Sevilla99 – www.sevilla99.wordpress.com

Tentang Papa,Mama dan Vincenzo Girsano Wong Tomarere Serta Semua Yang Terjadi Di Sekitar Kami

Arsip untuk Oktober, 2008

Indah Bertemu Ortizan Solossa

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 31, 2008

Sudah lama sebenarnya Indah ingin bertemu dengan pesepakbola nasional yang dimiliki oleh Kota Sorong yaitu Ortizan dan Boaz Solossa,namun beberapa kali ketika saling lewat di supermarket selalu saja tidak berani menyapa…

Tadi ketika selesai dari lantai 2 belanja sepatu untuk gerejanya Indah maka kami pun turun ke lantai 1,sepintas saya melihat seseorang yang menggunakan kostum bola Arema Malang yang asli dan bertuliskan nama Ortiz.

Dari wajahnya mmg terlihat seperti Solossa bersaudara namun mereka khan ada 3 orang yaitu Ortizan,Nehemia dan Boaz Solossa,saya masih berani pastikan bahwa pria tsb yang mana?apakah Ortizan sendiri atau Boaz atau jangan-jangan Nehemia,kalo salah sebut nama khan malu…

Indah lalu meminta ijin pada saya untuk berfoto dengannya,saya pun mengijinkan karena sudah beberapa kali kami bertemu dengan Ortizan atau Boaz Solossa ketika pulang kampung libur kompetisi selalu saja tidak berani menyapa atau foto bareng.

Indah pun mengejar Ortizan di dalam Supermarket Saga,namun tidak berani menyapa dan hanya menjaga jarak 5meter darinya,membuat saya jadi gregetan melihatnya…ini udah ditunggu-tunggu sekian lama eh ketika udah ada orangnya di depan mata malah didiamkan.

Akhirnya saya maju dan mendekati istri Ortizan yang kebetulan lagi menerima telp entah dari siapa dan menemani istri dan anaknya belanja,saya menyapa istri ortizan begitu “ibu…boleh tanya kah?apakah kaka itu (sambil nunjuk Ortizan) kaka Ortizan atau Boaz ya?sa pu maitua bisa foto dengan kaka itu kah?habisnya dia su ngidam lama mo foto dengan pemain bola,siapa tahu sa pu anak juga pemain bola nanti tooo…” lalu ibu itu dengan ramah menjawab “itu kaka ortizan,foto sudah…” lalu ia memanggil Ortizan dan menyuruhnya untuk berfoto dengan Indah.

Point penting yang saya dapat di sini yaitu sesibuk-sibuknya lagi telp-an entah dengan siapa tapi ia mau memberikan hpnya kepada istrinya untuk dipegang sementara dan bersiap untuk berfoto dengan Indah,saya pun dengan cepat lalu mengambil foto menggunakan HP Nokia 5700 saya dan menjepret..

Selepas itu saya pun mengucapkan terima kasih pada waktu kaka Ortizan dan ia pun lalu mengambil HPnya kembali dari istrinya dan kembali ngobrol di hp..saya kagum pada sikapnya yang ramah padahal ia sudah terkenal di seluruh Indonesia sebagai pemain gelandang kiri Timnas Indonesia yang pernah bermain itu PSM Makassar,Persija Jakarta,Arema Malang dan kini membela Persipura Jayapura,bisa dikatakan semua klub NO.1 di Indonesia sudah ia cicipi namun masih ada waktu melayani permintaan kami,saya sendiri kadang kalo lagi ditelp tidak mau diganggu atau lalu ngobrol tidak mau diganggu oleh telp..padahal siapa sih saya?ini point penting yang bagus saya ambil dalam hidup bermasyarakat…

Kami pun buru-buru meninggalkan Saga Supermarket karena banyak yang melihat kami td mengambil foto dengan Ortizan..hehehe jadi malu…

Terima kasih kaka Ortizan untuk waktunya..kami sangat merasa dihargai oleh kaka…JBU

Ditulis dalam Saya dan Indah | Leave a Comment »

Asli Mana Saya?

