
Toraja juga mempunyai kebiasaan memakamkan orang yang telah meninggal dunia di gunung-gunung batu,urutannya jelas mengikuti status orang meninggal dunia tersebut,apabila ia seorang bangsawan maka ia akan dikuburkan pada tingkatan tertinggi namun jika ia hanya rakyat biasa maka hanya pada lantai bawah dari gunung batu tersebut,bahkan sambil mengingat orang yang telah wafat itu maka tidak heran jika patungnya pun dibuat dan dipasang di depan gunung batu tersebut.
Toraja juga kaya dengan mistik yaitu kemampuan membuat orang yang telah mati berjalan sendiri menuju kuburannya yang telah digali,kebiasaan ini sudah jarang dilakukan sejak banyak masyarakat Toraja berpindah dari agama animisme leluhur dan menerima Injil Kristus kemudian menganut Kristen Protestan maupun Katholik.
Kesamaan antara Batak Toba dengan Toraja hanya pada warna suku yang sama yaitu Merah Hitam Putih dan sama-sama beragama Kristen..selebihnya tidak ada…
Pertanyaan saya,jika Batak Toba mengklaim bahwa Toraja adalah diaspora dari mereka maka apakah mereka bisa menjalankan orang mati itu menuju kuburan mereka?cape deh…kyknya ga bisa deh….
Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa Toraja adalah Toraja dan bukanlah hasil diaspora,Batak kaya dengan budaya dan bahasa mereka sendiri demikian pun Toraja.





Dany Saragih berkata
Wah.. Gag baru tau aku ada juga klaim sampai ke sulawesi sana..
Trimakasih tulisannya bang..
Saya harap ini jd pelajaran buat suku2 di Indonesia.
Horas..
Saor Silitonga berkata
Horas… apa kareba sangmane Michael. Saya juga beristri Simalungun boru Sumbayak dan sekarang tinggal di Rantepao Tana Toraja. Anak saya lahir di tana toraja, saya kasih nama TORA. Jadi tentang Toraja… wahhh… saya selalu mengatakan, “Tuhan tersenyum ketika menciptakan Tana Toraja…”, alamnya indah dan orang-orang Toraja ramah dan bersahabat. O ya, ToBa sering disebut-sebut sebagai Toraja Batak. Memang tidak mudah menyimpulkan kaitan kedua suku ini, tetapi saya menemukan beberapa kosa kata yang artinya sama, misalnya “tong tong” artinya “tetap” dsb. Marga “arruan, parapak, limbong, dsb” juga sama minimal mirip. Tetapi perlu study lebih lanjut tentang itu.
Intinya, saya hendak mengatakan…. datanglah ke Toraja… engkau akan menemukan satu sisi lain keagungan hidup manusia.
Horas…. kareba melo.
sevilla99 berkata
Diatei tupa lawei…alo-alo kami bulan maret 2009 nanti…kami sekeluarga besar akan jalan-jalan ke Tanah Leluhur nenek saya di Tanah Gantaran,Sangalla…
Istri saya mau jalan-jalan ke Toraja,mungkin setelah ditarik-tarik ada hubungan sodara sama kakak boru sumbayak di rumah….hehehe..
Koq bisa ya ada keluarga Toba-Simalungun di Rantepao…bisa ceritakan lawei?oh ya ada banyak komunitas Simalungun di sana?
Ditunggu infonya ya lawei….
ein berkata
wah hebat sekali itu orang batak ya….
Kalo di Toraja menurut ceritanya yah suku asli kami(Toraja) itu dibawa oleh orang cina Selatan
sevilla99 berkata
Hehehe hebat donk…apalagi kalo soal klaim meng-klaim udah jagonya orang Toba…bukan cuma pada suku lain di sekitar mereka aja (simalungun,karo,pakpak dll) namun hingga ke Toraja,Karen (myanmar) bahkan sampai suku Batak di Palawan,Filipina yang ras negroid (negrito) juga ikut diklaim….
Dian Matias Saragih berkata
Horas Lawei Michael Tomarere.
