Silahisabungan = Silalahi – Sipayung – Sembiring
Ditulis oleh sevilla99 di/pada Agustus 30, 2008
Menurut Tarombo Orang Batak Toba maka Keturunan dari Raja Silahisabungan adalah marga Silalahi, Sihaloho, Tambunan, Sinurat, Doloksaribu,Nadapdap,Tambunan dsb untuk Suku Toba lalu marga Sipayung untuk suku Simalungun ditambah Sembiring untuk suku Karo.
Saya pun berada kali mendapatkan info yang sama tsb yaitu ketika seseorang bermarga Silalahi berada di Simalungun maka ia pun bisa ber-afiliasi ke marga Sipayung karena sama saja begitupun apabila seorang marga Tambunan ke Karo maka ia bisa bisa berafiliasi ke Sembiring.Namun apakah semudah itu?
Dulu ketika saya tahu tentang koneksivitas marga seperti ini lalu saya coba tanyakan pada mertua saya di Saribudolok via Telp apakah bisa jika Indah mengubah marganya ke Silalahi atau setidaknya memakai marga asli leluhurnya sebelum pindah ke Simalungun yaitu Sihaloho?jawab mertua saya : Jangan,ga usah ganti-ganti marga..cukup Sipayung saja…itu seterusnya…
Saya lalu berpikir..ternyata tidak semudah yang dikatakan selama ini bahwa Silalahi bisa ubah ke Sipayung lalu Sipayung ke Sembiring…karena pada dasarnya Silalahi dsb sudah identik dengan Suku Toba,Sipayung sudah identikdengan Suku Simalungun dan Sembiring identik dengan suku Karo..apabila kita mengubah marga kita dari Silalahi yang Toba ke Sipayung yang Simalungun maka otomatis kita sudah menjadi orang Simalungun dan apabila kita mengubah marga kita yang Sipayung ke Sembiring maka sah-lah kita menjadi orang Karo.
Berganti marga maka membawa efek juga yang luas yaitu ketika seorang bermarga Sihaloho yang seorang Toba mengubah marganya menjadi Sipayung yang adalah dikenal sebagai marga Simalungun maka dia juga harus belajar adat,budaya dan bahasa Simalungun.Selama ini selalu Orang Toba menganggap bahwa Simalungun adalah hasil diaspora dari Halak Toba namun sebenarnya Halak Simalungun berdiri sendiri yang mandiri dengan mempunyai bahasa,budaya dan adat yang mandiri sebagai suatu ikatan yang kuat,apabila ada kesamaan adalah suatu asimilasi dan akulturasi antara 2 suku yang saling bersebelahan sehingga jika ada kemiripan dalam panggilan maupun budaya maka adalah sesuatu yang bisa dipahami.
Kini mertua saya juga pusing apabila adik ipar saya yang sedang menjalin hubungan kasih dengan pria Karo bermerga Karo-Karo Barus karena pria tersebut ingin agar jika mereka telah menikah nanti adik ipar saya ini mengubah marganya yang boru Sipayung menajdi Br.Sembiring.Hal ini tidak bisa diterima oleh Mertua saya karena otomatis anaknya ini akan berganti marga dari marga Simalungun ke merga Sembiring.Ternyata tidak se-elastis yang diduga ya perpindahan marga-marga ini.




Vanyudhistira Silalahi Sihaloho berkata
PANITIA LUHUTAN BOLON PESTA TUGU, ADAT DAN BUDAYA
POMPARAN OMPU RAJA SILAHISABUNGAN
BOLAHAN AMAK LOHO RAJA 2008
Kami pomparan Ompu Raja SILAHISABUNGAN dengan tegas menyatakan, bahwa :
1.PARSONDUK BOLON (PERMAISURI) OMPU RAJA SILAHISABUNGAN ADALAH PINGGAN MATIO BORU PADANGBATANGHARI.
2.PARSONDUK BOLON (PERMAISURI) LOHO RAJA ADALAH RANIMBANI BORU PADANGBATANGBATANGHARI.
Dalam hal ini Loho Raja selaku anak sulung Raja Silahisabungan mempersunting putri tulangnya/pamannya (MARBORU TULANG)
3.MENOLAK DENGAN TEGAS DAN KERAS!!! PERNYATAAN PUNGUAN SIHALOHO RAJA DOHOT BORUNA SE-JABODETABEK, BAHWA PERSONDUK BOLON (PERMAISURI) LOHO RAJA ADALAH RANIMBANI BORU MATANARI
DIHARAPKAN KEPADA SELURUH POMPARAN SILAHISABUNGAN YANG TELAH TERHASUT OLEH PIHAK – PIHAK YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB (KEPENTINGAN TERSELUBUNG DAN PRIBADI) AGAR KEMBALI KEPADA SEJARAH YANG BENAR AKAN SILSILAH ASLI RAJA SILAHISABUNGAN YANG BERSUMBER DARI RAJA – RAJA TURPUK YANG SEBENARNYA BERADA DI DESA SILALAHI NABOLAK – PAK-PAK,DAIRI.
MAULIATE, SALAM SEJAHTERA…
HORAS… HORAS… HORAS…
DITETAPKAN DI PEMATANGSIANTAR 10 NOVEMBER 2004
——————————————————————————————————————————————
–> yudhistirasilalahi@gmail.com
maulitae godang tu hamuna sude…
Horas3x…
Jhonny Sinurat berkata
Horas di hamuna Dongantubu niba, tarlumobi dahahang Sihaloho.
Ahu merasa tarsonggot do di barita ni namandok Pangintubu manang parsonduk bolon marga sihaloho saat ini sedang di permasalahkan di perantauan. Dan saya juga ada membaca di dunia maya ini surat pernyataan yang mengatakan parsondukbolon marga Sihaloho boru Matanari.
Jadi dalam kesempatan ini saya sampaikan kepada Hahadoli Sihaloho agar tetap satu prinsip seperti yang tertulis dalam sejarah yang telah digali sejak dahulu sampai berdirinya Tugu ni ompui Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak.
Jangan kita terpengaruh terhadap beberapa orang yang akan membuat keruh keyakinan dan pengakuan yang selama ini telah dinyatakan oleh orang tua kita yang terdahulu. Semuanya itu akan memecahbelah marga Sihaloho yang sangat kompak selama ini. Cukuplah permasalahan dengan Silahi Raja saja dan jangan sampai ada perbedaan pendapat lagi di hahadoli Sihaloho. Hamu marga Sihaloho adalah Saingkangan anak ni ompui Raja Silahisabungan, maka harus membuat contoh yang baik kepada kami semua adik-adikmu mulai dari pomparan Situngkir sampai dengan Tambun.
Kalau kita cinta dengan Sejarah, maka mari kita lestarikan agar anak cucu kita kelak tidak akan salah untuk meneruskan sejarah yang ada. Sehingga sejarah yang kita pelihara sampai saat ini tetap lestari sampai ke anak cucu. Amin >> J. Sinurat Pekanbaru-Riau
BSimarmata berkata
Judul tulisan ini memang menarik.Silahi Sabungan = Silalahi,Sipayung,Sembiring. Saya memberanikan diri untuk ikut urun rembuk,dengan dasar dari kecil mengetahui sedikit soal marga ini,karena ibu saya adalah boru Sihaloho,dan nenek saya(ibu bapak saya) juga boru Sihaloho.Di Toba Samosir,memang dikenal Silahi Sabungan sebagai kumpulan marga Sihaloho,Situngkir,dlsb, yang satu ayah dan satu ibu,ditambah adiknya lain ibu,Tambunan.Ada kalanya mereka,Sihaloho cs memakai marga Silalahi,mungkin karena bapak mereka adalah Silahi Sabungan.
Nah timbul masalah dengan Sipayung.Kalau Sipayung yang di Toba dan Samosir itu adalah anak dari Situngkir Raja,anak kedua dari Silahi Sabungan.Saya tidak punya data,apakah Sipayung yang ada di Simalungun itu beda dengan Sipayung anak Situngkir.Menurut orang Toba sih,Sipayung yang ada di Simalungun adalah Sipayung yang dari Samosir dan merantau ke Simalungun.Saya tidak dapat memberi pendapat soal ini.
Sedangkan Sembiring,lain lagi ceriteranya ini.Saya pernah bertugas di Medan sebagai Deputy Pemimpin PLN Wilayah Sumut,akhirnya sempat juga bergaul dengan saudara kita dari Karo dan Simalungun.Sebahagian mereka mengakui bahwa ada persamaan antara marga Toba dan Karo serta Simalungun.Marga di Karo pada umumnya dapat dikelompokkan dalam lima induk marga,sedangkan di Simalungun empat induk marga. Kalau di Toba ada Parna,maka katanya di Karo ada Gintings dan di Simalungun ada Saragih.Kalau di Toba ada Silalahi maka di Karo ada Sembiring,sedangkan di Simalungun tidak ada,maka bergabunglah mereka dengan Sinaga.
Terus terang masalah ini sudah komplex,karena pengaruh beberapa faktor yang mendukung dan yang tidak mendukung.Faktor yang mendukung adalah agama Kristen,di Toba ada HKBP,di Karo ada GBKP,Gereja Batak Karo Protestant,dan di Simalungun ada GKPS,Gereja Kristen Protestant Simalungun,yang dulunya adalah HKBPS.Agama Islam kurang mendukung soal persamaan orang Batak ini,dan sekarang banyak generasi muda Karo dan Simalungun,tidak mau disebut orang Batak,mereka hanya mau disebut Orang Karo dan Orang Simalungun.Nah sekarang persoalannya,kita mau apa,terserah kita saja,karena kini semuanya soal HAM.Ini hanya pengamatan saya saja.Ir.Berlin Simarmata MM.
Brayan Munthe berkata
Appara Simarmata horas dihamu, sama dengan anda saya juga berenya silahi sabungan (sembiring). Sembiring (keloko, sinulaki,kembaren, maha, sinupayung) adalah turunan silahi sabungan dan yang lainnya bukan yaitu sembiring yang mengharamkan biang.Kalo Parna (Toba), Saragih(Simalungun), Ginting (Karo) itu memang satu darah adalah pinompar Ompui Raja Naimbaton.
Akhir2 ini memang ada resistansi baik dari Karo maupun Simalungun tentang kebatakan. Karena dianggap dalam dinamikan kehidupan sosial ekonomi dan politik, kan orang Batak itu dinamis, itu dia, kalo pahitnya semua merasakan, tapi kalo manisnya hanya Toba yang yang merasakan (Dianggap lho!) yeach itu mungkin terjadi karena Tob itu lebih dinamis saat ini. Tapi akan beda setelah tahun 2050, Toba, Karo Simalungun,Pak-pak, Dairi, Angkola, Mandailing, Padang Lawas akan berlomba-lomba menuju kebatakannya. Kenapa? saat itu Batak mulai akan dapat pujian.
