Simalungun adalah salah satu suku di Sumatra Utara dengan letaknya di bagian timur dari Danau Toba.
Dibanding suku Batak Toba,Tata masyarakat Simalungun sudah rapi sedemikian rupa karena jaman feodal telah dimulai di Tanah Simalungun sejak Kerajaan Nagur terbentuk,sedemikian kuatnya Kerajaan Nagur sehingga membuat Kerajaan Singosari yang berkuasa di sekitaran Malang-Jawa Timur ngiler untuk menguasai Kerajaan Nagur,namun ekspedisi tsb gagal dan para tentara yang dikirimkan oleh Kerajaan Singosari tidak dapat pulang dan berdiam Tanah Simalungun,kemudian membentuk Tanah Jawa dan kebanyakkan dimargakan ke Sinaga.Jadi beberapa orang bermarga Sinaga yang berdiam di Tanah Jawa bisa dipastikan merupakan keturunan hasil percampuran antara pasukan Singosari dan boru Simalungun di daerah tersebut.
Saat ini Sejarah Simalungun banyak dipengaruhi oleh para ahli sejarah dari pihak Toba sehingga selalu diceritakan bahwa marga-marga yang ada di Simalungun adalah hasil diaspora dari Toba,saya tidak percaya akan hal ini karena para raja yang berkuasa di Tanah Simalungun adalah pendatang dari Nagore-India.
Marga Damanik saya yakin merupakan pendatang langsung dari India,mengenai keterkaitannya dengan marga Manik,Ambarita,Limbong,Silau dan Malau adalah hasil asimilasi 5 marga Toba tersebut dengan marga Damanik penguasa Raya agar bisa tinggal dan menetap di Raya,Simalungun.Jadi marga Damanik adalah marga yang berdiri sendiri dan tidak ada kaitan dengan marga Manik,Ambarita,Limbong,Silau dan Malau di Toba.Hal ini juga sama dengan marga Manik di Pakpak Dairi yang sesungguhnya tidak ada hubungan dengan marga Damanik di Simalungun,Marga Manik,Silau,Malau,Limbong dana Ambarita yang berasal dari Toba.
Simalungun mempunyai makanan khas yang hanya bisa kita temukan di Simalungun saja karena tidak terdapat di Toba,Karo,Pakpak,Mandailing,Angkola,Nias dan Melayu Deli yaitu Dayok Binatur,ayam kampung jantan yang dipotong sedemikian rupa sehingga membentuk posisi ayam ketika hidup.Dayok Binatur adalah makanan adat yang diberikan sebagai syukuran atas suatu pernikahan,pekerjaan maupun syukuran karena lolos dari kecelakaan.
Saya juga melihat bagaimana mungkin marga Purba di Simalungun yang terdiri dari 12 cabang marga bisa menjadi cabang dari Purba Sigulang Batu.Jika marga Purba di Simalungun adalah cabang dari Purba Sigulang Batu di Toba maka harusnya marga Purba di Toba pun harus raja di sana.Saya rasa hal di atas hanya untuk menonjolkan kekuasaan Toba atas Simalungun.Padahal tidak ada satu pun marga Purba di Toba yang pernah menjadi raja atas tanahnya di Toba seperti Purba Tambak,Purba Girsang dan Purba Dasuha yang pernah menjadi raja di beberapa kecamatan di Simalungun.Hal ini sangat lucu bagi saya…harusnya Purba di Toba-lah yang manjadi cabang marga dari Purba Toba..Kayaknya sejarah marga dari Toba tidak bisa dipercaya dan hanya rekaan semata.
Suku Simalungun adalah suku yang lebih banyak merendah dalam pergaulan sehingga sejarah mereka pun seakan-akan diatur oleh Toba demikian juga dengan Bahasa Simalungun juga makin tersisih oleh dominasi Toba membuat orang Simalungun terpaksa harus belajar bahasa Toba,jika tidak dilindungi maka bisa dipastikan Bahasa Simalungun akan segera hilang dan hanya akan menjadi bahasa yang digunakan oleh liturgi Gereja Kristen Prostestan Simalungun.Jika ada 4orang duduk bersama yang mana 3 orang merupakan orang Simalungun dan 1 orang Toba maka 3 orang Simalungun ini seakan-akan lupa dengan bahasa asli mereka yaitu bahasa Simalungun dan menggunakan bahasa Toba demi menjaga perasaan teman mereka 1orang Toba ini.Ini hanya demi 1orang Toba apalagi kalo orang Tobanya banyak?pasti dengan cepat bahasa Simalungun akan tergusur.Sangat disayangkan..
Di Simalungun sebelum dihapus oleh pihak Gereja dahulu mempunyai tingkatan Kasta yang mana tidak terdapat dalam struktur masyarakat Toba yaitu Kasta Partuanon yang merupakan kasta raja & bangsawan,Kasta Paruma yang merupakan rakyat kebanyakkan/umum dan Kasta Jabolon yang merupakan kasta budak.Antara 3 Kasta tahu posisi mereka sehingga sejak jaman dahulu masyarakat Simalungun sudah di bawah kekuasaan Feodal yang membentuk masyarakatnya lebih teratur dibanding Toba yang tidak teratur dan hanya diikat dengan marga.
Karena sudah lama dibentuk dalam kekuasaan Feodal membuat bahasa yang digunakan oleh Simalungun juga dibagi atas 4 yaitu :
1.Bahasa tingkatan yaitu bahasa yang digunakan kepada Raja/Bangsawan seperti Modom (wafat) yang digunakan untuk kepada Raja/Bangsawan dan Mate untuk rakyat biasa atau juga penggunaan kata Beta (saya) untuk kepada/dari Raja/Bangsawan dan Au untuk kalangan rakyat biasa..Bahasa tingkatan ini tidak terdapat pada suku lain seperti Suku Toba.
Lalu bahasa berdasarkan tingkatan Usia,misalnya Ho (Kamu) dipakai untuk yang lebih tua sedangkan yang lebih muda menggunakan Ham (Kamu),Hanima (kalian) untuk sekelompok orang yang lebih muda dan Nasiam (kalian) untuk sekelompok orang yang lebih tua.
2.Bahasa Ratap Tangis.
3.Bahasa Simbol.
4.Bahasa Datu atau Guru biasa bahasa mantra.