Di milis hkbp@yahoogroups.com ada yang menulis bahwa sesungguhnya tarombo(silsilah) orang batak Toba itu baru dibuat sejak 50-an tahun yang lalu. Ada analisis mendalam tentang hal ini.
Tarombo itu banyak mitos. Ada orang Yahudi, teman seseorang di milis hkbp, sanggup mengurutkan silsilahnya hingga ke Adam. Weleh…weleh…
Tapi kita tidak bisa anggap remeh terhadap mitos. Dia bisa menjadi daya dorong kehidupan, entah kepada kemajuan bahkan kepada kemunduran.
Tabik
sevilla99 berkata
Horas Lawei Dian Saragih
Kalo soal susunan marga maka saya lebih percaya pada tarombo marga suku Karo.
Kenapa?
Karena mereka lebih sportif dalam menerima suku bangsa lain yg masuk menjadi bagian dari mereka…
seperti Sembiring Pandia,Cholia,Brahmana dll yang berasal dari India lalu berafiliasi ke Sembiring Karo
Jadi dari mana pun mrk berasal yang penting sudah mengaku bagian dari Karo maka saudaralah mereka…
gak kyk Toba yang selalu asal klaim bahwa semua berasal dari satu nenek moyang dan berasal dari Si Raja Batak….
Seperti Lawei juga yang oppung ni oppung dari Samosir,Toba dengan marga Sidabutar lalu masuk ke Simalungun
dan berafiliasi ke Saragih,asalkan lawei ber-ahap Simalungun,berbudaya Simalungun,berbahasa Simalungun maka
jadilah Lawei seorang Simalungun bukan lagi Toba dan benar-benar SARAGIH…salut saya pada lawei…
Diatei tupa lawei untuk kunjungannya di blog saya ini…
batakan berkata
Salam Hormat,
Seumur hidup, baru kali ini saya membaca “Orang Batak meng-klaim diri sebagai nenek moyang Orang Toraja”. Sya tidak tahu, harus ketawa ngakak atau malah geleng-geleng kepala. Saya Orang Batak, dari pihak ayah dan ibu, sedikit banyak juga dibesarkan dengan cerita asal-usul nenek moyang, dengan segala mitosnya, tetapi saya berharap dan selalu berusaha tidak menjadi picik dengan menerima cerita-cerita itu mentah-mentah, apalagi mengecilkan keberadaan suku/pihak lain dengan menyebarkan cerita-cerita/klaim tak jelas. Beberapa mitos itu bisa dipetakan, dengan peta penyebaran marga, tempat tinggal dan seterusnya, tetapi jelas, tidak semua hal bisa dibuktikan dengan amat jelas seperti hitungan matematis.
Seandainya pemilik blog ini bisa menunjukkan artikel atau sumber dari cerita tersebut, dengan senang hati saya ingin ikut berdiskusi di blog saudara. Tetapi, karena saudara tidak ada menunjukkan sumber apapun, hanya menuliskan dengan pengantar “katanya”, “dikisahkan” dan seterusnya, maka saya pun akan menanggapinya secara sambil lalu saja.
Pertama, sangat menggelikan kalau Orang Batak (Toba) menjadi asal Orang Toraja. Apalagi diaspora-nya secara langsung. Sederhana saja, bagaimana caranya mereka sampai di Sulawesi? Naik kapal? Terbang? Atau jalan kaki? Tiga opsi konyol itu akan mentah semua. Naik kapal tak mungkin, sebab kalau Batak punya keahlian membuat kapal dan pelayaran, pasti ada jejaknya yang tersisa sampai sekarang. Tidak mungkin hilang begitu saja. Paling tidak, dalam cerita-cerita rakyat, bahasa, atau penggambaran dalam objek lainnya. Terbang, apalagi. Jalan kaki? Mau lewat mana? Emangnya bisa jalan kaki lewat laut ribuan kilometer??? Ada-ada saja. Untuk diketahui, Orang Toba punya tradisi agraris yang sangat panjang, bahasa, arsitektur, pola hidup, pakaian, alat rumah tangga, dst, bisa menjelaskan panjang lebar tentang hal itu. Tinggalnya saja di perbukitan. Kalau memakai alur berpikir saudara, tentunya mereka naik kapal bukan? Mana Mungkin!!!
