Nama asli saya adalah Michael Fransisco Tomarere,campuran dari berbagai suku sebenarnya karena opa dan oma saya baik dari pihak papa dan mama,dari pihak Papa maka ada opa saya yang seorang Cantonese asli yang datang dari Canton,RRC tahun 1920an lalu nyangkut di Makassar dan menikahi gadis Toraja asli yaitu oma saya.Anak-anak mereka ada 7 orang yaitu :
(Alm) Thomas Wong yang kemudian anak-anaknya menurunkan marga Tomasola,Simon Tomarere yang ketiga anak laki-lakinya menurunkan marga Tomarere,(Alm) Maria Wong yang menikah dengan Piter Limbong (Toraja) dan menurunkan 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuan serta memakai marga Tarlim Samara,selanjutnya Lewi Ali Wong yang dikaruniakan 5 orang anak yaitu 3 anak perempuan dan 2 anak laki-laki,ke lima anak Paman Lewi Ali ini memakai marga Tomarere,kemudian disusul oleh Yusuf Tomarere yang mempunyai 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki,mereka juga memakai marga Tomarere,lalu Papa saya Octovianus Tomarere,kami bersaudara 4 orang dengan komposisi 2 Laki-laki dan 2 Perempuan,kami juga memakai marga Tomarere.Kemudian ditutup dengan Fredrik Tomarere yang dikaruniakan 2 anak perempuan yaitu Corry Tomarere dan Vivi Tomarere.
Mengikuti alur Patrilineal maka saya adalah Cantonese-Toraja dengan marga utama Wong namun karena kesulitan ekonomi ketika masa kecil membuat papa saya dan 3 orang saudaranya memilih menggunakan marga dari Oma saya yaitu Tomarere agar bisa mudah diterima di masyarakat selain itu juga Papa sadar bahwa ia bukanlah Cantonese totok lagi jadi suku Indonesianya yang ia tonjolkan yaitu Toraja.
Sedangkan mama saya lebih repot lagi alur darahnya karena pada mama mengalir darah Hokian dari 3 marga sekaligus yaitu Lee dan Tan dari pihak Opa dan Oey dari pihak Oma ditambah darah Kisar (Maluku) dan Portugis dari Oma saya..Namun marga yang mama gunakan adalah Taniels,sebuah marga bentukan baru dari marga Hokian Tan.
Sekarang Indah,istri saya sedang mengandung anak kami yang pertama,dengan kelamin yang kami ketahui dari hasil USG adalah Pria,bisa dibayangkan betapa rumitnya penjabaran keaslian suku anak kami nanti karena dari pihak saya sudah membawa marga Wong sebagai marga dasar,marga Tomarere dalam surat menyurat/administrasi juga darah Hokian,Kisar dan Portugis lalu ditambah dengan Indah yang Simalungun totok…
Jadi anak kami nanti akan terus bermarga dasar Wong walaupun sebenarnya darah Cantonesenya semakin berkurang dan Tomarere dari marga Toraja dalam administasi/surat-menyurat padahal mungkin nantinya secara fisik sudah dipengaruhi oleh darah Simalungun dari mamanya.
Inilah yang namanya Patrilineal…seakan-akan pihak ibu tidak punya pengaruh gen apa-apa…
Sudah berapa kali dan tidak terhitung,menikahi perempuan simalungun membuat saya seakan-akan juga asli simalungun bahkan pada beberapa kesempatan selalu orang mengira bahwa sayalah yang asli simalungun dan istri saya adalah tionghoa padahal ia sudah berulang kali mengatakan bahwa ia adalah simalungun asli namun orang selalu menunjuk saya sebagai seorang simalungun asli.
Saya senang juga dikira sebagai seorang simalungun asli karena bagus bagi saya dalam bermasyarakat dan bergaul dalam masyarakat yang ada beberapa masih berpikiran jelek/negatif pada warga keturunan Tionghoa.
Sebagai orang yang hanya dimargakan ke marga simalungun yaitu Girsang,kadang saya jadinya lebih simalungun daripada Indah..saya bahkan terkesan sangat fanatik dengan kesimalungunan saya,mencari tahu sejarah asli simalungun dan berinteraksi dengan banyak orang-orang simalungun lainnya.