Karena dinamika tersebut dewasa ini, mempengaruhi juga kepada marga-marga. Tentang perkawinan adanya pengalihan marga, dinamikanya harus dibedakan dahulu dengan sekarang. Kalo ada perkawinan antara Simalungun dengan Toba Misalnya, si wanita boru Saragih Simarmata diambil oleh marga Sihaloho, maka sebagai paramangan siwanita Marga Sitanggang (karena hanya ada Sitanggang dikampungnya Sihaloho), Parsaninaan sihaloho adalah Sipayung (karena hanya ada sipayung sebagai perwakilan silahi sabungan disitu) itu yang berlaku selama ini.
iwan berkata
apara munthe bagaimana anda bisa menyatakan ginting dari Nai Ambaton(Parna) selama saya buka beberapa tarombo tidak ada dengan jelas menulis ada marga Ginting di tarombo Nai Ambaton
Brayan Munthe berkata
Horas appara Iwan, pakai dong margamu. Secara formal di tarombo Pinompar Raja Naimbaton tidak tertulis langsung. Dalam tarombo Ginting (siwah sada ginting), oppung mereka yang bernama Si Tindang itu yang merantau dari Tamba ke Sitinjo (Dairi) terus melingkar ke Tanah Karo. Tindang mempunyai anak 9 orang (suka, garamata, beras, jadibata . . . ) dan 1 beru Si Bembem. yang mengusai kuta2 banyak di tanah karo. Selanjutnya datang yang lainnya, seperti Munthe (Ginting Munthe), Manihuruk (Ginting Manik).
kalo di simalungun Saragih induk parna , di Karo Ginting.
sevilla99 berkata
Horas lawei…
Kalo ga salah bukannya di Toba Silalahi,Karo Sembiring dan Simalungun Sipayung/Haloho?bukan Sinaga…
Mengenai menerima sebutan Batak pada orang Karo dan Simalungun itu khan terserah pada orang tersebut…saya juga sendiri ga mau dibilang Batak..saya langsung aja bilang kalo saya dimargakan ke Simalungun bukan ke Batak Simalungun…
Menerima pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat kita pada orang lain tentu sangat bagus bukan lawei
Diatei Tupa Ma..
A.silalahi berkata
Yang buat masalah akan dapat masalah, siapa yang menginginkan hak kesulungan, akan kehilangan hak kesulungan.. Bisa menghilangkan ibu saudaranya, maka akan dadap-dadap siapa mamanya.. Bapak ngk jelas biasa itu, tapi kalau ibu yang tak jelas gimana ya, jangan2 dulu ????. Main tebak-tebakan ajalah..
Horas.
Silalahi bursok raja
Andar Sihaloho berkata
MATANARI PAKPAK PEGAGAN
Oleh; Ir. Jawaller Matanari, MS
Medan, 7 Desember 2008
Suku Batak Pakpak
Suku Batak Pakpak berasal dari keturunan imigran bangsa atau suku dari India Selatan (kerajaan Colamandala) yang pernah menyerang dan menahlukkan kerajaan Sriwijaya (di Palembang) hingga raja Sri Sangramawijaya Tunggawarman tertawan (1025 M). Kerajaan Sriwijaya ini akhirnya runtuh tahun tahun 1337 M, yang menyebabkan terjadi penyebaran manusia sehingga terbentuk suku Pakpak suak Pegagan sekitar 600 tahun yang silam. Diduga manusia pendatang (imigran) pertama yang masuk ke tanah Pakpak, Karo dan Gayo (Alas) adalah sama nenek-moyangnya, karena kata menyebutkan air (kebutuhan utama manusia) adalah hampir sama. Air bahasa pakpak adalah Lae, bahasa Karo adalah Lau dan bahasa Gayo (Alas) adalah Lawe. Kemiripan kata-kata dalam bahasa Pakpak dengan bahasa Karo adalah relatif besar. Jika di Tanah Karo terkenal Marga Silima, di Tanah Pakpak terkenal Pakpak Lima Suak (sama-sama kata lima).
Suku Batak Pakpak terdiri dari lima (5) suak yang menempati wilayah (hak ulayat) masing-masing, yakni:
1. Pakpak suak Boang, di daerah Boang, Singkil, Sumbulsalam, daerah Aceh dan sekitarnya.
2. Pakpak suak Klassan, di derah Parlilitan, Pakkat dan sekitarnya, misalnya marga di daerah Urang julu (disebut: daerah Sionem Koden) adalah Simbuyak-mbuyak (tidak berketurunan), Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger dan Anak Ampun (artinya anak bungsu, sering disebut Nahampun) dan didaerah pakat marga Meka dan lain lain,
3. Pakpak suak Simsim, didaerah kecamatan Kerajaan, Salak dan sekitarnya, misalnya marga Kabeaken, Brutu (Sinaga..?), Padang (Situmorang..?), Padang Batanghari (keturunan Parrube Haji…?), Sitakar, Tinendung, dan lain lain.
4. Pakpak suak Keppas, keturunan si Naga Jambe yang mulanya berasal dari daerah Sicikeh-cikeh dan kemudian berkembang didaerah Sidikalang yakni hanya ada 7 marga yaitu, Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo.
5. Pakpak Pegagan, di daerah Pegagan (meliputi daerah Balna Sibabeng-kabeng, Lae Rias, Lae Pondom, Sumbul, Juma Rambah, Kuta Manik, Kuta Usang dan sekitarnya, hanya ada tiga (3) marga, yaitu (1) Raja Matanari, (2) Raja Manik, dan (3) Raja Lingga.
Marga (Raja) Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan Papak Suak Pegagan (disebut si Raja Gagan ataupun si Raja Api). Si Raja Api adalah salah seorang dari Pitu (7) Guru Pakpak Sindalanen (yakni keturunan Perbuahaji). yang cukup terkenal ilmu kebatinannya (dukun yang disegani , ditakuti dan tempat belajar atau berguru ilmu kebatinan) diketahui melalui legenda yang cukup terkenal di daerah Pakpak, Karo Simalem dan mungkin juga di Gayo ..? (Alas). Apabila Pitu Guru Pakpak Sindelanan bersatu, maka dianggap sudah lengkaplah ilmu kebatinan yang dipelajari orang pada zaman dahulu, yakni meliputi:
1. Raja Api (Raja Gagan) di daerah Pakpak Suak Pegagan, adalah dukun (datu) yang mempunyai ilmu kebatinan Aliran Ilmu Tenaga Dalam, yang menyerupai tenaga Api (misalnya disebut: Gayung Api, apabila kena pukulannya akan terbakar atau gosong, Tinju Marulak, yakni justru orang yang memukulnya yang mengalami efek pukulan, dan lain lain), Ilmu kebatinan yang dikuasai dan dikembangkan si Raja Api dan keturunnya berkaitan dengan pembelaan diri, berkelahi, dan berperang melawan musuh.
2. Raja Angin di daerah Pakpak Suak Keppas, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan seperti tenaga angin. Kalau angin kuat berhembus (topan) dapat merobohkan yang kuat dan besar. Kalau angin berhembus lambat, tidak akan terasa dan tidak dapat dilihat, tetapi mereka ada. Jadi dapat tiba-tiba si Dukun (yang mempunyai ilmu ini) tiba-tiba ada di depan mata kita.
3. Raja Tawar pergi ke Tanah Karo Simalem, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan berkaitan dengan obat-obatan ramuan tradisional. Terbukti di daerah tanah Karo Simalem berkembang ilmu pengobatan Ramuan Tradisional, pengobatan Patah Tulang, luka terbakar dan lain lain, yang kadang kala lebih hebat dari pengobatan ilmu medis (kedokteran).
4. Raja Lae atau Lau atau Lawe yang pergi ke daerah Tanah Karo Simalem atau daerah Gayo-Alas. Lae = lau = lawe berarti air (bahasa suku Toba disebut aek). Raja Lae adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang dapat mendatangkan hujan, mencegah turun hujan di suatu tempat atau mengalihkan hujan dari satu tempat ke tempat lain (disebut Pawang Hujan).
5. Raja Aji di daerah Pakpak Suak Simsim sekitar kecamatan kerajaan, Salak dan sekitarnya. Raja Aji adalah dukun yang mempunyai aliran ilmu Membuat dan Pengobatan penyakit Aji-ajian (Guna-guna, misalnya Aji Turtur, Gadam,Racun, dan lain lain).
6. Raja Besi di daerah Pakpak Suak Kellasen, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang berhubungan alat-alat terbuat dari besi. Misalnya ilmu tahan (gebal) ditikam dengan pisau, kebal digergaji, terhindar dari peluru dan lain lain.
7. Raja Bisa di daerah Pakpak Suak Boang, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang berhubungan dengan pembuatan dan Pengobatan yang ditimbulkan oleh Bisa, misal bisa ular, kalajengking, lipan, laba-laba, dll
Setelah si Raja Api mempunyai keturunan 3 orang anak laki-laki, maka salah seorang putranya diberi nama Raja Matanari (berasal dari arti Matahari). Si Raja Api menginginkan ilmu/tenaga kebatinan yang dimiliki putranya harus melebihi tenga Api seperti yang telah dimilikinya. Keinginan si Raja Api, putranya harus mempunyai ilmu kebatinan/tenaga dalam menyerupai tenaga (kekuatan) Matahari.
Pada mulanya Pakpak Pegagan (si Raja Api), bapa dan kakeknya adalah manusia Nomade (mendapat makanan dari alam, hanya memanen hasil hutan dan hasil berburu binatang, menangkap ikan dan tinggal berpindah-pindah). Diduga mereka pertama sekali tinggal sekitar hutan Lae Rias dan Lae Pondom, sehingga perkampungan mereka yang pertama diyakini adalah di sekitar Lae Rias di hulu (takal) sungai Lae Patuak, yakni daerah di atas daerah Silalahi. Kuburan si Raja Api dan orangtuanya serta beberapa keturunannya Raja Matanari diduga disekitar hutan Lae Rias, yang menurut Legenda disebut daerah Sembahan (keramat) SIMERGERAHGAH, Simergerahgah adalah mpung si Perbuahaji (yang memperanakkan si Raja Api = Pakpak Pegagan) keturunan orang/suku Imigran dari India yang masuk dari daerah Barus.
Sesuai perkembangan zaman dan kebudayaan, keturunan Pakpak Pegagan tersebut di atas mengalami perubahan dari budaya Nomade menjadi Petani Berpindah-pindah. Mereka berpindah-pindah mencari lahan yang lebih subur, dan setelah agak tandus kemudian ditinggalkan. Sistim pertanian berpindah-pindah ini mengarahkan mereka dan keturunanya bergerak ke arah Balna Sikabeng-kabeng, Kuta Gugung, Kuta Manik, Kuta Raja, Kuta Singa, Kuta Posong, Sumbul, Batangari (Batanghari), Juma Rambah, Simanduma, sampai daerah Tigalingga.