Kedua, soal mitos. Bacalah cerita suku-suku bangsa manapun di dunia ini, semua punya versi sendiri. Ada yang mengaku keturunan Matahari, Dewa, dan seterusnya. Ada banyak versi yang secara logika tidak masuk akal, dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Ada yang seringkali menggelikan. Tetapi, mari kita pahami dengan kepala dingin, suku bangsa manapun di atas bumi ini, pada titik tertentu pasti sampai pada titik yang tak bisa dijelaskan, kalau mau mencari kepastian tentang kebenaran asal-usul. Akhirnya muncullah mitos, sebagai penanda awal untuk menjelaskan asal-usul nenek-moyangnya. Namanya juga mitos, masak kita mau percaya mentah-mentah? Seandainya pun atas mitos tersebut muncul klaim, dengan pola berpikir modern sekarang gampang sekali menyanggah, bisa lewat tracking kemiripan DNA, bahasa, arsitektur, dll. Ada banyak cara ilmiah untuk itu, tanpa terburu-buru menyatakan suku lain picik. Ketika bukti-bukit yang sahih belum ada dan belum bisa disepakati dalam tataran ilmiah, mengapa harus panas karena cerita-cerita “konon katanya”??
Ketiga, ada bias dalam tulisan anda. Saya mencoba membacanya secara perlahan, terasa aromanya memojokkan Orang Batak. Pertanyaan saya, apakah cerita itu anda dengar dari seseorang atau beberapa orang yang kebetulan Orang Batak? Ataukah dari semua orang Batak? Janganlah menggeneralisir seenak perut, bahwa semua orang batak punya pola berpikir seperti itu. Kalau hanya satu dua yang bicara, bailkah anda katakan terus terang, misalnya “Cerita Konyol ini saya dengar dari seorang Batak, namanya si Anu…” Beres kan? Jangan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.
Keempat, terpaksa saya menilai bahwa anda memang bias dan tidak mengerti apa yang anda tulis. Seperti halnya buku Tarombo, yang mana yang anda maksud? Bisa sebutkan satu saja judulnya? Anda juga mempertukarkan begitu saja istilah Tapanuli dengan Batak, tidak sama itu kawan. Bedakan istilah kewilayahan dengan suku. Untuk lebih jelasnya, bacalah disertasi Lance Castles, seorang Inggris yang meneliti tentang Tapanuli dan diterbitkan Gramedia tahun 2001, dengan Judul Tapanuli, Kehidupan Politik suatu Keresidenan di Sumatra, 1915-1940.
Kelima, baiklah kita menulis dengan kepala dingin, dan sedapat mungkin menghindari bias. Itu bisa kita lakukan dengan mempergunakan sumber yang terpercaya dan cara menulis yang baik. Terimakasih, dan saya akan angkat topi pada anda, jika tulisan ini bisa muncul di blog anda, berarti anda mau membuka ruang pencarian kebenaran dari sudut yang tak selalu sama, bahkan yang tak sejalur dengan anda. Itulah sikap intelek sejati.
Damailah Indonesia tercinta, sebab kita semua bersaudara. Horas
sevilla99 berkata
Silahkan Anda tertawa geli…itu artinya anda tidak gaul krn sudah banyak klaim Orang Batak/Toba atas Toraja yang menyatakan bahwa Toraja adalah diaspora dari Batak/Toba…
Setidaknya komen Lawei Saor Silitonga di atas menunjukkan hal tsb :
Horas… apa kareba sangmane Michael. Saya juga beristri Simalungun boru Sumbayak dan sekarang tinggal di Rantepao Tana Toraja. Anak saya lahir di tana toraja, saya kasih nama TORA. Jadi tentang Toraja… wahhh… saya selalu mengatakan, “Tuhan tersenyum ketika menciptakan Tana Toraja…”, alamnya indah dan orang-orang Toraja ramah dan bersahabat. O ya, ToBa sering disebut-sebut sebagai Toraja Batak. Memang tidak mudah menyimpulkan kaitan kedua suku ini, tetapi saya menemukan beberapa kosa kata yang artinya sama, misalnya “tong tong” artinya “tetap” dsb. Marga “arruan, parapak, limbong, dsb” juga sama minimal mirip. Tetapi perlu study lebih lanjut tentang itu.