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 30, 2008

Nama asli saya adalah Michael Fransisco Tomarere,campuran dari berbagai suku sebenarnya karena opa dan oma saya baik dari pihak papa dan mama,dari pihak Papa maka ada opa saya yang seorang Cantonese asli yang datang dari Canton,RRC tahun 1920an lalu nyangkut di Makassar dan menikahi gadis Toraja asli yaitu oma saya.Anak-anak mereka ada 7 orang yaitu :

(Alm) Thomas Wong yang kemudian anak-anaknya menurunkan marga Tomasola,Simon Tomarere yang ketiga anak laki-lakinya menurunkan marga Tomarere,(Alm) Maria Wong yang menikah dengan Piter Limbong (Toraja) dan menurunkan 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuan serta memakai marga Tarlim Samara,selanjutnya Lewi Ali Wong yang dikaruniakan 5 orang anak yaitu 3 anak perempuan dan 2 anak laki-laki,ke lima anak Paman Lewi Ali ini memakai marga Tomarere,kemudian disusul oleh Yusuf Tomarere yang mempunyai 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki,mereka juga memakai marga Tomarere,lalu Papa saya Octovianus Tomarere,kami bersaudara 4 orang dengan komposisi 2 Laki-laki dan 2 Perempuan,kami juga memakai marga Tomarere.Kemudian ditutup dengan Fredrik Tomarere yang dikaruniakan 2 anak perempuan yaitu Corry Tomarere dan Vivi Tomarere.

Mengikuti alur Patrilineal maka saya adalah Cantonese-Toraja dengan marga utama Wong namun karena kesulitan ekonomi ketika masa kecil membuat papa saya dan 3 orang saudaranya memilih menggunakan marga dari Oma saya yaitu Tomarere agar bisa mudah diterima di masyarakat selain itu juga Papa sadar bahwa ia bukanlah Cantonese totok lagi jadi suku Indonesianya yang ia tonjolkan yaitu Toraja.

Sedangkan mama saya lebih repot lagi alur darahnya karena pada mama mengalir darah Hokian dari 3 marga sekaligus yaitu Lee dan Tan dari pihak Opa dan Oey dari pihak Oma ditambah darah Kisar (Maluku) dan Portugis dari Oma saya..Namun marga yang mama gunakan adalah Taniels,sebuah marga bentukan baru dari marga Hokian Tan.

Sekarang Indah,istri saya sedang mengandung anak kami yang pertama,dengan kelamin yang kami ketahui dari hasil USG adalah Pria,bisa dibayangkan betapa rumitnya penjabaran keaslian suku anak kami nanti karena dari pihak saya sudah membawa marga Wong sebagai marga dasar,marga Tomarere dalam surat menyurat/administrasi juga darah Hokian,Kisar dan Portugis lalu ditambah dengan Indah yang Simalungun totok…

Jadi anak kami nanti akan terus bermarga dasar Wong walaupun sebenarnya darah Cantonesenya semakin berkurang dan Tomarere dari marga Toraja dalam administasi/surat-menyurat padahal mungkin nantinya secara fisik sudah dipengaruhi oleh darah Simalungun dari mamanya.

Inilah yang namanya Patrilineal…seakan-akan pihak ibu tidak punya pengaruh gen apa-apa…

Sudah berapa kali dan tidak terhitung,menikahi perempuan simalungun membuat saya seakan-akan juga asli simalungun bahkan pada beberapa kesempatan selalu orang mengira bahwa sayalah yang asli simalungun dan istri saya adalah tionghoa padahal ia sudah berulang kali mengatakan bahwa ia adalah simalungun asli namun orang selalu menunjuk saya sebagai seorang simalungun asli.