Pakpak Suak Pegagan hanya ada tiga (3) marga yaitu Raja Matanari, Raja Manik dan Raja Lingga.
Sesuai dengan perkembangan kebudayaan, zaman dan sejarah akhirnya masing-masing keturunan 3 putra si Raja Api Pakpak suak Pegagan menempati daerah Balna Sikaben-kabeng dan Kuta Gugung serta sekitarnya (keturunan Raja Matanari), daerah Kuta Manik dan Kuta Raja serta sekitarnya (Raja Manik).dan daerah Kuta Singa dan Kuta Posong serta sekitarnya (Raja Lingga). Kuta (kampung) yang lain adalah perkembangan (pertambahan) pada generasi berikutnya.
Apabila ada marga lain mengaku pernah menjadi raja (berkuasa) didaerah pegagan (misalnya disebut Pendeta Abednego putra Djauli Padang Batanghari sampai 8 generasi mpung mereka tinggal di Mballa Sikabeng-kabeng) adalah “pernyataan yang salah”, karena hanya 3 marga keturunan suku Batak Pakpak suak Pegagan (Lihat :semua Dokumen Budaya Pakpak). Padang Batanghari adalah suku Pakpak Suak Simsim di daerah kecamatan Kerajan dan Salak dan sekitarnya bukan..?
Pendeta Abednego dan orang tuanya Djauli Padang Batanghari mengaku bahwa Pinggan Matio adalah berru dari nenek-moyang (mpung) mereka Paroltep (si Lantak Padang Batanghari) dan keturunannya sampai 8 generasi tinggal di Balna Sikabeng-kabeng; Kemudian terjadi perang (graha) menyebabkan mereka (Padang Batanghari) terusir dan kembali ke kampung asalnya yaitu Sileuh di kecamatan Kerajaan. Adakah marga Manik dan atau Lingga (Pakpak suak Pegagan selain marga Matanari) yang membenarkan pernyatan tersebut di atas…..?……….atau marga Pakpak suak Keppas…?………… atau marga Pakpak suak Simsim…….?, ……. Siapakah keturunan saudara si Lantak (si Sebar Padang Batang Batanghari yang di Sileuh…?) yang dapat membenarkan pernyataan di atas…….? Kami mohon tolonglah dibuktikan segera kebenaran pernyataan itu.
Sekitar generasi ke 4 atau ke 5 keturunan Raja Matanari telah membangun Rumah Adat Pakpak di Balna Sikabeng-kabeng yaitu zaman kehidupan si Raja Onggu Ruma Sondi yang kawin dengan Rumintang berru Matanari. Rumah adat ini dibangun oleh tukang (arsitek) dari suku Pakpak dan Toba (terutama dari Silalahi) yang relatip banyak jumlahnya, di mana pada zaman tersebut Padang Batanghari….?.Pohon Beringin (jabi-jabi) yang ditanam (disebut; eks tongkat) Pinggan Matio berru Matanari diyakini dihuni oleh Sahala ni (begu ni) si Raja Onggu Ruma Sondi + Rumintang berru Matanari (karena kematian mereka tidak normal, si Raja Onggu dihukum mati karena menghina suku Pakpak, dan Rumintang mati gantung diri atas kematian suaminya), walaupun kuburan mereka berdua ini ada di Silalahi.
Menurut Ir Ramses Silalahi (di Jakarta) via SMS dan beberapa Sihaloho dari Pematang Siantar (menurut Antony Matanari), menyatakan bahwa ada di Silencer marga Matanari (si Umar Matanari, si Arden Matanari, dkk) mengaku ada talian darah dengan Pendeta Abednego putra Djauli Padang Batanghari), adalah bukti yang mendukung pernyataan Pendeta Abednego dan orang tuanya Djauli Padang Batanghari, yakni bahwa marga Padang Batanghari pernah tinggal di Mballa Sikabeng-kabeng, yang kemudian karena terjadi perang, mereka sebagian terusir dan kembali ke Sileuh, sedangkan sebahagian lagi tertawan dan kemudian merobah marganya menjadi marga Matanari. Tidak masuk akal sehat (logika) ceritra atau pendapat tersebut di atas bukan..?. Tawanan (Padang Batanghari) merobah marga menjadi marga Matanari supaya tidak terusir atau dibunuh musuh (penyerang), adalah alasan yang tidak logis. Apakah tujuan perang tersebut untuk menambah orang bermarga Matanari…?. Selayaknya, jika tawanan tidak dibunuh penyerang maka kemudian mereka akan melarikan diri atau pindah ke daerah lain.
Kenapa Padang Batanghari (yang terusir) harus kembali ke Sileuh…?, di zaman itu masih banyak lahan kosong di daerah Pegagan bukan…?, atau kenapa tidak pergi ke Silalahi (kuta anak berru…?) jika benar Pinggan Matio adalah berru Padang Batanghari…?. Atau ke daerah wilayah Pakpak Suak Keppas (sekitar Sidikalang) yang masih jauh lebih dekat dari Sileuh,,.? Berapa orang (keluarga) yang terusir dan kembali ke Sileuh…?., dan berapa orang (keluarga) yang tertawan yang merobah marga menjadi Matanari (siapa namanya)…?. Tidak logis keluarga Padang Batanghari (suami + istri + anak-anak) yang terusir dari Balna Sikabeng-kabeng kembali ke Sileuh karena jarak ini relatip jauh dan sangat luas lahan kosong yang harus dilewati pada zaman itu bukan…?.
Mereka (Umar Matanari dan Arden Matanari, dkk) telah membeberkan aibnya sendiri bukan….?. Akibat pernyataan/permitaan mereka sendiri, maka kami Matanari terpaksa berbicara yang sebenarnya. Bahwa mereka sebenarnya adalah keturunan orang pendatang, menjadi anak angkat keturunan Raja Matanari. Mpung kami keturunan Raja Matanari sangat merindukan marga Matanari banyak jumlahnya, demikian juga kami sekarang. Ada semboyan mpung kami keturunan Raja Matanari, “sedangkan batang pohon pisang ni gana (kita pahat berbentuk) manusia agar ada teman, apalagi dia manusia”. Semboyan inilah yang menyebabkan tanah wilayat raja Matanari mudah (gampang) diberikannya kepada orang pendatang, yang umumnya adalah suku Batak Toba.
Kejadian mengakui anak angkat menjadi keturunannya, adalah hal yang umum (biasa) terjadi pada marga-marga lain (tidak hanya pada marga Matanari). Akan tetapi, walaupun posisi anak angkat, selama ini mereka tetap kami hargai dan memasukkan mereka dalam Trombo Matanari sebagai keturunan ompung kami, kecuali mereka mau meminta nama mereka dihapus dari Trombo Matanari, dengan tanpa rasa menyesal akan kami kabulkan. Bagi kami anak kandung dan anak angkat sama harkat kemanusiaannya, sehingga tidak pernah kami beda-bedakan.
Menurut kami Matanari, lebih gentelemenlah si Umar Matanari dan si Arden Matanari, dkk mengganti marganya dan kembali ke si Leuh (kecamatan Kerajaan) serta membawa tulang-belulang orangtuanya bukan…?. Agar mereka kembali menjadi marga Padang Batanghari. Kasihan mereka bukan…?, marganyapun sudah dijual (ganti) menjadi Matanari hanya demi dapat tinggal di kampung kita…?. Bakune mo ke kaltu….?. Mella kami mendokken, sedaroh mo kita, oda i bedaken kami anak kandung dekket anak angkat..Tapi mella i dokken ke, ke oda marga Matanari be, bagi Matanari oda lot masalah kaltu, tadingken ke saja mo kuta ntai asa sloh bai nene ulang pailailaken mendahi Pagang Batanghari, laos mo ke mi Sileuh, mi kuta ni Padang Batanghari. Njuah-njuah kita karina. (Artinya, bagaimana kalian ini kawan…?. Kalau kami menganggap, kita tetap satu kesatuan, tidak kami bedakan anak kandung dengan anak angkat. Akan tetapi kalau kalian katakan, bahwa kalian bukan Matanari, bagi kami Matanari bukan masalah, tinggalkan sajalah kampung kita itu, pergilah ke Sileuh, ke kampung marga Padang Batanghari….. Salam buat kita semua).
Raja Matanari, selain mempunyai keturunan anak laki-laki yang telah mencapai sekitar 19 generasi sampai sekarang, juga mempunyai putri (berru). Keturunan sebagian anak perempuan (berru) kemungkinan sudah melebihi 19 generasi. Laju generasi marga Matanari adalah relatip terlambat dan jumlahnya relatip sedikit sekalit. Mungkin hal ini terjadi akibat mpung kami keturunan Raja Matanari banyak yang mengikuti aliran ilmu hitam (agama animisme). Beberapa generasi keturunan Raja Matanari hanya mempunyai satu anak yang berikutnya mempunyai keturunan. Generasi ke-6 keturunan Raja Matanari jumlahnya hanya 6 (enam) orang yang berketurunan. Karena yang tidak berketurunan, umumnya tidak tercatat namanya, karena dalam penyusunan Trombo adalah berdasarkan ceritra dari keturunan masing-masing siapa-siapa nama mpung mereka. Jadi kalau ada yang pergi merantau dan tidak kembali atau tidak memberi kabar maka nama mpung mereka otomatis tidak tercatat dalam Trombo Matanari.
Masuknya ajaran agama Islam ataupun agama Kristen ke daerah Balna Sikabeng-kabeng dan sekitarnya lebih terlambat dibanding di daerah lain. Orang Pakpak cukup terkenal memakan daging manusia (musuhnya) bahkan tengkorak manusia tersebut digantungkan di Bale (Jambur) sebagai bukti kehebatan penghuni kampung. Jadi dosa kesalahan orang Pakpak (terutama Matanari) pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang adalah sangat besar. Untuk itu kami mewakili keturunan Raja Matanari, memohon maaf yang sebesar-besarnya, kepada orang-orang yang pernah dirugikan atau teraniaya ataupun kepada keturunannya, terlebih kepada Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.
Anak perempuan (berru) dari Raja Matanari dan dari keturunannya yang cukup terkenal (tokoh berru) adalah sebagai berikut:
1. Pinggan Matio berru Matanari istri Raja Silalahisabungan (sebagai Upah Raja Silalahisabungan karena telah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari).
2. Ranimbani berru Matanari istri Raja Sihaloho putra sulung Raja Silalahisabungan.
3. Adek si Ranimbani berru Matanari istri Raja Bintang
4. Adek si Ranimbani berru Matanari istri Raja Maha.
5. Rumintang berru Matanari istri si Raja Onggu keturunan Ruma Sondi (Pohon Beringin yang ditanam si Pinggan Matio di Balna Sikabeng-kabeng diyakini masyarakat sebagai tempat keramat, disebut Sembahan si Raja Onggu- Rumintang berru Matanari).