Intinya, saya hendak mengatakan…. datanglah ke Toraja… engkau akan menemukan satu sisi lain keagungan hidup manusia.
Horas…. kareba melo.
Semoga pendapat dari lawei Silitonga di atas bisa sedikit membantu klaim tsb..Diatei Tupa ma..
Julius Silalahi berkata
“ToBa sering disebut-sebut sebagai Toraja Batak”. Tapi tidak ada indikasi toraja diklaim bagian dari batak.
Lae, bedakanlah “joke” dengan klaim. Saya sendiri baru baca ada joke spt ini. Kemungkinan besar joke ini hanya ada di kalangan orang batak di sulsel sana. Untuk menggambarkan adanya kesamaan kedua etnis ini.
Kalau lae jalan-jalan ke medan, banyak kosa kata yang dibuat joke spt ini. Bisa bingung lae saat ngobrol ketemu kata yang ternyata singkatan.
Orang batak terheran-heran melihat kesamaan yang kental antara batak dan toraja. Lihat saja rumah adatnya berikut lay-outnya, “marga-marga” dalam toraja (walaupun lae bilang bukan diturunkan secara biologis). Wajar saja ada yang berusaha menghubung-hubungkan sesuai imajinasinya.
Bahkan, saya pernah tonton di acara DISCOVERY (lae tau kan ini acaranya orang bule), secara sepintas membandingkan kemiripan ini dengan batak.
Bukan apa-apa lae, kalau marganya hanya mirip 1, orang anggap ini hanya kebetulan. Tapi kalau miripnya banyak? jangan tutup mata juga dong. Hanya orang yang tidak punya rasa ingin tau saja yang tidak melihat spt itu. Kebetulan rasa ingin tau dan penasaran orang batak sangat tinggi, maka hanya orang bataklah yang sering terdengar ngobrolin ini.
Apalagi batak dan toraja dipisahkan oleh jarak dan lautan seperti itu?. Kok bisa banyak yang sama? Ada sesuatulah. Ini yg perlu digali oleh ahli antropologi.
Ada kawan kuliahku toraja saat di Surabaya, merasa aneh jg saat ngobrol-ngobrol hal kesamaan marga ini.
Secara umum, hubungan batak – toraja dalam perbincangan ringan orang batak hanya pada tataran keheranan kesamaan itu (saya katakan ringan karna hanya sepintas lalu dan tidak pernah mendominasi pokok bahasan). Lalu muncul pandangan: bisa saja nenek moyang kita sama. Di kesempatan lain, ada yang dalam diskusi ini nimbrung dan pasif, tapi pengetahuannya tidak ada sama sekali hal antropologi dan tidak bisa menganalisa dengan baik(ini segelintir kecil jumlahnya dan tipe ini bisa juga kita temui di semua suku, bangsa, golongan, penganut agama) berimajinasi sendiri: na halak batak do ra najolo mangaranto (sekenanya saja ngomong sambil minum tuak kali). Eh, di kesempatan lain, ada yang se level cara pikirnya menanggapi serius, dan begitulah seterusnya pada tataran “underground”. Lalu kebetulan lae ikut nimbrung obrolan komunitas seperti ini, dan jadilah tulisan di atas. Bukan begitu lae?
Horas
sevilla99 berkata
Salam Hormat Lawei dan Tondongku Julianus Silalahi..