Saya senang juga dikira sebagai seorang simalungun asli karena bagus bagi saya dalam bermasyarakat dan bergaul dalam masyarakat yang ada beberapa masih berpikiran jelek/negatif pada warga keturunan Tionghoa.

Sebagai orang yang hanya dimargakan ke marga simalungun yaitu Girsang,kadang saya jadinya lebih simalungun daripada Indah..saya bahkan terkesan sangat fanatik dengan kesimalungunan saya,mencari tahu sejarah asli simalungun dan berinteraksi dengan banyak orang-orang simalungun lainnya.

Kadangkala saya malas melakukan kontak dengan orang simalungun yang telah terpengaruh toba dan saya lebih suka melakukan kontak dengan orang yang sepikiran dengan saya yaitu bahwa simalungun adalah etnis sendiri yang terlepas dari Toba,saya selalu menggali sejarah asli simalungun dan menyiarkan melalui milis maupun lisan bahwa simalungun adalah etnis/suku yang berbeda dan bukan hasil diaspora dari Toba.Kadang saya berpikir koq bisa ngotot sekali saya membela Simalungun?padahal saya cuma 15hari menginjakkan kaki di Tanah Simalungun tepatnya Saribudolok,itupun belum semua wilayah simalungun saya jalani seperti Siantar dan Raya,saya hanya sampai di Haranggaol…

Lucunya saya malas mempelajari tentang sejarah suku bangsa yang mengalir dalam darah saya sendiri seperti sejarah suku Canton,sejarah suku Hokian,sejarah suku Toraja,sejarah suku Kisar dan sejarah Portugis..tidak ada minat sama sekali..ini yang bagi saya aneh…

Dahulu ketika masih muda,papa saya berteman baik,sangat akrab alias kawan karibnya semasa lajang yaitu Hotman Damanik,saat itu Bapa anggi Damanik tsb lagi merantau dari Raya,Simalungun di Sorong lalu berteman dengan papa saya yang juga merantau dari Makassar ke Sorong.

Lalu ketika menikah,Bapa Anggi Damanik mengatakan atau sambil bergurau pada papa bahwa anak papa harus menikah dengan anaknya nanti jadi saya harus menikah dengan gadis simalungun tentunya…waktu pun berjalan,Bapa anggi Damanik pun pulang kembali ke Raya pada tahun 1982 dan menjadi guru di sana…tidak ada kontak antara papa dan bapa anggi damanik tersebut sekian lama..bapa anggi tidak tahu kalo papa sudah mempunyai 4 orang anak dan papa juga tidak tahu kalo bapa anggi damanik sudah mempunyai 3 orang anak.

Ketika saya dan indah menikah di Saribudolok tanggal 9 Feb 2008 lalu,seseorang yang tak saya kenal sebelumnya berdiri lalu memberikan kata sambutan sbb :

“Saya mengucapkan selamat kepada kedua mempelai,saya dulu pernah tinggal di Sorong,tepatnya di THR,kalo adik ini (maksudnya saya) khan tinggalnya di jalan Misol ya…Sorong itu adalah kota metropolitannya Papua jadi buat orang tua mempelai wanita tidak perlulah kuatir karena Sorong adalah kota yang berkembang”

Saya kaget ketika itu karena koq bapak ini tahu ttg kota Sorong bahkan dia pernah tinggal di Sorong,gile udah jauh-jauh di sudut kampung seperti Saribudolok gini masih ada juga orang yang pernah ke Sorong..cape deh…Ternyata Bapa anggi damanik ini adalah Tondong ni Tondong dari mertua saya..hihihi

Saat itu saya belum tahu bahwa orang tsb adalah bapa anggi damanik dan bapa anggi juga tidak tahu kalo saya ini anaknya “Lae Octo” begitulah dia memanggil papa saya…

Keesokkan harinya,Bapa anggi damanik ini sms kami dan kami pun terlibat dalam beberapa sms namun sama-sama belum tahu,masih membahas masalah-masalah umum tentang Sorong.