6. Siberru Taren berru Matanari istri Raja Manungkun keturunan Batu Raja., yang mendapat tanah Rading Berru di Tamberro.
Kami Matanari mengakui, bahwa sesaat kami keturunan Raja Matahari sering berkelahi bahkan berperang, akibatnya ada sebahagian mereka keturunan mpung kami pergi merantau. Mereka sebagian belum kami ketahui kabarnya, apakah mereka tetap marga Matanari atau telah merobah marganya menjadi marga lain juga belum kami ketahui. Mungkinkah keturunan hulubalang Raja Matanari (Paroltep) adalah anak keturunan Raja Matanari menjadi marga lain…? Kami sangat merindukan mereka, kami menginginkan marga Matanari lebih besar jumlahnya, makin kuat eksistensinya, sehingga tidak terjadi lagi diperantauan penggantian marga Matanari menjadi marga Sihotang, Karo-Karo, Sinulingga, Sitepu dan lain lain.
Sebahagian keturunan Raja Matanari mengaku dirinya keturunan Oppu Sanggapulo Martua Tinggi putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk adalah pengaruh ikatan (Pesta) SILIMA TALI di Sumbul Pegagan sekitar tahun 1957. Ikatan dan Pesta Silima Tali diadakan adalah berdasarkan pada kepentingan yang saling menguntungkan antara suku Pakpak suak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dengan suku Batak Toba (marga Sihotang). Orang Pakpak suak Pegagan ingin mempermudah segala urusan (kepentingan) yang berkaitan dengan berbagai urusan terutama bidang pemerintahan yang pada zaman tersebut berpusat di Tarutung. Demikian juga Sihotang ingin memperkuat eksistensinya di daerah Pakpak suak Pegagan maupun suak Keppas. Matanari memberikan tanah dan parhutaan disebut huta Sihotang dekat Balna Sikabeng-kabeng.
Ikatan (Pesta) Silima Tali terdiri dari 5 unsur yaitu (1) Sihotang, (2) Matanari, (3) Manik, (4) Lingga dan (5) marga-marga Berru-Berre dari 4 marga tersebut di atas. Pesta (Ikatan) Silima Tali, menjalin ikrar bahwa 4 marga tersebut di atas dinyatakan Sisada Anak dan Sisada Berru. Pada waktu selanjutnya, pengaruh Pesta (ikatan) Silima Tali menjadi lebih besar pada marga Matanari. Yaitu menyebabkan marga Matanari sebahagian melupakan ikrar sisada anak sisada berru, yakni berubah menjadi mengakui bahwa marga Matanari adalah anak (keturunan) Oppu Sanggapulo Martua Tinggi putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk Kenyataan ini terjadi tidak lepas dari akibat jumlah keturunan marga Raja Matanari sangat sedikit dan pendidikan masih terbelakang, sebaliknya marga Sihotang jumlah keturunannya banyak dan berpendidikan lebih maju,.
Selain marga Matanari, juga marga Manik dan sebahagian marga Lingga mengaku keturunan marga Sihotang. Hal ini terjadi dengan alasan yang hampir sama dengan yang telah diuraikan diatas (kepentingan yang saling menguntungkan). Demikian halnya, pengaruh marga Sihotang berpengaruh besar sampai pada marga marga Pakpak Kepas (Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo), ke tanah karo Simalem marga Sitepu dan semua marga Karo-karo umumnya, di daerah Simalungun marga Sitopu, Semua marga-marga tersebut di atas, terutama di daerah perantauan merasa (mengaku) satu dengan marga Sihotang. Sehingga ada beberapa orang menyebutkan istilah “Sihali Mas” (singkatan dari: Sihotang, Hasugian, Lingga, Manik, Matanari, Sitepu, Sitopu dan Semua yang termasuk Karo-Karo Mergana), yang artinya adalah Pengali Emas atau Penggali Emas.. Harus diakui bahwa marga Sihotang cukup hebat menjalin persaudaraan dalam suku Batak Toba, Pakpak, Karo dan Simalungun. Horas….Njuah-njuah….Mejuah-juah buat yang kami hormati Oppung/ Bapa/ Abang/ Adek/ Anak/ Cucu marga Sihotang di mana pun mereka berada..
Demikian disampaikan untuk diketahui, dan dengan demikian diharapkan bahwa: (1) tidak ada lagi orang yang mengaku pernah tinggal (Raja/marga) 8 generasi di Balna Sikabeng-kabeng, dan (2) Marga Matanari dengan Sihotang adalah Sisada Anak Sisada Berru (Boru) berdasarkan Pesta (ikatan) Silima Tali sekitar tahun 1957 di Sumbul Pegagan, marga Matanari bukan keturunan (anak) Oppu Sanggapulo Martua Tinggi putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk, melainkan Matanari adalah anak (keturunan) Pakpak Suak Pegagan.
Jikalau ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis mohon maaf,
Njuah-Njuah…..Mejuah-juah……Horas
Salam dan hormat saya
Penulis
Ir. Jawaller Matanari, MS
Putra Pendeta Ds. Josep (mpung Sich Jerry) Matanari. Kuta Gerat Pegagan.
Ketua PERMANA Medan dan Sekitarnya.
Mobile: 081361149346
Julius Silalahi berkata
Udah merembet pula sampai ke blog ini, hehehhee….
Aku punya saudara (Silalahi Pintu Batu) bermarga Sipayung. Ompungnya dulu merantau ke Simalungun dan menabalkan marga Sipayung pada dirinya (prosesnya saya tidak tau). Istri temanku juga br. Sipayung dan katanya mereka aslinya marga Silalahi. Tetanggaku marga Damanik katanya moyangnya aslinya marga Malau dari Toba merantau ke Simalungun. Banyak contoh seperti ini yang muasalnya diakui dari Toba.
Ini terjadi karna saat kerajaan simalungun dulu (lupa kerajaan apa pastinya) semua pendatang di Simalungun diharuskan mengadopsi marga lokal. Jadilah bedhol marga. Tapi tidak semua marga melakukan itu. Di tempat dimana pengaruh Raja Simalungun (atau Siantar?) tidak kuat, maka tetap populasi Toba berkembang dengan marganya sendiri atau melahirkan marga sendiri. Kemudian pendatang dari Toba semakin banyak masuk. Lalu populasi ini (termasuk yang mengubah marganya) makin banyak dan mengimbangi populasi Simalungun.Disinilah diaspora-nya. Simalungun rang Toba pastinya mengatakan Batak Simalungun. Simalungun pure, ya tetap Simalungun.
Lalu siapakah komunitas asli Simalungun itu dan aslinya dari mana?
Mohon Laeku Michael Girsang bisa menjelaskan secara Lae sudah mencoba menggali.
Btw, ada pertanyaanku buat Lae Michael Girsang:
Apakah ada hubungan marga yang mirip di Toraja dengan Batak Toba seperti:
Limbong-Limbong, Parapak – Parapat, Mangansing – Mangunsong, Manurun – Manurung, Toding – Tobing, dan mungkin ada lagi yang sangat mirip. Secara kebiasaan rumah adat mirip, dan isolated community/tinggal di hinterland.
Jawaban ini akan berbenang merah dengan komunitas/suku Batac di Ilocos-Philipine. Di sana juga ada Ilahis Sabongan (aku masih bertanya-tanya adakah hubungannya dengan Silahi Sabungan), lalu mantan Bos-ku Greg L Manalo yang katakan dirinya suku Batac Philipine. Lebih surprise, seorang Philipine pernah jemaat di GPIB Padang-Sumbar thn. 97 bisa mengartikan sebagian isi Bible Bhs batak Toba dengan baik, dan katanya lagi, dia lebih paham dengan Bible ini daripada Alkitab (Bhs. Indonesia).
Tabek Laeku.
sevilla99 berkata
Diatei Tupa laweiku Julius Silalahi atas waktunya untuk ikut memberikan masukan yang baik dalam blog ini…
Hanya 4 Marga yang diakui oleh para raja di Simalungun membuat masyarakat Toba yang berpindah ke Simalungun mau ga mau harus menempel pada marga yang diakui di Simalungun,sebenarnya Sipayung juga bukan marga yang diakui sebelumnya sehingga harus menempel ke Sinaga,sebenarnya tidak ada masalah sih karena Sinaga Simalungun berbeda dengan Sinaga Toba,jika dilihat dari sudut Toba maka tidak bisa Silahisabungan menempel ke Toga Sinaga namun di Sinaga di Simalungun khan bukan Toga Sinaga Toba jd ga ada masalah,sama seperti marga Girsang,Pakpak,Simamora,Manorsa yang menempel ke Purba juga Parna Grup dari Toba yang menempel ke Saragih dan keturunan Silau Raja (Ambarita,Limbong,Manik,Malau) yang menempel ke Damanik agar bisa hidup di Simalungun.
Botou Lawei yang menjadi istri saya pun sebenarnya aslinya bukan Sipayung karena aslinya Sihaloho dari Soping lalu masuk ke Simalungun (Saribudolok) lalu menempel ke Sipayung.
Pergantian atau penyamaan marga sangat penting agar bisa diterima di Simalungun dan jika ada acara-acara adat yang membutuhkan peranan keluarga besar Sipayung maka seluruh Sipayung akan bekerja ketimbang mendatangkan keluarga yang marga Sihaloho atau Pintu Batu seperti yang lawei katakan di atas.Begitu pun yang terjadi pada marga Malau,ketimbang mendatangkan yang semarganya Malau ke Simalungun mendingan nempel ke Damanik agar bisa ber’sanina’ (Tobanya Dongan Tubu kalo ga salah) dengan Damanik.
Suku Toba memasuki Simalungun dengan derasnya ketika Belanda menguasai beberapa tanah Simalungun,sifat dan sikap orang Simalungun yang bukan pekerja keras karena lahan mereka yg memang subur membuat Belanda berpikir untuk mendatangkan tenaga kerja dari tetangga Simalungun yaitu Toba yang rajin bekerja namun sayangnya sulit diatur.Saat ini suku Toba di Simalungun justru lebih banyak ketimbang Simalungun sendiri dan bahasa Simalungun yg asli makin terkikis…(baca buku 100Tahun GKPS yg ditulis oleh Pdt.Martin L. Sinaga dan Pdt.Juandaha Raya P.Dasuha)
Kalo menurut saya, Simalungun adalah tanah awal masuknya pendatang dari India lalu baru kemudian merangsek masuk ke arah Toba,Mandailing dan Angkola sedangkan Pakpak dan Karo saya memilih tidak komen…bahasa Simalungun jauh lebih tua daripada bahasa Toba (hasil penelitian Kozok sih)..perbandingan bahasa Simalungun dengan bahasa Toba jika diumpamakan bahasa Simalungun adalah bahasa Indonesia jaman kemerdekaan sedangkan bahasa Toba adalah bahasa Indonesia EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
Toraja adalah suku yang berbeda dengan Batak,marga di Toraja bukanlah sesuatu yang berarti bagi orang Toraja hal yang berbeda dengan orang Batal yang mendewa-dewakan marga hingga membuat tarombo yang terkesan ngawur asal comot..jika pun ada kesamaan kata dan bunyi antara marga orang Toraja dan Batak itu hanya kebetulan semata karena marga di Toraja tidak turun menurun dan bisa digonta ganti sesuka hati si ayah,saya ambil contoh om saya bernama Peter Limbong tp kelima anaknya dikasih marga olehnya Tarlim Samara,salah satunya kakak sepupu saya Pdt.Luther Tarlim Samara,Sth teman kuliahnya Pdt Martin L.Sinaga,Sth ketika di STT Jakarta.Di Toraja tidak mengenal Dalihan Na Tolu,juga tidak mengenal berbagai panggilan yang ribet dan bagi saya kadang bikin mumet seperti Lae,eda,inang bao,amang bao,amang boru,namboru dll..saya rasa Toraja justru lebih mirip dengan Dayak karena sama-sama orang gunung dan berasal dari nenek moyang yang sama.