Sejauh ini saya masih berpikir bahwa kesamaan utama yang menyatukan dan membuat Toraja dengan Batak (Toba) harmonis adalah krn sama-sama adalah penganut Kristen yang mayoritas,sering ketemu di gereja dan sering mengobrol sehingga serasa seperti saudara…
Yup dalam Tuhan Yesus kita bersaudara Lawei dan Tondongku Julianus Silalahi
Diatei tupa ma
batakan berkata
Terimakasih Banyak untuk pengelola Blog, yang berbesar hati menampilkan komentar saya.
Saya sepakat dengan comment berikut-nya dari Lae Julius Silalahi, bahwa “joke” dan “klaim” perlu kita bedakan dengan kepala dingin. Adapun pendapat dari Lae Saor Silitonga yang Saudara kutip tersebut saya rasa tetap bukan klaim, beliau hanya menyebutkan bebrapa kemiripan, juga menyatakan tidak mudah menyimpulkan kaitan kedua suku ini. Selain itu, dengan eksplisit dikatakan, masih perlu ada studi lanjut tentang hal (kemungkinan kemiripan) tersebut.
Saya akui, sejarah, cerita, mitos, tambo atau apapun namanya tetang asal-usul selalu menarik, walau tak semua bisa dijelaskan dengan pendekatan ilmiah secara memuaskan. Bahkan, sebagai contoh, ada Buku tentang Arsitektur Mandailing, berjudul : PERMUKIMAN SUKU BATAK MANDAILING, Penerbit : Gadjah Mada University Press, Pengarang : Cut Nuraini Cetakan : pertama, September 2004,Tebal : xvi+162 halaman***, yang menuliskan salah satu versi kisah asal-usul Suku Mandailing yang berasal dari Sulawesi.
Sulit menerima kebenarannya, tetapi setidaknya cerita itu lebih masuk akal, karena sampai sekarang, beberapa Suku di Sulawesi masih memiliki kemampuan navigasi, pembuatan kapal, dan pelayaran yang bukti-buktinya masih bisa ditemukan, bahkan dilestarikan sampai saat ini. Mereka adalah pelaut-pelaut yang pemberani, sampai hari ini.
Tetapi, kemiripan Suku Batak (entah Batak apapun itu) dengan Toraja, menurut saya tidak dapat kita nafikan begitu saja, apalagi kita katakan dibuat-buat. Saya lebih sepakat untuk mengatakan, Ada Kemiripan, walau masih harus dibuktikan lebih lanjut. Bahkan beberapa buku yang saya baca juga menyebutkan, ada kemiripan Suku Toraja dan Suku Batak dengan Suku Karen di Myanmar, Batac di Philippina, dll. Menarik bukan, kalau itu bisa kita gali. Entah siapapun atau dari manapun nenek-moyangnya, itu sangat menarik untuk dteliti lebih lanjut.
Demikianlah dulu, terimakasih atas diskusi dan tanggapan yang menarik.
Horas_Batakan
sevilla99 berkata
Diatei tupa saudaraku Lawei Horas_Batakan yang sudah ikut rembug dan berdiskusi dengan santun…
Teriring Salam hormat & JCBU
sevilla99
ooy berkata
Apa Kareba Lae Michael..?
Ad kemiripan antara Toraja dan Batak, mugkin temen2 ad yang bisa menjelaskan…
Salam,
R. Lepong
Saor Silitonga berkata
Lae, ito,hahanggi, pariban maradu sude hamu napinarsangapan… molo naeng tu toraja, kontak saya di 081247031188. Salam kasih persaudaraan.
sevilla99 berkata
Mantap Lawei Silitonga…..
salam kasih dan hormat untuk besan pakon panogolan kami di Tanah Toraja
JCBU
junt berkata
logika yang masih bisa diterima akal adalah,suku batak toba dan toraja berasal dari nenek moyang yang sama ataupun memiliki hubungan yang erat. salam buat saudara2 di toraja,horas
Alvin berkata
Saya cuma mau numpang saran buat teman2 yang mau menulis apa saja tentang Suku Karo, tolong ejaanya diperhatikan ya…
Karena saya perhatikan sudah banyak sekali kata2 maupun ungkapan bahasa Karo yang ditulis tidak sesuai ejaan dan sampai saat ini sudah banyak nama2 yang semestinya Karonese sudah berubah namanya menjadi entah “apa”nese
Sebagai contohnya : Lau Baleng ditulis Lau Balang
Kuala Namo ditulis Kuala Namu, Padang Sambo; Padang Sambu, bahkan Kabanjahe sering diucapkan Kebunjahe.