Setiba saya di Sorong kami juga masih sering kontak…hingga pada suatu saat obrolan kami mengalir mengenai papa saya,saya sms bapa anggi sbb :

“Tulang (saat itu masih manggil Tulang”,kenal dengan Bapak Octo?dulu dia kerja di Bengkel KAWA,kalo tulang sering bawa mobil service di sana pasti kenal dong tulang?”

Bapa anggi damanik pun membalas sms saya :

“Octo yang montir itu?dia adalah teman baik saya,orangnya jujur dan bersahabat?apa hubungannya dengan kamu?apakah dia adalah paman kamu?”

“Octo itu adalah papa saya tulang…” itu sms balasan saya…

Duarrrrrr meledak juga akhirnya..kalo dalam bidang internet disebut “Connected” juga akhirnya..bapa anggi lalu telp dan memastikan bahwa saya adalah anaknya Lae Octo lalu saya memberikan no.hp papa dan malamnya ia menelpon papa dan bertukar kabar karena sekian lama tidak ketemu…

Bapa anggi dalam obrolan mengatakan bahwa andai ia tahu bahwa yang menikah dengan Indah Sipayung itu adalah anaknya Lae Octo pasti dia akan jitak-jitak saya dengan senang karena ia sudah mengganggap sodara dengan papa saya jadi saya juga adalah anaknya…hehehe

Bapa anggi damanik dan papa pun lalu teringat dengan kata-kata bapa anggi damanik dahulu :

“Lae Octo..anakmu harus menikah dengan anakku….”

Yah itulah waktu tak ada yang dapat menduganya…kini anaknya Lae Octo menikah juga dengan “anak” Hotman Damanik,bapa anggi Hotman Damanik adalah Tondong ni Tondong mertua saya jd masih saudara dekat dengan mertua saya…otomatis Indah juga dihitung sebagai anaknya…

Jadi intinya…asli manakah saya?

Viva Simalungun

Ditulis dalam Pribadi | 2 Komentar »

Buku “RONDAHAIM,Sebuah Kisah Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun”

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 26, 2008

Pada sekitar tanggal 14 Oktober 2008 saya menerima kiriman buku yang selama ini saya cari dari penulisnya langsung yaitu Bapak Mansen Purba,SH atau saya panggil dengan sebutan Tulang.

Saya baru saja kenal dengan Tulang Purba,itu pun karena saya memberanikan diri mengirimkan email kepada Tulang Purba,saya mendapatkan emailnya dari Lawei Eben Ezer Siadari (Pemimpin Redaksi Majalah Duit) yang sebenarnya juga saya baru mengenalnya via email karena banyak artikel-artikel yang postingnya mengenai Simalungun,Yes!!Thanks God karena Simalungun saya menjadi banyak kenalan dan teman sekarang dalam berdiskusi maupun membahas sejarah dan budaya Simalungun baik dengan Lawei Pdt.Martin L. Sinaga,Lawei Eben Ezer Siadari,Lawei Muhar OmTatok Saragih & Tulang Mansen Purba,sayang sekali karena Lawei Sortaman Saragih tidak terlalu merespon email dan sms saya.

Buku tentang Kepahlawanan Tuan Rondahaim Saragih Garingging dengan judul buku “Barita ni Tuan Rondahaim,na ginoran ni halak Tuan Raya Na Mabajan” pertama kali ditulis oleh Pdt.J.Wismar Saragih namun tidak pernah ia terbitkan hingga ia meninggal dunia,nanti oleh anak bungsunya Pdt.J.Wismar Saragih yaitu Jaiman Saragih baru karya ini di publikasikan melalui fotokopi sebanyak 100 eksemplar.Dalam karya asli tersebut masih dalam bahasa Simalungun dialek Raya,kemudian baru diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Berikut ini saya coba membuat resensi buku ini :

Menurut sejarah yang ditulis oleh Pelopor Kebangkitan Budaya Simalungun tersebut diceritakan bahwa Tuan Rondahaim Saragih Garingging sebenarnya hanyalah anak selir dan bukanlah Putra Mahkota penerus Kerajaan Raya dari Permaisuri/Puang Bolon Kerajaan Raya,ayah Tuan Rondahaim Saragih Garingging adalah Tuan Huta Dolog Saragih Garingging dan Kakeknya adalah Tuan Morahkalim Saragih Garingging.