Suku Batak yang di Pulau Palawan Filipina adalah suku yang berlain ras dengan suku Batak di Sumut,suku Batak di Pulau Palawan Filipina itu adalah ras negroid yang masih berkaitan erat dengan suku Papua maupun Melanesia di Oseania seperti Fiji.Jd terlalu naif apabila mengkaitkan antara suku Batak di Filipina dengan yang di Sumut..Inilah yang selalu saya bilang bahwa orang Batak tidak bisa bedakan sama bunyi/lafal dan kata..pokoknya asal ada mirip dikit aja langsung dibilang diaspora dari suku batak…baiknya kita menerima perbedaan…seperti yang dikatakan oleh Pdt.Juandaha Raya P.Dasuha bahwa orang Toba tidak bisa menerima Otherness Simalungun dari Toba.
Memang sekarang sudah banyak generasi Toba yang bermarga Simalungun entah nempel di Sipayung,Purba,Saragih,Damanik dan Sinaga namun jika mereka nyaman dengan keadaan mereka sekarang sebagai bagian dari Simalungun apakah harus dilarang atau ditentang?bahkan banyak generasi Toba bermarga Simalungun itu yang lebih ber-ahap Simalungun ketimbang yang bermarga asli Simalungun…bukankah di mana tanah dipijak maka langit dijunjung?saya bukan asli Papua karena campuran (Kanton-Toraja-Hokian-Kisar-Portugis) namun lahir besar di Papua dan sangat mencintai Papua sebagai homeland saya…apakah bisa dilarang?
Kira-kira demikian Lawei Julianus Silalahi
rahmatzohar berkata
apasih alasan saudara mengatakan bahwa simalungun adalah tanah awal masuknya pendatang india yg notabane adalah nenekmoyang suku pakpak n suku karo????????
logikanya simalungun dikelilingi oleh daerah2 lainnya,, apa mungkin org india tersebut terbang dan menginjakkan kakinya yg pertama di simalungun?????????
tahnkssssssssss
Ch. Manurung berkata
Horas ma di hita!
@Sevilla99
Salam kenal! Saya agak sedikit usil nihh..anda mengatakan bahwa Uli Kozok menyatakan bahasa Simalungun lebih tua dari bahasa Toba? Mungkin anda tidak keberatan menunjukan di buku manakah itu atau catatan dari ceramah kuliah yang beliau berikan sewaktu berada di Sum-Ut?!..Atau anda hanya mengkopi tanpa mencek ulang apakah benar Si Uli Kozok yang mengatakan demikian atau orang lain,..maksud saya Adelarr!
Adelarr inilah yang menyatakan bahwasanya bahasa Simalungun lebih tua dari bahasa Toba.Jadi menurut hemat saya,sengaja Uli Kozok mencantumkan nama si Adelarr tsb dan teorinya sebagai referensi.Ada baiknya teman2 dari puak Simalungun membaca secara keseluruhan salah satu buku karangan pakar linguistik dari Jerman tsb secara teliti,yang mengupas tentang aksara Batak (Karo,Pakpak,Toba,Simalungun dan Angkola-Mandailing).Menurut saya karya beliau tsb cukup akurat,representatif,kredibel dan netral jika dijadikan salah satu acuan untuk mempelajari budaya serumpun kita (sengaja saya pakai istilah “serumpun” ini,karena anda “alergi”terhadap istilah Batak)yang jelas2 sangat mirip dari berbagai aspek.Pada lembaran terakhir/penutup anda akan tahu pandangan beliau sesungguhnya tentang Batak.
@India
Seperinya sudah menjadi suatu “kebanggaan” bagi kita yang serumpun ini dalam hal mengaitkan asal-usul kita dengan India. Saya mendapatkan “gejala”ini terjadi disetiap puak Batak.Mulai dari Karo diutara sampai di Mandailing diselatan.Kalau mau jujur,apakah kita,tiap2puak Batak memiliki catatan sejarah yang kesahihannya dapat diuji silang dengan catatan sejarah kuno dari para pelancong,pedagang asing pada masa lampau? apakah kita secara jujur mau mengakui bahwa leluhurkita bersama bukanlah mereka yang datang berdagang atau plesiran dan mampir lewat pantai barat atau timur Sum-Ut pada masa lampau.Bukan bermaksud meremehkan cerita2 rakyat setempat,atau pustaha dan buluh surat atau tarombo.Tetapi sudah seharusnya kita melihat kenyataan bahwa terlalu kuat persamaan dibanding perbedaan diantara puak2 serumpun kita,baik dari rupa fisik,bahasa,pola hidup,filosofi dan kepercayaan.Dan saya yakin,bahwa DNA diantara manusia yang serumpun ini tidaklah menunjukan perbedaan berarti.Dan kita yang serumpun inipun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari saudara2 kita yang tinggal dan hidup di bagian lain pulau Sumatra.
Disini yang hendak saya sampaikan,bahwa kita memiliki leluhur yang sama.Namun pada perkembangannya telah terjadi perubahan yang membawa perbedaan,tapi tidak sampai menghilangkan ke-identikan satu sama lain.Salah satunya adalah kedatangan para pelancong dan pedagang,khususnya dari India bagian selatan yang kelak turut memberi pengaruh terhadap budaya Nusantara dan Asia Tenggara.Adanya batu prasasti yang ditemukan didaerah Lobu Tua (abad XI),yang mengisahkan sekumpulan orang Tamil yang mengadakan kontak dagang dengan penduduk lokal (orang Batak).Juga disebuah buku sejarah karangan Jane Drakkard,dikisahkan perjumpaan para pendatang dari India dengan keturunan dari Alang Pardosi marga Tampubolon,penguasa setempat.Para Tamil tersebut tunduk pada aturan penguasa setempat.Kisah ini juga bisa dijadikan bukti bahwa cerita nenek moyang orang Toba bukan isapan jempol,ngawur atau asal comot seperti Sevilla99 katakan.Kita sepatutnya berterimakasih kepada para pendatang dari India bagian selatan tsb karena telah turut memberi warna pada budaya serumpun kita ini.Banyak serapan2 yang berasal dari bahasa Sankrit yang dibawa oleh mereka yang juga merperkaya sastra dan budaya kita seperti kata nagur,purba,batara,dll.Dengan banyaknya kata2 serapan dan juga budaya yang kita adaptasi,bukanlah jaminan bahwa kita yang serumpun ini berasal dari India,walaupun ada dari kita yang berperawakan seperti India,atau sipit dann putih langsung dikaitkan dengan Cina. Sadar atau tidak,pemikiran yang demikian akan menempatkan kita seolah-olah berbeda dari saudara2 kita lain suku yang ada disekitar kita.Mari kita perhatikan orang Alas,Gayo,Minangkabau,Nias dll,kita pasti akan tidak bisa mengelak ada banyak hal yang bisa membuat kita mengamini bahwa kita memang adalah satu leluhur,yang menurunkan penduduk pulau Sumatra. Kalau dalam hikayat Batak Toba kami menyebutnya Ompu Pulo Morsa.
Saya cukupkan dulu “keusilan” saya ini.Mudah2an kita bisa terus bertukar pikiran.Tuhan memberkati!
Brayan Munthe berkata
Horas Tulang Silalahi, Di Pilipina ada propinsi Batac, seperti di indonesia Batac adalah salah satu suku bangsa Pilipina. Bahasa Batac, sangat banyak sesuai dengan Bahasa Toba. Kalo Tulang di perkampungan di Batac sana barang 6 bulan udah bisa komunikasi dengan penduduk setempat. Artinya secara antropologi budaya masih dekat, tentang marga tadi bisa di test melalui DNA apakah dekat hubungan biologisnya. Viva Batakish!
sada dua tolu disana juga ucapannya begitu.
mau enggak menjadi back packer kesana?
Julius Silalahi berkata
Table Laeku,
Komen ini jadi bertalian dengan komen di kolom lae yang satunya.
Kolom Lae ini saya lihat masuk ke koridor antropologi walapun tidak spesifik.
Tetapi adanya pertalian orang batak sekarang dengan leluhur mereka yang masuk simalungun dan hubungannya dengan asimilasi budaya, hubungan sosial, fisik, karakter, dan lingkungan sudah cukup dimasukkan dalam pembahasan antropologi.
Soal wacana penolakan jati diri yang berkembang dari ex etnis toba di sana dan tempat lain, itu lain soal. Atau pemikiran yang mengatakan: kenapa nenek moyang saya harus batak ya..
Hukum negative/terbalik seperti itu tidak dikenal dalam kaidah antropologi.
Kasarnya sampai ke ujung dunia manapun pergi kemudian menolak asal-usulnya, secara genetic tetap turunan batak versi antropologi. Ini berlaku untuk semua ras/etnis.
Kalaupun kemudian, misalnya ada temuan akurat yang mengatakan suku batak asal-usulnya dari Vanuatu atau Kepulauan Salomon maka dengan senang hati saya pun akan mengakui diri orang batak dari tempat tersebut. Ternyata saya bersaudara dengan David Tua (petinju kelas berat itu), hehehe.
Mengenai hubungan dengan suku-suku di tempat lain di atas (toraja, batac, karen) sudah kita bahas di kolom Lae lainnya. Jadi cukup itu saja.
Mauliate Laeku.
JONNEDI HALOHO berkata
SELAMAT TAHUN BARU Kepada seluruh Pomparan RAJA SILAHISABUNGAN di seluruh Dunia.