Kadangkala saya malas melakukan kontak dengan orang simalungun yang telah terpengaruh toba dan saya lebih suka melakukan kontak dengan orang yang sepikiran dengan saya yaitu bahwa simalungun adalah etnis sendiri yang terlepas dari Toba,saya selalu menggali sejarah asli simalungun dan menyiarkan melalui milis maupun lisan bahwa simalungun adalah etnis/suku yang berbeda dan bukan hasil diaspora dari Toba.Kadang saya berpikir koq bisa ngotot sekali saya membela Simalungun?padahal saya cuma 15hari menginjakkan kaki di Tanah Simalungun tepatnya Saribudolok,itupun belum semua wilayah simalungun saya jalani seperti Siantar dan Raya,saya hanya sampai di Haranggaol…
Lucunya saya malas mempelajari tentang sejarah suku bangsa yang mengalir dalam darah saya sendiri seperti sejarah suku Canton,sejarah suku Hokian,sejarah suku Toraja,sejarah suku Kisar dan sejarah Portugis..tidak ada minat sama sekali..ini yang bagi saya aneh…
Dahulu ketika masih muda,papa saya berteman baik,sangat akrab alias kawan karibnya semasa lajang yaitu Hotman Damanik,saat itu Bapa anggi Damanik tsb lagi merantau dari Raya,Simalungun di Sorong lalu berteman dengan papa saya yang juga merantau dari Makassar ke Sorong.
Lalu ketika menikah,Bapa Anggi Damanik mengatakan atau sambil bergurau pada papa bahwa anak papa harus menikah dengan anaknya nanti jadi saya harus menikah dengan gadis simalungun tentunya…waktu pun berjalan,Bapa anggi Damanik pun pulang kembali ke Raya pada tahun 1982 dan menjadi guru di sana…tidak ada kontak antara papa dan bapa anggi damanik tersebut sekian lama..bapa anggi tidak tahu kalo papa sudah mempunyai 4 orang anak dan papa juga tidak tahu kalo bapa anggi damanik sudah mempunyai 3 orang anak.
Ketika saya dan indah menikah di Saribudolok tanggal 9 Feb 2008 lalu,seseorang yang tak saya kenal sebelumnya berdiri lalu memberikan kata sambutan sbb :
“Saya mengucapkan selamat kepada kedua mempelai,saya dulu pernah tinggal di Sorong,tepatnya di THR,kalo adik ini (maksudnya saya) khan tinggalnya di jalan Misol ya…Sorong itu adalah kota metropolitannya Papua jadi buat orang tua mempelai wanita tidak perlulah kuatir karena Sorong adalah kota yang berkembang”
Saya kaget ketika itu karena koq bapak ini tahu ttg kota Sorong bahkan dia pernah tinggal di Sorong,gile udah jauh-jauh di sudut kampung seperti Saribudolok gini masih ada juga orang yang pernah ke Sorong..cape deh…Ternyata Bapa anggi damanik ini adalah Tondong ni Tondong dari mertua saya..hihihi
Saat itu saya belum tahu bahwa orang tsb adalah bapa anggi damanik dan bapa anggi juga tidak tahu kalo saya ini anaknya “Lae Octo” begitulah dia memanggil papa saya…
Keesokkan harinya,Bapa anggi damanik ini sms kami dan kami pun terlibat dalam beberapa sms namun sama-sama belum tahu,masih membahas masalah-masalah umum tentang Sorong.
Setiba saya di Sorong kami juga masih sering kontak…hingga pada suatu saat obrolan kami mengalir mengenai papa saya,saya sms bapa anggi sbb :
“Tulang (saat itu masih manggil Tulang”,kenal dengan Bapak Octo?dulu dia kerja di Bengkel KAWA,kalo tulang sering bawa mobil service di sana pasti kenal dong tulang?”
Bapa anggi damanik pun membalas sms saya :
“Octo yang montir itu?dia adalah teman baik saya,orangnya jujur dan bersahabat?apa hubungannya dengan kamu?apakah dia adalah paman kamu?”
“Octo itu adalah papa saya tulang…” itu sms balasan saya…
Duarrrrrr meledak juga akhirnya..kalo dalam bidang internet disebut “Connected” juga akhirnya..bapa anggi lalu telp dan memastikan bahwa saya adalah anaknya Lae Octo lalu saya memberikan no.hp papa dan malamnya ia menelpon papa dan bertukar kabar karena sekian lama tidak ketemu…
Bapa anggi dalam obrolan mengatakan bahwa andai ia tahu bahwa yang menikah dengan Indah Sipayung itu adalah anaknya Lae Octo pasti dia akan jitak-jitak saya dengan senang karena ia sudah mengganggap sodara dengan papa saya jadi saya juga adalah anaknya…hehehe
Bapa anggi damanik dan papa pun lalu teringat dengan kata-kata bapa anggi damanik dahulu :
“Lae Octo..anakmu harus menikah dengan anakku….”
Yah itulah waktu tak ada yang dapat menduganya…kini anaknya Lae Octo menikah juga dengan “anak” Hotman Damanik,bapa anggi Hotman Damanik adalah Tondong ni Tondong mertua saya jd masih saudara dekat dengan mertua saya…otomatis Indah juga dihitung sebagai anaknya…
Jadi intinya…asli manakah saya?
Viva Simalungun