Ibu dari Tuan Rondahaim adalah Permaisuri Ramonta bermarga Suha yang berasal dari Panei,Permaisuri Ramonta Suha termasuk permaisuri yang disia-siakan oleh Tuan Huta Dolog,kurang diberi perhatian dibandingkan dengan permaisuri-permaisurinya yang lain.

Tuan Rondahaim mempunyai 2 orang saudara perempuan yaitu Tuan Puteri Essem dan Tuan Puteri Mudaha,sedangkan saudara tiri Tuan Rondahaim berbeda ibu adalah Tuan Joranim,Tuan Imbang,Tuan Taim,Tuan Puteri Kumek,Tuan Puteri Rimmani dan Tuan Amborokan.

Saking ditelantarkannya Permaisuri Ramonta membuat ia bersama anak-anaknya kadang tidak dikenal sebagai salah satu permaisuri Raja Raya Tuan Huta Dolog,begitu pun dengan pakaian Tuan Rondahaim kecil yang seadanya bahkan bisa dikatakan compang-camping membuat banyak yang menganggapnya rendah.

Namun Rondahaim sangat mudah bergaul dan bersikap sosial di masa mudanya dengan memberikan hasil ladangnya seperti tebu,pisang dan ubi pada masyarakat di sekitarnya membuat ia cepat mempunyai teman dari masyarakat jelata.

Bagi Tuan Rondahaim,tidak ada bedanya antara mempunyai ayah atau tidak karena Tuan Huta Dolog jarang mengunjungi mereka,Tuan Huta Dolog meninggal ditahun 1826 dan kemudian digantikan oleh saudara tirinya Tuan Huta Dolog yaitu Tuan Sinondang sebagai pelanjut Kerajaan Raya.

Oleh pamannya yang saat itu menjadi Raja Raya maka Tuan Rondahaim diangkat sebagai salah satu Raja Goraha (Panglima Perang) tentu saja dengan prestasi yang gemilang.

Suatu waktu salah satu penguasa bawahan Kerajaan Raya yaitu Tuan Mahata yang menjadi Tuan di daerah Manak Raya mau berdiri sendiri dan lepas dari kekuasaan Kerajaan Raya,membuat Tuan Sinondang sebagai Raja Raya perlu memberikan pelajaran kepada bawahannya tsb,Tuan Rondahaim ikut menuju Manak Raya bersama Raja Tuan Sinondang yang langsung memimpin pasukan untuk meredakan pemberontakan di Manak Raya.

Pada pertempuran di Manak Raya,Tuan Sinondang terkena tembakan di perutnya tepatnya di Kandung kemihnya yang kemudian menewaskannya,kejadian itu terjadi sesudah Tuan Rondahaim berumur 20tahun.

Masa pemeintahan Tuan Sinondang yang hanya 3tahun itu namun seakan-akan telah menyiapkan Tuan Rondahaim sebagai calon penggantinya,selepas kematian Tuan Sinondang maka naiklah Tuan Rondahaim sebagai penerus tahta kerajaan Raya walaupun banyak yang coba menghalanginya.

Cita-cita dari Tuan Rondahaim hanyalah satu yaitu memperluas Kerajaan Raya karena Kerajaan Raya masih kecil pada saat itu jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Simalungun.Jadi Ia menginginkan Kerajaan Raya menjadi luas dan terkenal.