Silsilah Tuan Sorbanibanua(Naisuanon)
Suku(Bangsa Austronesia)
1. Karen>>2. Igorat>>3. Bentok.>>4. Meo >>5.Wajo>> 6. Tayal>>7.Toraja>>8.Syam
>>>>>>>>>>>>>>>>>> Bentok memperanakkan
>>>>>>>>>>>>>>>>Raja Batak I memperanakkan
>>>>>>>>>>>>>>Raja Deak Parujar memperanakkan
>>>>>>>>>>>>>>>Raja Ihut Manisia memperanakkan
>>>>>>>>>>>>>>>Raja Eng Domia memperanakkan
>>>>>>>>>>>>>>>Raja Eng Banua memperanakkan :1.Raja Batak II.>2. Raja Bone (bugis)>3. Raja Lampung
Raja BatakII memperanakkan :
1. Guru Tatea Bulan dan 2. Raja Isombaon
>>>>>>Raja Isombaon memperanakkan
>>>>>>>>Tuan Sorimangaraja memperanakkan:
1.Datu Ronggur(Naiambaton)>>>2. Batu Pasu(Nairasaon)>>>>>3.Tuan Sorbanibanua(Naisuanon)
sevilla99 berkata
Yah apalah itu lawei haloho…
saya approve aja walaupun tarik-tarikan yang lawei buat sudah mulai ngaco karena masak sih Batak ada hubungan dengan Bugis,Lampung dll?
Tapi karena ga boleh melawan Tondong makanya saya approve aja…
Nice posting lawei haloho
JONNEDI HALOHO berkata
Horas ma bamu lawei, ahu lang mambahen sandiri da tarombo on. On hu kutip sandiri do on humbani salah sada buku.
Ahu ongga do pajumpah pakon halak bugis. Manurut ia adong do nini hubungan ni Batak pakon Bugis. Diateitupama bamu. Padas ham salam hu bani boto pakon panagolan hu haganupan. HORASSSS.
sevilla99 berkata
Diatei Tupa Lawei Haloho…
Salam Hormat dari kami di Sorong-Papua Barat..
JONNEDI HALOHO berkata
Salam kenal ma lobei lawei Sevilla99, ahu par desa Sirungkungan Kecamatan Haranggaol. Anggo ham asli marga aha do, janah ija do gatni hutanta.
Adong do partulangon hu i Irian Jaya namargoran Sahat Saragih marboru Padang asal ni han huta Sirungkungan kecamatan Haranggaol sahuta hanami, tapi lang huboto tangkas manang ija do tulang on tading, atek itanda ham,Diateitupa Lawei.
FRANSISKUS SIPAYUNG berkata
Horas ma bani apara,lae..
Ahu marga sipayung han saribudolok, anggo pandappothu lang adong dope bukti na akurat bahwa simalungun sarupa hun toba atek pe simalungun lang sarupa hu toba. jadi anggo ahu berprinsip napenting huboto tarombo han dia asal hu, paling tidak tolu tingkat huatas, jadi sipayung na hupakke on lang marga ni opung hu alani opung ni bapa marmarga sihaloho dope nina asal na han soping tapi soping kan idaerah simalungun dope kan. Jadi anggo adong bukti na akurat nadapot nasiam unang lupa nasiam mang informasihon. Diate tupa
JONNEDI HALOHO berkata
Haloho aha ma ham sanina, ahu par Sirungkungan Haranggaol, Haloho Parhambing
ANTON HALOHO berkata
Horas ma ampara jonnedi Haloho boi hita marsitaandaan lewat milis on ahu sian Bandar 1000 Haranggaol. Si LohoRaja 2 ma anakna di Silalahi Nabolak aima Sihaloho sinaborno dohot Sihaloho Napuran. sundut patoluhon sian Sihaloho Naborno ima Babaraja na di Parbaba jala toluma ianakkon na dibahen mause mangulahi goar na di slalahi nabolak Naborno, sinapuran dohot sidapitu.
Horas ma ambia
sian Lampung
ANTON HALOHO berkata
Sada do hita pinomparni Ompu i Raja Silahisabungan , molo adong namarlobi hurang boi do hita beradu argumen.
horas…..
ladin Sihaloho berkata
salam perkenalan ma dihita pomparan silahisabunga di luat poitibion, horasssssssss….
ingin menjalin kekeluargan di hita nasa ompu.
pringsewu – lampung
JONNEDI HALOHO berkata
Mandapthon Bapanggi Anton Haloho
Horas ma i ham, anggo par purba saribu do ham, i tanda do si Alex Haloho, Walpen Purba adong do pe na legan, sakalshu hinan i SMP GKPS Haranggaol. Diateitupama bamu.
JONNEDI HALOHO berkata
Pomparan Loho Raja :
arlombu&Parhambing atau Parhambing & Parlombu
1. Borno Raja 2. Puran Raja
Borno Raja :
1. Raja Hot, 2. Anggi Raja
Raja Hot :
1. Bonar Raja, 2. Baba Raja, 3. Homba Raja, 4. Tugan Raja
Baba Raja :
1. Sinaborno, 2 Sinapuran, 3. Sinapitu
Sinaborno
Ricky Sipayung berkata
Horas semuanya.
Harus kita akui bahwa kehasan dalam budaya batak adalah cerita “turi-turian”. Nina, nina, dan nina da. Nina sian toba do hita, nina sian pusukh buhit do hita, nina dan terus nina. Leluhur kita meninggalkan banyak pekerjaan terutama menyangkut tarombo.
Kita sepertinya dipersimpangan jalan, melihat kembali ke masa lalu atau mulai melangkah dan melihat ke depan. Jika kita melihat ke masa lalu maka kita akan berhadapan dengan kebenaran “turi-turian mana yang lebih benar, mana yang salah”.Jika kita melihat kedepan, maka kita akan berhadapan dengan sesuatu hal yang sulit untuk dicapai.
Karena kita malas berpikir, akhirnya kita memilih melihat ke belakang. Kita tidak perlu memeras pikiran, cukup berdebat ini turi-turian yang benar, dan yang lain salah.
Saya mengajak semua pihak, untuk memikirkan bagaimana batak ke depan, bagaimana silahisabungan ke depan. Bagaimana cara dan strategi kita agar ada pomparan silahisabungan yang juara olimpiade (IMO/ Ipho). Jika itu terjadi dan menjadi tradisi dari tahun ke tahun maka saya percaya bukan hanya LELUHUR SILAHISABUNGAN yang bangga, tapi seluruh leluhur batak. Mungkin mereka berkata “Bah, tuani ma ada juga orang batak yang juara olimpiade”.
Dari sudut budaya, kita membutuhkan transformasi memasuki era globalisasi. Cepat atau lambat, adalah keharusan bagi kita untuk melahirkan budayawan atau mungkin filusuf batak yang akan menolong kita melewati transformasi tersebut. Perubahan karakater sangatlah dibutuhkan oleh setiap etnis.
Tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, pelajaran dari hari ini adalah marilah kita dokumentasikan setiap peristiwa sejarah yang terjadi pada saat ini. Sehingga pada masa-masa yang akan datang generasi kita tidak berdebat. Hendaknya jangan lagi kita wariskan turi-turian, sebab ia sangat riskan untuk dimanipulasi.
Terima kasih untuk semuanya
bagus sihaloho berkata
salam kenal buat semuanya.solo-jawaTengah
JONNEDI HALOHO berkata
Mandapothon Bapanggi Anton Haloho.
Horas ma bamu panggi, salah ahu manulis hape par Bandar Saribu do ham, adong do rong hasomanhu parbandar saribu goranni Jonson (Taton) Haloho, atek i tanda ham.
Ngomong-ngomong guru matematika do ham i Lampung?.
Silahisabungan berkata
Horas lae,
Dari dulu atau sejak pertama saya baca blog lae, banyak bacaan yang isi nya penekanan bahwa Simalungun itu adalah bukan bagian dari Batak. Dan setiap postingan tetap dibuat begitu.
Seperti postingan dari majalah Sauhur. “Dari dulu ketika saya masih mengira Simalungun adalah bagian dari Batak, sekarang pendapat saya adalah Simalungun bukan lah Batak”
Pendapat yang janggal sekali. Saya mohon pelajari sejarah lae, gali dengan ilmu antroplogi. Saya bukan ahli antropologi, tetapi saya bisa mendalami sedikit kultur dari masyarakat Batak itu sendiri. Ahli antroplogi dari Jerman pun yaitu Uli Kozok mengatakan, bahwa suku yang mendiami di sekeliling danau Toba dan daratan di selatan adalah Batak. Karena bisa dilihat dari kosa kata dan tulisan nya.
Sebelum Uli Kozok mengatakan seperti itu, saya sudah berpendapat seperti itu. Kita ambil contoh sedikit. Bangsa Romawi, adalah bangsa besar di abad sebelum dan sesudah awal masehi. Bangsa Romawi disebut juga bangsa Latin atau orang Latin secara tidak langsung. Karena bahawa mereka menggunakan bahawa Latin. Dan tulisan nya pun disebut huruf Latin. Seperti yang kita tulis dan kita baca sampai saat ini di seluruh dunia adalah huruf Latin. Bangsa Romawi pun terdiri dari berbagai bangsa sampai saat ini. Italia, Spanyol, Portugis, Prancis. Bahasa dari bangsa-bangsa tersebut adalah akar dari bahasa Latin. Semua serapan bahasa mereka adalah Latin.
Tidak jarang jaman pertengahan dahulu mereka dibilang orang Roma. Hanya Prancis yang sedikit jarang dibilang orang Roma. Mungkin karena masalah sejarah masa lalu. Sekarang pun kadang orang-orang atau artis dari Spanyol di bilang orang Roma. Karena memang mereka bagian dari bangsa Roma atau Latin. Ingat film gladiator? Ya itu adalah cerita kisah nyata pada jaman Romawi masih berkuasa. Jendral Roma ketika di film itu pun dari Spanyol. Bukan kah itu menandakan orang Roma? Apakah bisa seorang pemimpin dari bangsa besar, pemimpin nya di ambil dari bangsa lain?
Dan jaman modern sekarang ini pun masih bisa kita dengar arti kata Latin. Yaitu Amerika Latin. Kenapa dibilang Amerika Latin? Memang karena mereka adalah orang-orang Latin yang mendiami Amerika Latin. Dan harap dicatat, hampir seluruh benua Amerika dijajah oleh Spanyol dan Portugis. Siapakah mereka? Ya mereka adalah orang-orang Roma atau keturunan dari bangsa Roma atau Latin. Apakah mereka tidak bertikai ketika memperbutkan benua Amerika? Salah, setiap manusia kalau memperebutkan harta pasti akan bertikai.
Bahasa di Amerika Latin adalah menggunakan bahasa Spanyol dan Portugis. Oleh karena itu sampai sekarang mereka disebut orang Latin atau LATINO. Salam dalam bahasa Latin atau keturunan Latin modern pun beda-beda. Jika bahasa Latin nya menggunakan “Halo”, Italia menggunakan “Ciao”, Spanyol menggunakan “Hola”, dan Portugis “Ola”. Begitu juga dengan terima kasih, Italia “grazie”, Spanyol “Gracias”, Portugis “obrigado”.
