Sevilla99 – www.sevilla99.wordpress.com

Tentang Papa,Mama dan Vincenzo Girsano Wong Tomarere Serta Semua Yang Terjadi Di Sekitar Kami

Sejarah Marga Saragih Dari Sudut Pandang Simalungun

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 25, 2008

Kali ini saya coba membahas tentang marga Saragih yang banyak mendiami Tanah Simalungun bahkan bisa dikatakan merekalah salah satu penduduk asli Tanah Simalungun.

Saat ini banyak berkembang mengenai sejarah marga ini yang selalu digencarkan oleh pihak Toba bahwa marga Saragih ini adalah hasil diaspora dari keturunan Saragi Tua anak dari Raja Nai Ambaton,namun saya tidak sepaham dengan sejarah yang menurut saya rekaan pihak Toba namun hanya merupakan kebetulan sama nama aja antara Saragi anaknya Raja Nai Ambaton dengan Saragih yang berada di Simalungun yang diyakini berasal India atau sekisaran Kerajaan Nagore tempo dahulu.

Adapun Raja Nai Ambaton bukanlah raja yang seperti kita bayangkan selama ini bahwa ia mempunyai kerajaan,kekuasaan yang luas dan rakyat tp Raja Nai Ambaton hanyalah sebutan raja alias kepala kampungnya saja seperti halnya Raja Silahisabungan dan juga Raja Sisingamaraja karena rakyat Toba tidak pernah mengenal sistem tertata feodalisme seperti yang dijalankan oleh Raja-Raja di Simalungun yang benar-benar sebuah Kerajaan pada arti sebenarnya.

Alkisah seorang keturunan Raja Saragih di Simalungun masuk hutan untuk berburu hewan buruan,si Saragih ini ditemani berburu dengan Harimau kesayangannya,keasyikan berburu tanpa ia sadari bahwa ia sebenarnya sudah jauh meninggalkan tanah Simalungun dan berada di Tanah Toba.Rupanya ia tersesat di daerah yang baru pertama kali datangi tersebut.

Tinggallah ia di sana dan menikahi gadis boru Toba kemudian beranak ia dan menghasil anak-anak yang kemudian akan menurunkan marga Simarmata,Turnip,Manihuruk,Sitanggang dsb..

Ketika usianya semakin tua,rindulah si Saragih ini pada kampung halamannya di Simalungun,ia pun berniat untuk kembali,sebelum ia berangkat balik ke Simalungun ia berpesan kepada anak dan cucunya bahwa mereka wajib untuk kembali ke Tanah Simalungun karena aslinya leluhur dan tanah mereka adalah di Simalungun bukan di Toba.

Makanya mengapa banyak marga-marga yang katanya tergabung dalam “Parna” tsb selalu digerakkan untuk kembali ke Simalungun dibandingkan dengan marga-marga Toba lainnya.Ini dikarena bahwa Simalungunlah tanah leluhur mereka.

Kita bisa mengambil contoh dari marga Simarmata yang lebih banyak bersembunyi dibalik marga Saragih yang artinya lebih banyak marga Simarmata yang di Simalungun ketimbang dengan Simarmata yang berada di Toba.

Ini hanyalah mengisahkan ulang sejarah marga Saragih dari sudut pandang Sejarah Marga Saragih Simalungun,jika ada yang terganggu dengan kisah sejarah ini,saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Diatei Tupa

13 Tanggapan ke “Sejarah Marga Saragih Dari Sudut Pandang Simalungun”

  1. Jaya Afrianto berkata

    Sepertinya cerita ini juga kurang jelas, namun jika di perhatikan lagi, ada benarnya juga karena disimalungun saragih itu masih sebagai satu marga utama, sedangkan di batak toba mereka hanya mengaku sebagai kumpulan dari parna, bukan saragih. itu berarti saragih itu asalnya adalah dari simalungun…dan yang merantau ke samosir itu membuat marga mereka masih-masing dan membuat satu perkumpulan yaitu parna. begitukah?????

  2. sevilla99 berkata

    Kira-kira begitu lawei…karena Saragih adalah Marga Besar di Simalungun…tidak mungkin sebuah Marga Besar di suatu daerah malah jadi cabang marga dari Marga Suku lain?Parna adalah cabang dari diaspora Saragih di Toba…

  3. parlin sinaga berkata

    wah,, nai do hape ?
    miris memang, jika kita tidak mengerti akan suku kita dan budaya kita secara utuh. jujur, aku sebagai generasi muda simalungun tidak tau akan hal ini. dan tidak pernah tau akan sejarah dalam hasimalungunon.

    jadi tulisan ini sangat memberikan suatu pandangan bahwa penggelapan fakta dari toba terhadap simalungun semakin kelihatan olehku.

    diatei tupa ma bani ham….