Selanjutnya Tuan Rondahaim banyak melakukan expansi baik pada kerajaan-kerajaan di sekitarnya maupun perlawanan pada expansi penjajah Belanda di Kerajaan Raya,ketangguhan Tuan Rondahaim membuat Belanda sulit menaklukkan Kerajaan Raya hingga di akhir hidup Tuan Rondahaim.

Tuan Rondahaim,sang raja sejati Kerajaan Raya itu meninggal dengan tenang di Raya,bukan di medan juang karena ia tidak pernah terkalahkan.

Ada baiknya agar para generasi muda Simalungun untuk mewarisi semangat juang yang dimiliki oleh Tuan Rondahaim dalam mempertahankan prinsip yang tidak mau kalah dari pengaruh bangsa asing seperti Belanda,karena sesungguhnya suku bangsa Simalungun sendiri mempunyai tata aturan hidup dengan norma-norma yang cukup layak untuk dipertahankan hingga saat ini ketimbang terlalu jauh dipengaruhi oleh serangan westernisasi dari Amerika maupun Eropa.

Jika setiap generasi muda Simalungun mempunyai semangat seperti yang dimiliki oleh Tuan Rondahaim pasti Simalungun akan cepat maju dan jauh meninggalkan daerah-daerah di sekitarnya bahkan bisa menjadi barometer bagi daerah lain karena sifat Tuan Rondahaim yang cinta pada budaya sendiri dan ingin selalu menjaga wilayahnya dari pengaruh asing.

Gimana sekarang?apakah Anda sebagai Generasi Muda Simalungun mampu menjadi Tuan Rondahaim abad Milienium?

Ditulis dalam Simalungun | 10 Komentar »

Sejarah Marga Saragih Dari Sudut Pandang Simalungun

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 25, 2008

Kali ini saya coba membahas tentang marga Saragih yang banyak mendiami Tanah Simalungun bahkan bisa dikatakan merekalah salah satu penduduk asli Tanah Simalungun.

Saat ini banyak berkembang mengenai sejarah marga ini yang selalu digencarkan oleh pihak Toba bahwa marga Saragih ini adalah hasil diaspora dari keturunan Saragi Tua anak dari Raja Nai Ambaton,namun saya tidak sepaham dengan sejarah yang menurut saya rekaan pihak Toba namun hanya merupakan kebetulan sama nama aja antara Saragi anaknya Raja Nai Ambaton dengan Saragih yang berada di Simalungun yang diyakini berasal India atau sekisaran Kerajaan Nagore tempo dahulu.

Adapun Raja Nai Ambaton bukanlah raja yang seperti kita bayangkan selama ini bahwa ia mempunyai kerajaan,kekuasaan yang luas dan rakyat tp Raja Nai Ambaton hanyalah sebutan raja alias kepala kampungnya saja seperti halnya Raja Silahisabungan dan juga Raja Sisingamaraja karena rakyat Toba tidak pernah mengenal sistem tertata feodalisme seperti yang dijalankan oleh Raja-Raja di Simalungun yang benar-benar sebuah Kerajaan pada arti sebenarnya.

Alkisah seorang keturunan Raja Saragih di Simalungun masuk hutan untuk berburu hewan buruan,si Saragih ini ditemani berburu dengan Harimau kesayangannya,keasyikan berburu tanpa ia sadari bahwa ia sebenarnya sudah jauh meninggalkan tanah Simalungun dan berada di Tanah Toba.Rupanya ia tersesat di daerah yang baru pertama kali datangi tersebut.

Tinggallah ia di sana dan menikahi gadis boru Toba kemudian beranak ia dan menghasil anak-anak yang kemudian akan menurunkan marga Simarmata,Turnip,Manihuruk,Sitanggang dsb..

Ketika usianya semakin tua,rindulah si Saragih ini pada kampung halamannya di Simalungun,ia pun berniat untuk kembali,sebelum ia berangkat balik ke Simalungun ia berpesan kepada anak dan cucunya bahwa mereka wajib untuk kembali ke Tanah Simalungun karena aslinya leluhur dan tanah mereka adalah di Simalungun bukan di Toba.