Saya menggunakan contoh seperti diatas karena contoh diatas adalah Negara-negara atau orang-orang dari Negara tersebut masih eksis sampai sekarang. Dan apakah Simalungun bukan Batak? Karo bukan Batak? Pakpak bukan Batak? Mandailing bukan Batak? Coba simpulkan atau pelajari bangsa-bangsa tersebut baik dari segi Linguistik dan Kultural. Orang Alas saja masih bisa dikatakan bagian dari Batak. Karena secara kultural masih dekat dengan orang Batak. Sisingamangaraja saja sudah lama mengadakan hubungan diplomatik dengan orang Aceh (Alas dan Gayo), karena mereka masih bagian dari Batak. Mantan bupati Aceh tenggara pun pernah mengatakan bahwa orang Alas masih berhubungan dengan Batak. Contoh nya mantan bupati itu pernah berkata, karena dia bermarga Desky, maka dibilang Desky adalah keturunan dari Silalahi kalau di Tapanuli, dan kalau di Karo adalah Sembiring. Kalau tidak percaya pelajari daerah tersebut, datang lah kesana. Terjadi perpisahan kata menjadi Simalungun, Karo, Pakpak, dahulu kan bisa disebabkan masalah bagian tanah/kerajaan.
Ada juga kawan dari Simalungun mengatakan di blog lain, bahwa sebenar nya orang-orang di Toba berasal dari Simalungun. Dan saya berikan tanggapan di blog tersebut, sampai sekarang tanggapan saya tidak dibalas. Saya berikan tanggapan berdasarkan peneliti yang melakukan penelitian di daerah Barus. Kenapa Barus? Karena dari situlah bisa di tarik sejarah masa lalu manusia di pedalaman Barus dan orang-orang yang berinteraksi dengan Barus.
Barus adalah kota tua sejak jaman dahulu, dan bisa dikatan sebelum masehi Barus sudah ramai dikunjungi oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Dan sudah termasuk orang-orang dari nusantara sendiri. Apa yang di cari dari Barus? Karena Barus adalah pelabuhan internasional jaman kerajaan dulu untuk bertransaksi jual beli kemenyan dan emas atau hasil lain nya pada jaman kuno. Contoh nya ada peninggalan Ramses atau Firaun disana, dan juga para pelaut-pelaut dari bangsa lain menulis tentang Barus karena telah mengunjungi nya. Seperti pelaut dari Yunani pada jaman Alexander Agung, Roma, India, dan termasuk Mesir. Bahan pengawet mumi di Mesir pun kemungkinan besar diambil dari Barus. Karena di timur tengah maupun bagian lain nya tidak ada produsen kemenyan kualitas terbaik dunia kecuali dari Sumatra Utara ketika itu. Hasil penelitian ini di tulis di harian Kompas bulan April 2005. Para peneliti tersebut berasal dari Prancis. Dan sebelum nya sudah banyak peneliti yang meneliti daerah Barus.
Bahkan para peneliti meyakini, ketika Jesus Kristus dilahirkan, persembahan ketiga orang majus yang berupa minyak mur dan kemenyan itu berasal dari Barus atau Sumatra Utara atau berasal dari orang-orang Batak. Ini bukan isapan jempol saja, karena memang dari jaman dahulu di timur tengah tidak ada kemenyan, bangsa-bangsa international semua membeli kemenyan atau bertransaksi kemenyan dari Barus yang merupakan pelabuhan utama jaman dahulu. Dan kemenyan tersebut pun sebagian berasal dari Barus pedamalan dan juga daerah pedalaman lain nya, seperti daerah Humbang sampai ke Tarutung. Dan mohon dicatat, tanaman kemenyan tersebut adalah alami, alias tanaman asli yang tidak di tanam oleh manusia. Sampai sekarang masih ada tanaman tersebut.
Jadi kesimpulan nya, sudah sejak lama sudah ada penduduk di pedalaman Barus, baik Humbang dan Tarutung dan lain nya di Tapanuli Utara. Karena dari sana lah kemenyan berasal. Dan kemenyan pada jaman itu sudah seperti sumber kehidupan.
Sekarang bandingkan dengan umur kerajaan-kerajaan di Simalungun dan Karo. Dari situ kan bisa ditarik kesimpulan, bahwa Tapanuli sudah ada manusia dan tentu nya kerajaan nya pun sudah ada. Meskipun tidak bisa disebut nama-nama kerajaan nya. Hanya Raja besar nya saja Sisingamangaraja yang paling di hormati. Apakah sebelum Sisingamangaraja tidak ada raja besar nya atau kerajaan besar nya? Jawab nya ada, seperti kerajaan Hatorusan di Barus. Siapakah mereka? Apakah mereka bukan orang Batak. Dan sekarang bandingkan juga dengan linguistik dan Kultural dari semua etnik Batak. Apakah perbedaan nya tidak masuk akal?
Ingat, bangsa Romawi atau Latin modern sekarang saja bahasa nya beda. Tetapi akar dari bahasa mereka tetap dari bahasa Latin, dan disebut juga orang Latin. Antara Spanyol dan Italia pun banyak kemiripan nya, saya saja masih bisa mengartikan atau menarik persamaan antara Spanyol dan Italia. Dan bahasa Spanyol di Amerika Latin dan di Spanyol saja banyak beda nya. Itu karena apa? Karena sudah lama meninggalkan bahasa induk mereka, meskipun masih bisa berkomunikasi. Dan siapa yang bisa berbicara sekarang bahwa orang-orang atau bangsa-bangsa di Amerika Selatan BUKAN orang Latin? Saya kira orang yang bicara seperti itu orang yang tidak tahu sejarah atau asal cuap sana, cuap sini.
Saya bicara bukan tidak berdasarkan fakta, banyak bukti yang sampai sekarang masih menunjukan keterkaitan antara Toba, Simalungun, Pakpak, Karo dan Mandailing. Dan banyak dari mereka pun mengatakan bukan orang Batak, tetapi banyak juga yang mengatakan Batak. Salah satu contoh saya ambil dari orang Pakpak, dari keturunan si onom hudon, itu istilah Toba nya, kalau istilah Pakpak nya kalau tidak salah si enem kodin, yaitu marga dari enam keturunan seperti Tumanggor, Nahampun, Tinambunan dll. Ada enam marga dari satu keturunan mereka. Mereka tetap mengatakan bahwa mereka keturunan “Nai Ambaton” siapa Nai Ambaton itu? Ya, asal dari marga Parna itu sendiri. Mereka lah siangkangan atau anak sulung dari Nai Ambataon atau keturunan dari Simbolon yang membuka huta di tanah Pakpak. Dan sekarang pun di daerah Manduamas (daerah Barus) ada daerah nama nya “Siambaton Napa” dan pemilik tanah itu adalah keturunan Siambataon dari si onom hudon. Itu contoh kecil nya.
Sekarang saya ambil contoh lain. Apakah Ismail dan Ishak tidak bersaudara? Jika ada yang mengatakan TIDAK, berarti orang tersebut tidak tahu sejarah. Siapakah Abraham? Sudah tentu Bapak dari kedua anak tersebut yang menjadi bangsa besar sampai sekarang, yaitu Israel dan Arab Saudi. Apakah bahasa mereka berbeda? Ya ….bahasa Arab dan Israel atau Yahudi berbeda, tetapi masih ada persamaan nya atau masih bisa ditarik asal bahasa tersebut. Jangankan bahasa, Bapak mereka saja sama atau satu Bapak. Apakah lae menentang nya? Silahkan buka kembali kitab perjanjian lama. Disitu dengan jelas disebutkan sejarah antara Ismail dan Ishak.
Dan apakah tulisan dari semua etnik Batak berbeda? Silahkan lihat sendiri lae, dan saya harap lae mempelajari nya. Dan jika lae tetap mengatakan bahwa Simalungun bukan Batak, itu terserah lae, tetapi sejarah bisa membuktikan nya bahwa Simalungun, karo, Pakpak, Mandailing adalah satu kesatuan dari Batak itu sendiri.
Yang ingin saya sampaikan disini di blog lae ini, jangan lah seperti di kejar-kejar orang Toba. Sebentar-sebantar isi menyudutkan orang Toba. Siapakah Sipayung itu? Siapakah Silahisabungan itu? Harus nya bersandar dari situ agar tidak menyudutkan saudara tua lae. Dan saya kira lae ada yang mengajarkan seperti itu, karena saya tahu lae bukan Simalungun asli, alias di beri marga Simalungun. Tetapi pemikiran lae seperti ada yang mem-brain wash, bahwa jelas sekali atau anti sekali dibilang orang Batak atau tidak mau dibilang Batak. Saya pun tidak menyuruh lae mengatakan HARUS menjadi orang Batak. Pelajari lah sejarah masa lalu suku-suku pedalaman yang ada di Sumatra Utara dan hargai lah Pomparan Silahisabungan, karena saudara tua atau keturunan Silahisabungan ada di Toba. Apakah orang Toba itu bukan orang Batak? Atau jangan-jangan lae bukan bagian dari Silahisabungan.
Dari sejarah yang saya sebutkan diatas bisa ditarik kesimpulan hubungan antroplogi sebagian keturunan manusia di tempat lain.
Botima sian ahu, lae mu na.
Horas, Njuah-juah, Mejuah-juah
sevilla99 berkata
Post #1
1 reply
Irawan Purba wroteon April 5, 2009 at 1:26am
menjadi orang simalungun menurut saya gimana ya… kira2 kata2 yang tepat enaknya menjadi orang simalungun apa ya..? mungkin kata yg tepat adalah indah. Ya, menjadi orang simalungun itu “INDAH”……
Bapak saya tidak pernah mau dikatakan orang batak, karena beliau adalah orang simalungun. Beliau sangat menyukai sejarah dan banyak literatur sejarah simalungun disimpannya bahkan sudah banyak buku yang ditulisnya mengenai simalungun. Terlebih mengenai adat istiadat simalungun.
Saya yang tidak begitu fasih berbahasa simalungun (dan terus marlajar..) terkadang sering mengamati jalannya adat dan ketika saya sendiri harus menjalani adat pernikahan, saya begitu bangga dengan adat simalungun.
Kebetulan istri saya berasal dari Toba dan pada saat itu pesta di pihak paranak. Adat Simalungun berjalan terlebih dahulu, kami sebagai pengantin (terlebih istri saya) harus manyurduk demban kepada seluruh keluarga yang maknanya adalah ‘tak kenal maka tak sayang’. Itulah moment untuk mengenal keluarga yang akan dimasukinya. Dan pada saat menyampaikan demban tidak ada tortor dan musik gondang yg hingar bingar, yang ada adalah pesan yg disampaikan dari mulut kami sendiri.
Sebuah makna yang dalam..
Adat simalungun menurut saya lebih sempurna dibanding adat lain tetangga simalungun.
Saya mengucapkan selamat atas terbentuknya The Simalunguners dari Cijantung, Jakarta. Mungkin yang di daerah tidak pernah terpikir untuk membentuk ini, mungkin karena jauh dari tanah leluhur membuat ini terlahir sebagai ungkapan rasa rindu kampung halaman.