  4. BSimarmata berkata

    Saya tidak bermaksud menggurui siapapun,hanya ingin menyampaikan informasi kepada yang berkepentingan.Tentu saja sumber informasi ini adalah ceritera dari mulut ke mulut. Konon khabarnya,entah karena pengaruh penjajahan atau karena pengaruh feodalisme,maka marga-marga yang ada di Simalungun dikelompokkan dalam empat marga,yang dikenal dengan sebutan SISADAPUR,singkatan dari Sinaga,Saragih,Damanik dan Purba.Seluruh marga mengelompok kedalam empat marga,maka banyaklah terjadi hal-hal yang lucu,seperti Sihaloho dan Sipayung masuk menjadi Sinaga,suatu hal yang tidak mungkin terjadi di Toba,karena Sihaloho dan Sipayung adalah Silalahi,sementara Sinaga ya Sinaga. Marga-marga Simarmata,Turnip,Manihuruk,Sitanggang dlsb adalah marga-marga Toba yang datang merantau ke Simalungun,karena kesulitan penghidupan di Toba,khususnya Samosir pada saat itu. Sekarang semua marga-marga itu memiliki Tugu,sebagai tanda tempat pertama sekali leluhur dari marga,seperti Tugu Simarmata ada di desa Simarmata Samosir dlsb.Kenapa Simarmata,Turnip,Manihuruk dan Sitanggang memilih mejadi Saragih,karena keyakinan mereka bahwa Saragih adalah saudaranya,jadi dia tidak memilih menjadi Sinaga,Damanik atau Puba,karena ketiga marga tsb bisa menjadi kelompok isteri,tapi bisa juga menjadi kelompok boru.Memang jaman cepat berkembang,saya masih sempat ingat bahwa GKPS itu adalah HKBPS.Sekarang memang seolah-olah disosialisasikan bahwa Simalungun beda dengan Toba,pada hal dulu diyakini bersama bahwa orang Batak itu terdiri dari Batak Toba,Batak Karo,Batak Simalungun,Batak Mandailing dan Batak Pakpak.Tentu saja pengaruh agama Islampun dirasakan nyata,dan itu sulit dibendung.
    Sekarang,saya mengomentari sedikit pernyataan ini;Contoh dari marga Simarmata yang lebih banyak bersembunyi di balik marga Saragih,yang artinya lebih banyak marga Simarmata yang di Simalungun ketimbang dengan Simarmata yang berada di Toba.
    Pernyataan ini adalah sangat keliru.Saya sebagai anggota Dewan Pembina Punguan Simataraja Simarmata se Indonesia,mengetahui benar bahwa kami Simarmata yang ada di Jabodetabek saja sudah mencapai seribu KK,termasuk borunya,sementara Saragih Simarmata yang kebanyakan menjadi anggota GKPS hanya sekitar seratus limapuluh KK.Kami menyadari para keluarga Simarmata yang sudah enam atau tujuh keturunan ada di Simalungun,memang kehilangan jejak.Pengalaman menunjukkan kalau ada Saragih Simarmata
    yang akan menikah dengan gadis Toba,maka adat Tobalah yang berlaku,Saragih Simarmata ini biasanya kesulitan soal silsilah,karena dia tidak tau lagi masuk kelompok mana dia.Simataraja Simarmata,punya anak tiga orang,masing-masing Halihi Raja,Dosi Raja dan Datuktuk Raja.
    Kalau ada yang mau kembali ke marga induk,marga semula seperti yang pernah dihimbau Ephorus GKPS,Pdt Wismar Saragih,tidak ada masalah,seperti Saragih Manihuruk menjadi Manihuruk saja,dsb.Tetapi kami juga tidak mau membujuk-bujuk,karena tidak ada gunanya kalau tanpa kesadaran.Simarmata juga akan jalan terus tanpa Saragih Simarmata,demikian juga sebaliknya.
    Mari kita renungkan bersama. Penulis Ir.Berlin Simarmata MM,anggota Dewan Pembina Punguan Simataraja Simarmata se Indonesia.

  5. hidupsehari berkata

    mungkin link ini sedikit berguna
    http://www.geocities.com/rajagirsang/ulos.htm

  6. sevilla99 berkata

    Sip…Nice posting
    Diatei Tupa Saninaku…

  7. Ray Turnip berkata

    Setuju dengan yang dikatakan oleh Bapauda B Simarmata.
    Hal ini mirip dengan saya yg bermarga Turnip (dari Toba) dengan Saragih Turnip (simalungun).

  8. bonar purba berkata

    saya setuju kalau batak simalungun,batak toba,mandailing,karo,papak dan dll tidak usah dibedakan walaupun bahasa berbeda,tapi itu hanya pengaruh dr wilayah, supaya kita batak semakin bersatu dan menghasilkan kekuatan dr kekeluargaan dan akan berpengaruh untuk generasi muda.saya(simalungun)sipolin/saribu dolok. HORAS HUBATTA HAGANUPAN…………..