Saya yakin teman2 juga peduli dengan kelestarian budaya-budaya kita masing2 , tolong yaaa…..
Nanzu Rezuta berkata
wakakakakakakakaka … lucu² …
menanggapi tentang marga –> (menurut cerita yang saya dengar dar orang tua saya)
sebenarnya marga di Toraja dulunya tidak ada. Mungkin karena pengaruh budaya Indonesia dan dunia yang memakai nama diikuti nama Keluarga di belakang sehingga orang Toraja menerapkan hal yang demikian. Contohnya saja : Kakek langsung saya namanya cuma “RUKU” doang. Tidak ada embel² di belakangnya. Penggunaan nama marga d belakang nama itu adalah nama Kakek-Kakek buyut yang terkenal pada jaman-nya (masa perang atau bangsawan) yang dipakai untuk mengenal tali kekeluargaan saja, atau kasarnya (tanda kutip ^^) “biar orang tau dari keluarga mana dia berasal”. Selebihnya tidak ada susunan mendasar tentang marga seperti orang Batak.
Terima Kasih
NB : Sepengetahuan saya Moyang Orang Toraja itu berasal dari Vietnam Selatan, dari suku Dong Son. that’s all …
klo ada yg salah dikoreksi ya? ^_^
Yunus Paulangan berkata
Kalau dikatakan orang Toraja dulunya tidak punya Marga ada benar dan ada kelirunya. Sama halnya dengan Batak siapa yang tahu pasti kapan Marga mulai digunakan dengan tujuan yang sama? Saya orang toraja dan memiliki marga, hanya saja akhir-akhir ini sudah jarang diterapkan dan cenderung seperti dengan statement Ipar dari Batak bahwa Marga sekarang digunakan tidak lebih hanya untuk mengenal dan mengkaitkan ikatan keturunan yang sudah mulai tidak jelas. Perlu saya sampaikan bahwa persoalan marga di Toraja telah mulai terkikis oleh masukknya budaya-budaya terakhir yang cenderung sporadis mengubah sendi-sendi peradaban dan peradatan masyarakat Toraja dan diperparah dengan penjajahan dari bangsa Eropa maupun suku bangsa Indonesia yaitu suku Bugis beberapa tahun yang silam sehingga terjadi kekacauan, kehancuran tatanan Adat, Kerajaan dan Persatuan suku bangsa Toraja yang melegenda itu.
Mengenai kesamaan TOBA-TORAJA, menurut hemat Saya adalah hal yang wajar selain karena kesamaa dominasi kepercayaan, yaitu Yesus Kristus namun lebih dari itu menurut sejarah nenek moyang yang pernah Saya dapatkan dari moyang Saya adalah Orang Toraja berasal dari Yunan dan mungkin juga Orang Batak juga demikian atau paling tidak memiliki suku-marga yang berdekatan di daratan Asia di sana. Memang kalau dilihat dari cerita hasil penuturan turun temurun kebanyakan suku di Indonesia khususnya TOBA dan TORA dimana nenek moyangnya merupakan suatu manusia yang diturunkan langsung (berbeda dengan versi penciptaan Adam-Hawa versi Kitab Cuci).
Kesimpulannya bahwa, kita TOBA-TORAJA adalah satu marga paling tidak, tetapi kalau dikatakan TORAJA adalah diaspora Orang Batak adalah keliru besar dan Saya pikir orang Batak juga tidak memasukkan akal logikanya kalau kita mengatakan sebaliknya.
Thanks untuk sharingnya. GBU
From
Yunus P. Paulangan (tinggal di Jayapura, sementara di Bogor).