The Simalunguners saya harapkan dapat menjadi penjaga keberlangsungan adat di luar simalungun terlebih di Pulau Jawa. Karena sepengamatan saya, orang simalungundi pulau Jawa sudah tidak menjalankan adat simalungun dengan benar dan jauh melenceng dari makna. Inti dari adat bukanlah kebiasaan, tetapi makna dari ritual itu sendiri.
Go Simalungun!!
Dikutip dari groups facebook : Simalungers
ditulis oleh Irawan Purba sekaligus menjawab Lawei Silalahi di atas
Chandra Hidorat berkata
Terima kasih atas dukungannya.
Kami, The Simalunguners dengan segenap akal budi, hati dan jiwa akan terus memodernkan keberadaan suku Simalungun di zaman Globalisasi.
Go!!! Simalungun Go!!!
rahmatzohar berkata
To; Laeniba SILAHISABUNGAN
horasssssssss
dari sini anda saya lihat membuat kesimpulan dari logika contohnya tentang amerika latin
jadi tanpa saya jabarkan mgkin anda sudah tahu bahwa salahsatu penduduk asli amerika itu adalah suku indian
dari semua artikel yang pernah saya baca,akhirnya saya berkesimpulan bahwa suku toba dpt diibaratkan dgn pendatang dari spanyol,portugis,yg mendiami benua amerika
selanjutnya suku simalungun,pakpak,dan atau karo diibaratkan sebagai suku indian
trus eropa yg gersang ibarat tapanuli yg gersang n daerah simalungun,pakpak,n karo yg subur ibarat benua amerika yg subur
whats your comments?????????????
horas,njuahjuah,mejuahjuah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!
sevilla99 berkata
@Saudara Rahmatzohar….
Pendatang dari India tepatnya Nagore itu masuk dari Pantai Cermin….
Jika Pakpak Dairi melalui buku yang ditulis oleh Mansehat Manik bahwa nenek moyang mereka masuk dari Barus (dekat Sibolga)…
Hmmm saya tidak mengatakan bahwa Karo dan Pakpak dari Simalungun koq….jangan mengikuti cara pihak Toba yang selalu mengklaim bahwa semua dari mereka…simalungun punya sejarah sendiri tentang asal mereka dan demikian juga dengan saudara dari pihak Toba,Karo,Mandailing maupun Pakpak..yang penting kita harus saling menghargai sejarah masing-masing jangan asal klaim…
Jadi Anda mau saya tulis bahwa Nenek Moyang Suku Bangsa Simalungun itu tiba-tiba jatuh dari langit di puncak gunung di Pulau Samosir?tentu lebih tidak masuk logika bro…..
Daerah Toba lebih ke dalam daratan jadi tidak mungkin orang dari dalam daratan lebih dahulu ada ketimbang yang di pesisir seperti daerah Simalungun…sekali lagi mohon dipake logikanya bro….
Diatei tupa ma
Robert Anthonius Sipayung berkata
Horas untuk semuanya.
Memasuki abad globalisasi banyak sekali diskusi/ wacana yang sifatnya pada penggalian identitas. Saya menawarkan sebuah pemikiran yang mungkin bermanfaat. Kepada yang mengaku keturunan silahisabungan mari kita memikirkan “Transformasi nilai-nila Dalihan Natolu”, dan “Sagu-sagu marlangan”.
Kita memasuki abad nanotechnology, saya pikir jauh lebih penting jika kita memikirkan sesuatu yang bermanfaat sehingga Silahisabungan menjadi berkat untuk perdamaian dan kesejahteraan.
Untuk rencana tersebut insya Allah, mulai bulan Juli tahun ini akan diadakan diskusi bulanan di daerah depok. Fokus diskusi Transformasi seperti apa yang kita inginkan. Kita sedang memikirkan sebuah karya yang bermanfaat untuk masyarakat yang lebih luas.
Mohon dukungan doa untuk rencana ini, mudah2an kedepan harmonisasi kita adalah menjadi berkat, bukan untuk mengatakan diri kita yang lebih baik dan lebih benar.
Terimakasih, Robert Anthonius Sipayung
@Lawei Robert Anthonius Sipayung,mohon gunakan istilah yang tepat….Di Simalungun tidak mengenal istilah Dalihan Na Tolu…yang ada Tolu Sahundulan…Diatei tupa ma Lawei Robert Anthonius Sipayung
Robert Anthonius Sipayung berkata
okelah lae, apapun namanya yang penting hakekatnya. Saya pikir seluruh puak batak menggunakan pola kekerabatan DNT yang penamaan dan penerapannya memang ada perbedaan untuk setiap puak. Jika di karo disebut kalimbubu, di simalungun di sebut tondong, dan di toba hula-hula. Hanya di suku bangsa batak pola itu berlaku, tetapi apapun itu dalam konteks globalisasi kita harus berjuang sekuat tenaga untuk merubah mentalitas/ pemikiran mencari perubahan ke mentalitas/ pemikiran membawa perubahan. Terimakasih atas informasinya.
Chris Manurung berkata
Horas!
@Sembiring
Saya hanya ingin memberi masukan mengenai marga dari Karo ini.
Menurut teman2 saya yang bermarga Sembiring,pada dasarnya Sembiring bisa dikelompokan jadi dua,Sembiring “simatangken biang”,asli Karo dan Sembiring “simangan biang” asal dari Toba,tepatnya dari keturunan Silahisabungan.Kebetulan teman2 saya yang bermarga Sembiring tsb adalah Sembiring “simangan biang” alias dari Toba.Sekian dulu dan mohon koreksi kalau ada komen yang salah.
Horasma!
danie saragih berkata
dikit ngasiy coment yah..
Simalungun itu Batak. Hanya kadang banyak yg alergi dgn kata batak karena selama ini BAtak diidentikkan dgn Toba termasuk dengan dongeng Pusuh Buhit yg menganggap Batak lain adalah subordinat dari batak Toba. Begitu pula dgn alasan mengapa banyak org Batak Karo yg tak sudi dipanggil BAtak.
Sedikit saya copy pste tulisan ttg itu ;
….KAlau seumpama orang Simalungun itu penulis buku “Poestaha Taringot to Tarombo ni Halak Batak (WH. Hutagalung), pasti;lah siraja batak itu diturunkan di Dolog Simarjarunjung bukan di pusuk buhit.
Saya tidak mau menulis yang serba masa lalu saja, tanpa ada pengayaan. Sejarah itu harus bermanfaat pada masa kini dan tidak melulu menjelaskan masa lalu tanpa interpretasi. Soal nagur, saya akan jelaskan nanti, saya akan unjukkan bahwa dia itu simalungun.
Siraja batak itu adalah pengayaan, betapa pintarnya WH Hutagalung yang membuat silisilah itu sehingga hingga kini (Simalungun, Karo, Angkola, Pak-pak dan Mandailing) masih saja diselimuti pertanyaan apa benar mereka Batak. Batak adalah sebutan orang belanda dalam rangka penamaan waliyah ini untuk keperluan administrasi. Ketika pengelana asing datang ke Sumatra Timur, mereka tidak mengunjungi pegunungan, melainkan pantai di selat malaka dan pantai barat (Barus) mereka menamai orang disana ‘Batta”. Oleh belanda nama itu dipakai untuk menunjukkan wilayah yang mereka kuasai (De-Bata (Toba dan Mandailing angkola), Di-Bata (Karo dan Pak-pak), Nai-Bata (Simalungun) ….
Ini tulisan dr Sejarahwan Erond Litno Damanik saat diskusi dgnnya.
Thanks
Dany Tupama Saragih
Antonius Sipayung berkata
Horas semuanya.
Ada yang menyebut puak-puak batak terdiri dari batak toba, simalungun, karo, dll. Satu hal yang perlu kita ingat saya kira adalah, ketika bersapa dengan sesama orang batak (puak-puak batak), kita akan panggil lae/silih, dll. Tetapi amat berbeda ketika bertemu dengan masyarakat minang, atau aceh. Saya kira ada kedekatan karakter antara semua puak-puak.
Bagi saya pribadi, semua yang menganut dalihan na tolu adalah suku bangsa batak. Dalam jaman global yang tengah berlangsung sekarang ini, bagi saya pribadi siapa (individu/kelompok) yang mau memegang tanggung jawab atas masa depan peradaban batak “Menjadi berkat untuk perdamaian dan kesejahteraan komunitas marga puak-puak batak” dialah batak. Saya pikir konsep karya nyata itu jauh lebih penting, apakah masyarakat batak ini mampu membuat 1 dollar US jadi Rp. 2500. Ini hanya analogi, tapi pikir persoalan kita adalah karya nyata, bukan pemikiran-pemikiran semu. Lagi pula perlu kita sadari, saat ini kita memasuku abad nanotechnology, dimana setiap unsur bisa memberikan fungsi yang lebih jika dikondisikan demikian. Saya berharap diskusi dan pemikiran “Menjadi berkat untuk perdamaian dan kesejahteraan” akan semakin mekar.
Horas, newspayung@yahoo.com
Jonnedi Haloho berkata
Judul dari diskusi ini adalah Silahisabungan = Silalahi
Tolong yang bisa menjelskan, terutama lawei Sevilla,apakah pernyataan ini adalah benar, Mauliate/Bujur/diateitupa ma. Horas,mejuah-juah
dori girsang berkata
kalo di karo ada dua jenis sembiring
sembiring si ngombak,yg mana mereka melarungkan debu mayat ke aer ( lau biang) mereka ini memang asli datang dari dari india,mereka ini sembiring meliala,gurukinayan,pandia,maha,brahmana,depari
dan mereka datang ke karo dan menempati desa seberaya
dan sembiring yng tidak melarungkan debu mayat ke aer
mereka ini turunan dari silalahi
itu maka nya kenapa di marga sembiring bisa saling mengawani,karena tidak ada keterkaitan sama sekali asal muasal mereka.gitu lah dulu dari aku
JONNEDI HALOHO berkata
Lawei Girsang, Kalau Sembiring Meliala adalah dari Sidebang, karena saya sudah pernah langsung komikasi dengan marga Sidebang bahwa keturunannya di Tanah Karo adalah Sembiring Meliala, Sembiring Maha asalnya dari Pak-pak turunan dari Ruma Singap anak dari Sondi Raja, Sembiring Pandia adalah turunan dari Situngkir yang tinggalnya di Silalahi Nabolak atau yang di paropo, karena saya telah ngobrol dengan salah satu marga sembiring pandia katanya mereka adalah dari Paropo, tapi menurut saya, yang bukan keturunan Raja Silahisabungan adalah, Sembiring Depari, Sembiring Brahmana dan Sembiring Colia, mereka ini mengharamkan anjing berwarna hitam karena ada seekor anjing hitam pernah menyelmatkan jiwa mereka dari ancaman musuh, sehingga mereka tidak mau makan anjing khususnya berwarna hitam.