    • K.S. Turnip berkata

      Kelihatan penulis diatas baru mengerti sedikit sekali mengenai budaya dan asal-usul marga Saragih di Simalungun. Sayang sekali di Simalungun tidak terdapat dokument sejarah asal-usul marga yang ada di Simalungun. Saya setuju dengan apa yang dikatakan Bp. B. Simarmata bahwa kebanyakan maraga Saragih yang ada di Simalungun berasal dari TOBA lebih tepatnya SAMOSIR.
      Contoh :
      Bapak saya 4 orang bersaudara (kebetulan bapak saya yang bungsu). 2 orang abangnya yang tertua ada di Simalungun (yang tertua di Kec.Panei dan yang kedua di Kec. Tiga Runggu). “Haganup Abang pakon Boto nai Ombah ni inangtua nadua halak ai mamakke marga Saragih do”. Sampai merantau ke pulau Jawa ini otomatis semua keponakan saya yang ada di kampung dan di Perantauan memakai marga Saragih. Jumlahnya sudah belasan orang. Selain kami dari Turnip Amang boru kami (Sinurat) pun sudah tiga sampai 4 generasi di Raya. Bayangkan berapa banyak keluarga asal Samosir yang seperti kami. Bahkan sekeluarga marga Saragih di salah satu desa dimana bapak tua saya tinggal belakangan mengaku bahwa mereka adalah TURNIP karena sebelumnya mereka takut menunjukkan identitas mereka yang sebenarnya demi keselamatan, takut di teluh (duguna-gunai) atau di racun oleh penduduk yang lebih dahulu berdiam disana, atau debenci karena keberhasilan ekonomi. Mungkin, ini baru mungkin diantara marga Saragih yang ada di Simalungun TURNIP merupakan paling banyak yang kehilangan anggota, itu sebabnya marga TURNIP kelihatan sedikit sekali dibanding marga lain. Kami yang Sa Oppu saja ada belasan Kepala keluarga yang generasi pertama berdiam di Simalungan. Tersebar mulai dari Harang-gaol, Purba Dolok, Purba Tongah, Tiga Runggu, Tiga Ras, Sihalpe, Batu Onom, Tanah Jawa, Raya Huluan, Pematang Raya, Panei Tongah, Raya Bosi, Bagadu, Sigambiri, Siantar dan masih banyak nama kampung yang tidak saya ingat namanya karena sudah lama tidak dari sana (terakhir saya dari sana tahun 1987.
      Diatei Tupa.

  9. Andry berkata

    horas…………………….
    setahu Saya….marga Saragih hanya ada 2, yaitu Saragih Garingging dan Saragih Sumbayak.
    ke 2 Saragih yang di atas tersebut adalah salah satu Raja di Tanoh Habonaron Do Bona Bumi Simalungun yang letaknya di Raya.
    maaf..bagi yang merasa keberatan,tolong pelajari benar benar tentang sejarah marga Saragih.
    Nb : Garingging dan Sumbayak bukan kategori parna!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • sevilla99 berkata

      Ai ma tongon lawei Andry,marga asli Saragih Simalungun adalah Sumbayak dan Garingging,kemudian Garingging menurunkan marga Jawak dan Dasalak, ada juga yang mengatakan bahwa marga Saragih Munthe dan Saragih Permata adalah asli marga Raya juga…

      Namun kita juga tentu tidak boleh menolak marga-marga Parna + Naibaho (Sidabaho) yang masuk ke Tanoh Simalungun dahulu dan mau menjadi bagian dari marga Saragih yang kemudian marsanina dengan marga Saragih Simalungun.Sejarah telah terbentuk dan kita tidak dapat melawan sejarah tsb.

      Yang jelas Saragih Simalungun bukanlah Parna.

      Diatei tupa ma

  10. inra saragih berkata

    hita halak simalungun ulang pot kalah bani suku nalain brani tampil ulang mela.ulang LUNGUN
    ai tong iboan hita ase ulang lungunan hita

  11. Joseph "Zoxar" Saragih berkata

    Contohnya diambil sejarah Op. Marshala Saragih Manihuruk..

    Dari kecil samapi pemuda, Op. Marshala masih memakai marga Manihuruk karena dia dibesarkan di pulau Samosir. Op. Marshala melihat daerah Simalungun yang sedang mengalami krisis perang dunia. Op. Marshala hendak merantau ke Simalungun lewat danau Toba. Op. Marshala membantu orang-orang Simalungun berperang dengan penjajah Belanda. Op. Marshala berhasil menguasai daerah simalungun. Op. Marshala dipanggil Raja Girsang dan lalu dilatik sebagai Panglima Besar. Raja Girsang memberi nama marga Saragih kepada Op. Marshala. Nama Marshala Manihuruk berubah jadi Marshala Saragih Manihuruk. Op. Marshala menikah putri Raja Girsang. Marga Manihuruk memang berasal dari Samosir.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>