Makanya mengapa banyak marga-marga yang katanya tergabung dalam “Parna” tsb selalu digerakkan untuk kembali ke Simalungun dibandingkan dengan marga-marga Toba lainnya.Ini dikarena bahwa Simalungunlah tanah leluhur mereka.

Kita bisa mengambil contoh dari marga Simarmata yang lebih banyak bersembunyi dibalik marga Saragih yang artinya lebih banyak marga Simarmata yang di Simalungun ketimbang dengan Simarmata yang berada di Toba.

Ini hanyalah mengisahkan ulang sejarah marga Saragih dari sudut pandang Sejarah Marga Saragih Simalungun,jika ada yang terganggu dengan kisah sejarah ini,saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Diatei Tupa

Ditulis dalam Simalungun | Bertanda: , , , , | 13 Komentar »

Opa Hans – Oma Sarce beserta keturunannya

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 19, 2008

Kedua sejoli ini bertemu pada sekitar tahun 1950an di Ambon,seorang pria tionghoa totok kelahiran Ambon bermarga Tan dengan seorang gadis Tionghoa campuran Kisar Portugis,mereka pun jatuh cinta dan mengikatkan cinta mereka di hadapan Tuhan dengan menikah secara resmi di gereja.

Bersama-sama mereka memutuskan pindah dari Ambon ke Sorong – Irian Barat saat itu pada tahun 1962,ketika jaman di mana Belanda masih berkuasa atas Papua,mereka yakin bahwa hidup mereka adalah di sini,di Tanah Papua.

Waktu telah berjalan dan mereka kini telah tua bahkan Opa kami,Opa Hans Taniels telah dahulu meninggalkan kekasih cintanya Oma Sarce Ratumanan pada tanggal 26 Juni 1989 menghadap sang penciptanya Tuhan Yesus.

Berikut ini saya sebagai cucu tertua dari pasangan ini coba merangkai keturunan yang telah dihasilkan dari buah cinta mereka berdua.

1.Libertus Taniels – Evy (Jakarta)

—> Ronald Taniels (Jakarta)

—> Ricardo Taniels (Jakarta)

2.Thomas Making – Anna Taniels (Sorong)

—> Anton Making (Manokwari)

—> Obed Making (Sorong)

—> Ronny Making (Sorong)

—> Theresia Making (Sorong)

3.Octovianus Tomarere – (+) Anny Taniels (Sorong)

—> Michael Tomarere – Indah A. Sipayung (Sorong)

—> Ivone Tomarere (Surabaya)

—> William Tomarere (Sorong)

—> Wenny Tomarere (Jakarta)

4.Rastra – Lance Taniels (Tangerang)

—> Chintya (Tangerang)

—> Amelia (Tangerang)

—> Reza (Tangerang)

5.Samson Taniels – Tina (Sorong)

—> Yashinta Taniels (Sorong)

—> Stefanus Taniels (Sorong)

—> Jessica Taniels (Sorong)

6.Bhakti Barus – Marcelina Taniels (Jakarta)

—> Celvin Barus (Jakarta)

—> Jessica Barus – Rusdy,anak mereka : Firdaus

—>Jellyanda Barus (Jakarta)

7.Sem – Christine Taniels (Jogjakarta)

—> Michelle (Jogjakarta)

8.Herry – Lian Taniels (USA)

—> Nicky (USA)

—> Krystle (USA)

9.Benny Taniels – Mei (Somewhere)

—> Nelson Taniels (Somewhere)

—> Samuel Taniels (Somewhere)

—> NN (Somewhere)

Demikian susunan keturunan Opa Hans dan Oma Sarce,moga-moga kedepan segera akan bertambah cucu menantu dari Opa Hans dan Oma Sarce disertai dengan penambahan Cicit…amien…

Ditulis dalam Pribadi | Leave a Comment »

KAMI PINDAH

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 16, 2008

Yup pertanggal 10 Oktober 2008 lalu kami telah pindah dari rumah kami (tepatnya rumah orang tua saya) di Jl.Misol Kampung baru ke rumah kecil dan ngontrak lagi di HBM sekitaran Remu Sorong.

Kami pindah krn ingin juga merasakan gimana rasanya hidup berumah tangga yang mandiri dan bebas mengatur rumah seperti yang kami inginkan.

Maklum tinggal bersama orang tua maka kami tidak bebas mengatur rumah seperti yang kami inginkan krn segala tatanan di dalam rumah masih menjadi hak penuh dan keputusan dari bapak saya sebagai kepala keluarga.

Kami mulai pindah pada hari jumat tanggal 10 Oktober 2008,dibantu oleh Lina (PRT kami),Chandra,Rifaldi dan Edy..luar biasa sangat melelahkan apalagi setelah mengangkat barang-barang pindah dari rumah ortu ke kontrakkan masih membutuhkan waktu untuk menata rumah kami yang baru ini.

Diperlukan kesabaran yang penuh dan semuanya baru berakhir pada hari rabu kemarin,jika semuanya terburu-buru maka tentulah kami sendiri yang tepar krn kecapekan namun saya dan indah sepakat untuk menata rumah kami ini dengan perlahan namun pasti.

Yup..kami pindah sekarang dari alamat rumah kami yang sebelum di Jln.Misol No.1b,Kampung baru menjadi Jln.Maleo no.39 HBM.

Rumah kontrakan kami terletak pada jalan kedua membuat agak sepi namun untuk ukuran kota sorong masih dapat dijangkau oleh pelanggan kami,apalagi saya hanya fokus ke penjualan yang bersifat langganan dan online membuat tidak harus mencari posisi tinggal di depan jalan utama.

Depan rumah kami dipenuhi dengan pohon pinang,mangga,jambu dan beberapa pohon lainnya membuat suasananya selalu terasa teduh dan nyaman,apalagi dengan kondisi kota Sorong yang cenderung selalu panas membakar kulit.

Selain itu juga airnya selalu jalan krn dekat dengan pusat air di kota Sorong yaitu Waterpom,air melucur dengan deras sehingga kami bisa pastikan kami tidak akan kesulitan air namun posisi yang berdekatan dengan kali remu membuat kami agak kuatir dengan potensi banjir..moga-moga aja selama 1tahun kami tinggal di sini tidak akan mengalami apa yang disebut dengan banjir..amien!

Ditulis dalam Pribadi | Leave a Comment »

Cuci Mata di Mega Mall

Ditulis oleh sevilla99 di/pada Oktober 7, 2008

Pada malam minggu lalu kami jalan-jalan ke Mega Mall,menikmati makan malam di Bakso Lapangan Tembaklalu kami coba cuci mata di bagian penjualan pakaian di Mega Mall.

Indah dengan cepat langsung memilih pakaian buat saya,baik yang baju kemeja maupun baju kaos,ia sangat antusias sekali.

Kami pun membeli 1 baju kemeja berwarna orange sambil memilih 3 baju kaos,indah juga membeli 3 baju untuknya.

Besok saya gereja memakai baju kemeja orange tsb,ternyata tante saya yang juga segereja dengan kami,Tante Henny melihat baju yang saya pakai itu terlihat sangat bagus bahkan ia langsung menanyakannya pada Indah kalo membeli baju tsb pesan di mana di jakarta?inda jelas heran lalu menjawab bahwa kami membelinya semalam di Mega Mall,Tante Henny pun heran…

Saya dan Indah sama-sama tersenyum,artinya sekarang mutu barang yang dijual di Sorong sudah tidak kalah mutu dan kualitas dengan barang-barang yang dijual di Jakarta…

Ditulis dalam Saya dan Indah | Leave a Comment »